Jurnalisme Warga

Konsep Perdamaian dan Resolusi Konflik ala Abu Panton

KAMIS lalu sekitar pukul 10.42 WIB, sebuah pesan WhatsApp masuk ke handphone saya bertuliskan “selamat” serta foto screen shot layar

Konsep Perdamaian dan Resolusi Konflik ala Abu Panton
IST
ZARKASYI YUSUF, alumnus Dayah Teungku Chik di Reung-Reung Kembang Tanjong, Pidie, ASN pada Kanwil Kemenag Aceh, melaporkan dari Sigli

OLEH ZARKASYI YUSUF, alumnus Dayah Teungku Chik di Reung-Reung Kembang Tanjong, Pidie, ASN pada Kanwil Kemenag Aceh, melaporkan dari Sigli

KAMIS lalu sekitar pukul 10.42 WIB, sebuah pesan WhatsApp masuk ke handphone saya bertuliskan “selamat” serta foto screen shot layar yang berisi pengumuman. Karena penasaran, saya pun segera mengakses internet untuk melihat isi pengumuman tersebut pada laman https://ditpdpontren.kemenag.go.id/web/pendaftaran-muktamar-pesantren. Pengumuman tersebut berisi informasi naskah paper yang diterima dan jadwal presentasinya.

Ternyata, paper yang saya kirimkan pada 10 September 2019 untuk Muktamar Pemikiran Santri Nusantara (MPSN) 2019 diterima oleh panitia.

Panitia pelaksana MPSN adalah Direktorat Pendidikan Diniah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Republik Indonesia. Paper saya tersebut berjudul, “Pesan Dayah untuk Perdamaian; Kontribusi Pemikiran Abu Panton tentang Perdamaian dan Resolusi Konflik”. Seperti diketahui, Allah Yarham Abu Panton adalah Pimpinan Dayah Malikussaleh Pantonlabu, Aceh Utara, pernah menjabat Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) pada awal berdirinya.

Call for paper untuk MPSN 2019 mengusung tema besar “Santri Mendunia: Tradisi, Eksistensi, dan Perdamaian Global dengan tujuh subtema, yaitu Santri dan Wajah Ramah Pesantren di Dunia, Pedagogik Pesantren dan Perdamaian Dunia, Modalitas Pesantren dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia (Pesantren’s Capitals in Promoting Peaceful), Pesantren dan Resolusi Konflik, Santri, Cyber War, dan Soft Literacy, Akar Moderasi dan Perdamaian (as-Silm) dalam Tradisi Kitab Kuning, serta Kesusastraan dan Pesan Damai Pesantren.

MPSN 2019 diadakan untuk merespons perkembangan di atas, mengundang para santri, akademisi, dan masyarakat luas untuk menuangkan gagasan tertulis tentang pesantren dan isu-isu kekinian tentang perdamaian dunia. Sebanyak 547 paper yang masuk, setelah diseleksi panitia, akhirnya ditetapkan 126 paper yang dinyatakan lulus dan memenuhi syarat untuk dipresentasikan pada MPSN 2019 yang diadakan 28-30 September 2019 di Pondok Pesantren as-Shidiqiyah Kebon Jeruk Jakarta Utara. Paper yang saya presentasikan adalah penjabaran dari subjudul Modalitas Pesantren dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia dengan menampilkan pemikiran Abu Panton terkait perdamaian dan resolusi konflik.

Sabtu, 28 September 2019 saya berangkat ke Jakarta. Saat presentasi, saya bersama dengan 18 peserta lainnya berada di kelas Modalitas Pesantren dalam mewujudkan perdamaian dunia. Terkait perdamaian, Abu Panton berpendapat bahwa kedudukan perdamaian dalam adat Aceh tidak berbeda dengan kedudukannya dalam hukum Islam, ajaran mengenai perdamaian lebih dahulu menekankan pentingnya menghindari konflik, segala upaya dan cara harus dilakukan agar konflik tidak bakal terjadi. Di samping itu, untuk mewujudkan perdamaian dapat dilakukan dengan mencegah seseorang melakukan aktivitas (lisan dan perbuatan) yang berdampak pada penghinaan pribadi dan kelompok, sesuai dengan pesan hadih maja, “Pantang peudeng meulinteung sarong, pantang rincong meubalek mata, pantang ureung di teuoh kawom, pantang hukom peujeut peukara (pantang pedang terbalik sarungnya, pantang rencong terbalik matanya, pantang seseorang disebut [kejelekan] kaumnya, pantang pada hukum melahirkan perkara baru).”

Terkait resolusi konflik, Abu berpendapat tujuan penyelesaian konflik sebenarnya adalah mencari kedamaian kedua pihak yang bertikai, perdamaian bukan sarana dan ajang untuk balas dendam, melainkan sebuah kesempatan untuk memperbaiki keadaan yang sudah telanjur terjadi.  Dalam penyelesaian konflik, Abu Panton juga berpendapat agar tidak mengabaikan fakta yang terjadi, sesuai dengan pesan hadih maja “Luka tasipat, darah tasuka” (luka diukur, darah ditakar). Maksudnya, seandainya terjadi kejahatan yang menimbulkan luka atau pertumpahan darah, maka penyelesaiannya sama sekali tidak mengabaikan fakta yang terjadi. Penyelesaian lebih diarahkan untuk mengganti kerugian luka atau darah, bukan dalam bentuk balas dendam, diyakini bahwa balas dendam justru hanya akan melahirkan konflik baru yang akan menggangu proses penyelesaian konflik dan perdamaian untuk kemaslahatan bersama. Inilah beberapa poin penting yang saya presentasikan pada MPSN 2019 di Jakarta.

MPSN merupakan salah satu rangkaian menyambut Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober. MPSN adalah salah satu cara yang dilakukan oleh Kementerian Agama untuk menggali nilai-nilai pesantren (teungku/kiai, santri, dan model pendidikan) untuk dijadikan role model dan problem solving  terhadap permasalahna yang berkembang dan terjadi dalam masyarakat. MPSN 2019 dibuka langsung oleh Menteri Agama pada 28 September 2019 pukul 15.30 WIB di Pondok Pesantren as-Shidiqiyah.

Menteri Agama berharap agar santri menjadi pelopor perdamaian dunia, “Santri, kita tahu, memiliki rekam jejak yang menonjol terkait kebudayaan dan segala relasinya terhadap pembangunan bangsa ini,” kata Lukman Hakim Saifuddin saat membuka acara.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Islam Kementerian Agama RI menyampaikan bahwa peringatan Hari Santri merupakan upaya menginternasionalisasikan model Islam tradisional Indonesia yang penuh cinta damai. “Muktamar Pemikiran Santri ini memberikan kepahaman kepada masyarakat umum dan internasional bahwa pesantren adalah role model sempurna dalam gagasan perdamaian dunia,” demikian Kamaruddin Amin.

MPSN merupakan kegiatan yang sudah dijadwalkan secara periodik setiap tahun menjelang peringatan Hari Santri Nusantara. Semoga tahun depan akan banyak teungku dan santri dayah di Aceh yang dapat berpartispasi dengan ide-ide baru dalam rangka memberitahukan kepada dunia bahwa dayah adalah salah satu model pendidikan tertua, berkontribusi besar bagi republik ini, dan konsep pendidikannya telah mendunia.

Semoga pesan Abu Panton dalam menjaga perdamaian dan resolusi konflik bermamfaat, agar kedamaian dan ketenteraman dapat selalu hadir di Aceh pada khususnya dan Nusantara pada umumnya. Selamat Hari Santri Nasional!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved