Berita Budaya
Seniman Aceh, Lahirkan 2000 Karya Musikalisasi Puisi, Ini Hasil Karyanya
Puisi berjudul "Rajawali" begitu mengentak dibawakan dalam format musikalisasi puisi oleh Rahmad Sanjaya bersama Kelompok Musik BATAS....
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
Seniman Aceh, Lahirkan 2000 Karya Musikalisasi Puisi, Ini Hasil Karyanya
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Puisi berjudul "Rajawali" begitu mengentak dibawakan dalam format musikalisasi puisi oleh Rahmad Sanjaya bersama Kelompok Musik BATAS. Dipadukan dengan atraksi debus, seni kebal dari Aceh yang sangat ekspresi oleh Nazar Debus.
Rahmad Sanjaya --akrab dipanggil Bang Jay atau Jaya-- membawakan sendiri puisi tersebut ditimpal Iwan Setiawan vokalis dan pembaca puisi. Iwan pekerja seni Aceh yang belakangan aktif berdakwah di kalangan anak muda.
Video musikalisasi "Rajawali" karya Rahmad Sanjaya tersebut kemudian beredar luas melalui laman YouTube dan media sosial.
"Itu salah satu karya dari 2000 lebih karya musikalisasi puisi yang pernah saya ciptakan," kata Jaya dalam percakapan dengan serambinews.com, Senin (23/9/2019).
Jaya, salah seorang pelopor genre musikalisasi puisi di Aceh mulai terlibat aktif sejak 1987.
"Dokumentasi saya tidak begitu rapi. Jadi ada karya-karya yang tersebar di beberapa kawan, yang saya sendiri tidak hafal," kata Jaya.
Jaya pernah hijarah ke Jakarta. Mengembangkan sayap berkesenian. Tapi kemdian ia memilih pulang ke Banda Aceh dan menetap sampai sekarang di kota itu. Ia menulis puisi, menciptakan karya musikalisasi puisi, menulis seni, menjadi juri, Nara sumber dan banyak aktivitas lainnya.
BMKG Pastikan Seluruh Aceh Diselimuti Kabut Asap Karhutla
Kabut Asap Pekat, Penerbangan di Bandara SIM Aceh Besar Belum Ada Batal
MAG Usulkan Pemkab Aceh Tengah Terapkan Sehari Berbahasa Gayo, Ini Pertimbangannya
"Saya menikmati semuanya sebagai bagian dari kehidupan kita," kata Jaya yang selalu menempatkan diri mengantar jemput putranya ke sekolah setiap hari.
"Itu bagian dari perjalanan. Anak adalah cahaya yang harus kita rawat dan bina, sejak dini. Saya usahakan betul mengurusi anak-anak sampai ke antar-jemput. Saya lakukan dengan gembira," katanya.
Rahmad Sanjaya lahir di Takengon (Aceh Tengah), 1972. Kiprahnya dalam dunia seni dimulai sejak umur 5 tahun. Pertama kali ia diperkenalkan dalam dunia seni lukis di kota kelahirannya.
Pada 1983 dia diajarkan bermain gitar oleh ayahnya. Empat tahun kemudian, pada 1987 Jaya mulai membuat puisi.
Pindah ke Banda Aceh melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi. Ia masuk Fakultas Teknik jurusan Teknik Sipil. Seiring dengan kepindahannya ke ibukota Provinsi Aceh, Jaya mulai bersinggungan dengan dunia kesenan di Banda Aceh.
Wow, TPK Sekda Aceh Diusul Rp 35 Juta Sebulan, Naik 100 Persen dari sebelumnya Rp 17,5 Juta
Wamena Rusuh, Rentetan Suara Tembakan Terdengar, Sejumlah Bangunan Dibakar
Tahun 1990 bergabung dengan Teater Mata pimpinan almarhum Maskirbi. Jaya mulai bermain dalam beberapa naskah drama dan menggarap musik teater, untuk kepentingan pertunjukan Teater Mata, Teatar Krya Artistika dan Teater Kosong.
Sebagai penyair, Jaya di undang ke Malaysia dan dikukuhkan oleh Dewan Kesenian Jakarta menjadi Penyair Abad 21 di tahun 1996. Puisi-puisinya terhimpun dalam Antologi Sosok (1992), Nafas Tanah Rencong (1992), Antologi Batu Malang (1993), Antologi Seulawah;Antologi Aceh Sekilas Pintas (1995), Mimbar penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Dalam Beku Waktu (2002), Antologi Putroe Phang (2002), Antologi Tanah Pilih (2008) dan Ensiklopedi Aceh (2008), serta Ensiklopedi penyair, penari pelukis dan teater Aceh (2009). Dan masih banyak yang lainnya hingga 2019.
Sedangkan puisi dalam bentuk Musikalisasi Puisi terdapat dalam album: Himne Bagimu Ibu, Luka, Khibast2000, Kehidupan I dan 2 (1999-2000). Ditahun 2009 dia membuat Album musikalisasi puisi bertajuk “Jaya” (Komunitas Musik Merdeka) yang di rekam dalam CD Audio.
BMKG: Jarak Pandang Asap di Aceh Barat 2 Kilometer, Penerbangan ke Bandara Nagan Raya Gagal Mendarat
Pendiri Bengkel Musik Batas (1989), Khibast2000 (1997), Komunitas Musik Merdeka (1998) Asosiasi Seniman Aceh Indonesia – ASAI (1998) dan Komunitas Rumah Sawah (2006) ini telah mengaransmen 2000 an lebih puisi ke dalam bentuk komposisi Musikalisasi Puisi sejak tahun 1987 - 2019.
Dalam organisasi kesenian Direktur Komunitas Rumah Sawah (KRS) ini pernah menjabat Sekretaris Dewan Pengawas Dewan Kesenian-DKA (2000-2005), Wakil Ketua II Bidang Program DKA (2006-2007), Ketua Umum Komunitas Musik Merdeka Indonesia (2001- sampai sekarang), dia juga tercatat sebagai eartawan. Sebagai seniman yang terus aktif, Rahmad Sanjaya tercatat dalam Buku Pintar sastra Indonesia (2001).(*)
Kabut Asap kian Parah, Panglima Laot Aceh Imbau Nelayan tak Melaut Terlalu Jauh
Pelaku Sejarah Minta DPRK Banda Aceh Lahirkan Qanun Cagar Budaya
Polisi Amankan Satu Orang Terduga Teroris Jaringan JAD di Cilincing
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rahmad-sanjaya-penyair-aceh.jpg)