Kesehatan

Sosis dan Daging Merah Disebut Bisa Sebabkan Kanker, Benarkah? Ini Penelitian Terbaru

Mereka memeringatkan bahwa laporan itu bisa menimbulkan risiko bagi kesehatan masyarakat.

Sosis dan Daging Merah Disebut Bisa Sebabkan Kanker, Benarkah? Ini Penelitian Terbaru
Daging Olahan 

Sosis dan Daging Merah Disebut Bisa Sebabkan Kanker, Benarkah? Ini Penelitian Terbaru

SERAMBINEWS.COM - Sebuah studi akademis yang kontroversial kembali mengundang perdebatan tentang apakah daging merah dan daging olahan bisa menyebabkan kanker dan penyakit jantung atau tidak.

Para peneliti sendiri merekomendasikan masyarakat untuk tetap makan daging dalam jumlah yang sama.

Dipimpin oleh Universitas Dalhousie dan Universitas McMaster di Kanada dan diterbitkan dalam jurnal Annals of Internal Medicine, temuan itu membuat para profesional kesehatan di seluruh dunia marah.

Mereka memeringatkan bahwa laporan itu bisa menimbulkan risiko bagi kesehatan masyarakat.

Temuan paling kontroversial - bahwa risiko makan daging merah ternyata minimal, dan bahwa bukti untuk membuktikan risiko itu nyata terlalu lemah -bertentangan dengan saran badan kesehatan di seluruh dunia, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Baca: Ini Tiga Tokoh yang tidak Setuju Presiden Jokowi Terbitkan Perppu KPK Beserta Alasannya

Baca: Daftar Harta Kekayaan Lora Fadil, Anggota DPR Yang Jadi Sorotan Bawa 3 dan Tertidur di Pelantikan

"Kami tak mengatakan tidak ada risiko. Kami mengatakan hanya ada bukti dengan kepastian rendah tentang pengurangan kanker yang sangat kecil dan konsekuensi kesehatan merugikan lainnya dari pengurangan konsumsi daging merah," kata salah satu peneliti, Associate Professor Bradley Johnston.

"Pilihan yang tepat untuk sebagian besar orang, tetapi tak semuanya, adalah melanjutkan konsumsi daging mereka."

Badan Internasional untuk Penelitian Kanker dari WHO (IARC) menjadi berita utama global pada tahun 2015 ketika menemukan bahwa daging olahan adalah "karsinogen bagi manusia" dan bahwa mengkonsumsi daging merah "bisa jadi bersifat karsinogenik".

Temuan ini disusun oleh 14 peneliti di tujuh negara selama tiga tahun. Peneliti yang terlibat diperiksa untuk kemungkinan adanya konflik kepentingan, dan studi itu tak memiliki pendanaan eksternal.

Halaman
1234
Editor: Amirullah
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved