Breaking News:

Berita Banda Aceh

Jadi Pemicu Kanker, Produk Ranitidin Mulai Ditarik dari Pasaran

Beberapa Pedagang Besar Farmasi (PBF) atau distributor obat di Aceh sudah mulai menarik obat asam lambung mengandung ranitidin dari pasaran.

Tribunnews.com
Ranitidin. 

Laporan Mawaddatul Husna | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Beberapa Pedagang Besar Farmasi (PBF) atau distributor obat di Aceh sudah mulai menarik obat asam lambung mengandung ranitidin dari pasaran.

Hal tersebut sesuai edaran beberapa waktu lalu, jika obat tersebut terkontaminasi N-Nitrosodimenthylamine (NDMA) yang dikaitkan dengan risiko kanker.

"Untuk di daerah ditarik oleh distributor obat sebagai perpanjangan tangan pabrik. Surat perintah penarikannya baru beberapa hari, tapi ada beberapa PBF yang sudah mengamankan produk tersebut," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Banda Aceh, Zulkifli yang dikonfirmasi Serambinews.com, Senin (7/10/2019).

Ia menjelaskan perintah penarikan tersebut dilakukan karena US Food and Drug Administration (US FDA) dan European Medicine Agency (EMA) mengeluarkan peringatan tentang adanya temuan cemaran NDMA dalam jumlah yang relatif kecil pada sampel produk yang mengandung bahan aktif ranitidin, dimana NDMA merupakan turunan zat Nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami.

Studi global memutuskan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 ng/hari (acceptable daily intake), bersifat karsinogenik jika dikonsumsi di atas ambang batas secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama.

Hal inilah dijadikan dasar oleh BPOM dalam mengawal keamanan obat yang beredar di Indonesia.

Baca: Obat Asam Lambung Ranitidine Disebut Mengandung Zat Penyebab Kanker, Begini Respon BPOM

Baca: Jadi Jus Andalan Citra Kirana, Ternyata Ini 7 Manfaat Tak Terduga Jus Peterseli: Bisa Cegah Kanker!

Baca: Sosis dan Daging Merah Disebut Bisa Sebabkan Kanker, Benarkah? Ini Penelitian Terbaru

Zulkifli menambahkan dalam rangka kehati-hatian, BPOM telah menerbitkan Informasi Awal untuk Tenaga Profesional Kesehatan pada 17 September 2019 terkait Keamanan Produk Ranitidin yang terkontaminasi NDMA.

BPOM saat ini sedang melakukan pengambilan dan pengujian beberapa sampel produk ranitidin.

Hasil uji sebagian sampel mengandung cemaran NDMA dengan jumlah yang melebihi batas yang diperbolehkan.

Pengujian dan kajian risiko akan dilanjutkan terhadap seluruh produk yang mengandung ranitidin.

Berdasarkan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan, BPOM memerintahkan industri farmasi pemegang izin edar produk tersebut untuk melakukan penghentian produksi dan distribusi serta melakukan penarikan kembali (recall) seluruh bets produk dari peredaran.

"Pabriknya diperintahkan untuk melakukan penarikan melalui distributornya di daerah. BPOM hanya memantau apa distributornya sudah menarik atau tidak. Penarikan produk itu ada dua, pertama penarikan oleh pabrik, dan kedua penarikan oleh pemerintah. Sekarang adalah kewajiban pabrik yang menarik, karena nanti pabrik harus melapor ke Badan POM," jelas Zulkifli. (*)

Penulis: Mawaddatul Husna
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved