Jumat, 5 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Mengulik Keunikan Syair Dendang Singkil

SETIAP suku bangsa pasti memiliki ciri khas budayanya masing-masing, tak terkecuali suku Singkil yang mendominasi penduduk di Kabupaten Aceh Singkil d

Tayang:
Editor: hasyim
IST
MUZIRUL QADHI Kabid Litbang Yayasan Pelestarian Kebudayaan Suku Singkil (Yapkessi), Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), dan Mahasiswa STKIP BBG Banda Aceh, melaporkan dari Singkil 

Kita dibawa ke alam khayal untuk mengimajinasikan kejadian dan kisah-kisah yang terjadi di lingkungan kita. Tak jarang pula penyair/penendang menyinggung ulah pemimpin di daerahnya, mungkin istilah bahasa sekarang adalah mengkritisi kebijakan pemerintah.

Ada kenikmatan tersendiri bagi pendengar dendang tersebut, bahkan bisa membuat kita tertidur lelap, makanya kaum emak  Singkil kerap membawakan syair dendang dalam ayunan anaknya agar anaknya dapat tertidur pulas.

Dalam mendendang topiknya tidak mesti harus tentang kisah hidup, tapi juga bisa berupa doa dan selawat dengan irama dendang.

Jadi, jika Anda sudah pernah ke Subulussalam atau Singkil, Anda akan mendengar ibu-ibu sedang berdendang di rumahnya, bahkan juga lebih asyik dilantunkan di kebun atau persawahan sembari menjaga padi dan tanaman kebun lainnya. Tapi itu dendang yang dilakoni sendiri-sendiri, bukan dalam bentuk regu.

Di Aceh sendiri ada beberapa suku yang memiliki khazanah budaya yang mirip dengan dendang Singkil, seperti didong Gayo dan sya'e Aceh (hikayat).

Dendang Singkil sendiri umumnya dilantunkan pada saat acara pesta pernikahan, khitanan, dan acara  besar lainya, bahkan medendang ini bisa dilakukan semalam suntuk hingga terbit fajar.

Hanya dengan berbekal sepiring kudapan, kopi, dan sirih para personel bisa membawakan alunan dendang hingga fajar di menyingsing.

 Inilah adat tradisi Singkil yang telah lahir ratusan tahun lalu, tapi kini dendang sudah jarang ditampilkandalam acara acara hajatan, mengingat seiring perkembangan zaman, grup orkestra atau organ tunggal (kibor) pun bertebaran dan mulai mendominasi panggung hiburan pada acara-acara hajatan, terutama saat resepsi pernikahan. Ditambah lagi dendang Singkil ini tidak ada sanggar khusus yang melahirkan generasi penerus mahir berdendang. Paling-paling hanya belajar secara personal atau otodidak, itu pun sulit. Sehingga dalam grup dendang personelnya kebanyakan adalah bapak-bapak yang sudah berusia lanjut. Jarang sekali kita lihat anak-anak muda di wilayah Singkil dan Subulussalam yang bisa medendang. Jika pun ada ya paling hanya sebagai pengiring musik atau pun penari yang mengiringi musik dendang. Karena ada juga di dalam penampilan dendang dimasukkan tarian-tarian daerah seperti tari piring, tari biahat, tari adok, dan beberapa tarian lainnya.

Sebenarnya dendang ini pun ada beberapa versi, ada dendang Minang atau ratoh Minang, ada pula dendang Melayu. Untuk suku Singkil dendang Singkil menggunakan bahasa Singkil, berbeda pula dengan dendang pesisir dan dendang Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil yang menggunakan bahasa Minang (Jamee). Meskipun tujuan dendangnya sama, tetapi alat musiknya ada yang berbeda. Misalnya dendang Pulau Banyak, selain menggunakan bahasa Minang mereka juga menggunakan alat musik biola dan rebana.

Bahkan di Minangkabau dendang ini cukup eksis. Dalam pengertian orang Minang, dendang merupakan salah satu tradisi bercerita masyarakat Minangkabau.

 Menurut Mahyudin (1976), dendang berasal dari kata 'den indang' yang artinya 'saya asuh'. Indang, selain mempunyai arti 'mengasuh' juga bermakna 'menampin', yaitu memisahkan beras dari atah dengan cara mengayun-ayunkan nyiru secara terus-menerus.

 Yang dimaksud dengan makna  mengasuh, adalah mengasuh anak dengan cara mengayun-ayunkan anak sambil mengeluarkan kata-kata yang bertujuan mendiamkan si anak agar tidak menangis. Kata-kata yang dikeluarkan secara berulang-ulang itu menimbulkan irama khusus. Irama inilah yang berkembang menjadi dendang.

Selain Pulau Sumatra khususnya Singkil, Maluku Utara juga memiliki dendang yang telah terdaftar di Kemdikbud Republik Indonesia dengan nomor registrasi 2016006628. Di itu dijelaskan bahwa dendang adalah tarian yang pada mulanya hanyalah merupakan lantunan syair-syair pantun sindiran dan ungkapan rasa kesedihan yang diungkapkan oleh para keluarga dan kerabat dekat yang sedang bermusuhan atau tidak saling bicara antara satu dengan lainnya.

Maka pada saat acara keluarga seperti acara pengantin atau acara keluarga lainnya, ungkapan syair dan pantun sindiran tersebut dilantunkan kepada keluarga atau kerabat yang sedang bermusuhan tersebut, yaitu dengan mendatangi rumahnya atau ketika yang bersangkutan hadir tanpa diundang pada acara tersebut. Maka di situlah

terucap kata-tata syair penuh makna sindiran dan ungkapan kesedihan antara keluarga yang bersikukuh. Bagaimana pendapat Anda, apakah teman-teman penasaran dengan dendang Singkil?

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved