Jurnalisme Warga
Pengembangan Produk Ekowisata Lembah Brayeun
DUA bus pariwisata, hijau dan ungu, bergerak perlahan dari Kumala Hotel, Ulee Kareng, Banda Aceh menuju Leupung, Aceh Besar
OLEH AYU ‘ULYA, Pengurus Bidang SDM Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Aceh dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, melaporkan dari Aceh Besar
DUA bus pariwisata, hijau dan ungu, bergerak perlahan dari Kumala Hotel, Ulee Kareng, Banda Aceh menuju Leupung, Aceh Besar, Rabu lalu. Kedua bus tersebut mengangkut 50 peserta Pelatihan Peningkatan SDM Pengelola Objek Wisata Alam yang melakukan praktik lapangan (field trip) di objek wisata Lembah Brayeun sebagai bagian akhir rangkaian kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh selama tiga hari.
Menempuh jarak sekitar 22 km, kedua bus itu awalnya melaju dengan cepat dan nyaman. Sesekali mata pun dimanjakan dengan pemandangan pegunungan yang diselimuti bebatuan layaknya pemandangan Lembah Harau Minangkabau.
Hingga ketika dipertemukan lorong dengan papan arah lokasi wisata yang dituju, kedua bus besar itu pun perlahan mulai berlenggak-lenggok, menyeimbangkan badan, dan juga berat para penumpang, menelusuri jalan sempit yang dihiasi pecahan aspal dan becek yang dihasilkan dari nganga lubang-lubang jalanan yang terendam hujan.
Sesekali terdengar pula gemeletek ban yang dipaksa henti rem kaki sopir saat melewati belokan-belokan jalan yang sedikit lebih lebar dari satu depa pria dewasa. Tampak raut wajah gugup peserta yang sesekali menahan napas sembari lamat-lamat menatap ban bus, dari balik jendela kaca yang menggilas pinggir jalan, nyaris menyentuh sisi selokan lebar atau genangan payau curam. Namun, ternyata track singkat yang memicu adrenalin tersebut tetap tidak dapat menutupi pesona megahnya Bukit Barisan sehijau zamrud dan indahnya hamparan padi di persawahan warga sepanjang mata memandang.
Selang tak berapa lama, gemuruh air lembah Brayeun yang mengalir, menganak sungai, mulai terdengar jelas. Bus berhenti, memarkirkan diri. Satu per satu para peserta turun dan merapat di kedai Kak Nur Hayati atau yang populer dengan panggilan Nuti. Gigil ringan udara lepas hujan jelas terasa di badan. Kabut dingin tipis tampak bersembunyi malu-malu di atas rimbun pepohonan Bukit Barisan yang menjulang. Air jernih mengalir deras dengan pongah dari balik lembah, setelah lama lesu diterpa kemarau panjang.
Para peserta mengambil posisi duduk ternyaman versi masing-masing. Sembari merehatkan diri di balik kedai kayu berlantai dua, para peserta pun disambut hangatnya sajian kopi dan pisang goreng (bada), beserta ragam gorengan lainnya seperti bakwan jagung, tahu isi bakso, dan tempe. Dalam setiap hangat dan harumnya tegukan kopi, renyah dan lezatnya gorengan yang tersaji, ditambah indahnya pemandangan ciptaan Ilahi, dalam lirih rasa syukur tak sengaja saya berucap, “Lantas, nikmat-Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Setelah kenyang dan penat hilang, seluruh peserta field trip pun diminta naik ke lantai dua guna melanjutkan sesi materi dan diskusi terkait Perancangan Produk Ecotourism Wisata Alam Lembah Brayeun. Bersama para pemateri penggerak bisnis ekowisata, Agus Wiyono dan Budi Santoso, para peserta pun melakukan sesi tanya jawab.
Menurut Budi Santoso, Aceh memiliki potensi wisata alam yang luar biasa. Namun, harus dikemas dalam bentuk produk wisata yang lebih tertata, unik, dan menarik. Penting untuk diperhatikan adalah ketersediaan paket produk wisata alam dan travel pattern wilayah jelajah.
“Sejatinya wisatawan itu membeli produk wisata, bukan potensi wisata. Sebagai contoh, keindahan Lembah Brayeun itu potensi wisata. Lantas produknya apa? Apa hal yang kira-kira dapat dilakukan, dipelajari, dan dibeli oleh wisatawan selama berada di sini? Ke mana saja wisatawan dapat menjelajah dan di mana mereka boleh menginap, serta berapa biaya yang harus mereka persiapkan?” papar perancang produk wisata ramah alam tersebut.
Sejalan dengan hal itu, Agus Wiyono juga menambahkan bahwa ekowisata tidak dapat dikerjakan seorang diri. Dibutuhkan regulasi dan kerja sama lintas pihak untuk membangun potensi wisata di Aceh menjadi produk wisata yang berkelanjutan tanpa merusak alam yang ada.
“Benar bahwa tamu adalah raja, tapi kita harus menerapkan kode etik yang berlaku di wilayah setempat (kearifan lokal) juga. Jika tidak, masyarakat kita, terutama generasi muda, akan hancur,” jelas Ketua East Java Ecotourism Forum tersebut.
Tanpa tong sampah
Terdapat hal menarik yang baru saya sadari saat mendatangi Brayeun di pagi hari, bukan di akhir pekan. Pasalnya, saat memasuki wilayah Brayeun saat itu, tidak saya temukan orang-orang yang biasanya menjaga perbatasan dan meminta sejumlah uang sebagai pengganti karcis masuk. Selain itu, di pagi itu, terdapat pula pemandangan segerombolan perempuan, tampaknya penduduk setempat yang mencuci pakaian beramai-ramai di atas bebatuan lebar, pinggir aliran sungai.
Ketika saya tanyakan kepada salah seorang penjual di tempat tesebut terkait alasan masyarakat masih membudayakan mencuci pakaian di daerah hulu, mereka menjelaskan bahwa terdapat desa di wilayah atas yang tidak memiliki pasokan air bersih yang cukup. Penasaran, saya pun melanjutkan tanya akan penyebab tidak adanya air di beberapa desa terdekat, padahal air dari lembah Brayeun cukup banyak dan deras? Saat seorang warfa pun menggeleng pasrah. “Tak tahulah,” tuturnya ikut bingung.
Yang lebih menggelitik adalah ketika saya tanyakan kepada Nuti tentang posisi dan kondisi kamar mandi, apakah masih sama seperti setahun sebelumnya? Sambil tergelak dia menjawab, “Sama, hana yang pinah (sama saja, tak ada yang berubah).”
Bahkan ketersediaan tong sampah dan pengelolaan sampah-sampah rutin para wisatawan yang berkunjung juga tampaknya masih sebatas hayal. Sebut saja Adi, pemuda yang menyediakan jasa boat bagi para wisatawan yang datang. Saat ditanya, bagaimana manajemen sampah di wilayah tersebut, dia menjawab bahwa sampah-sampah itu dikumpulkan dan dibakar. Namun, terdapat juga sampah-sampah wisatawan yang tak sempat mereka pantau lantas hanyut ke hilir, dibawa arus. Menurutnya, salah satu penyebab manajemen sampah yang buruk di Brayeun karena tidak tersedianya tong sampah dan jasa pengangkutan sampah dari pemerintah setempat.
“Saya lihat, di Lhoknga, disediakan tong sampah, bagus dan banyak. Tapi entah kenapa kami di sini tidak kebagian. Padahal, pemerintahnya masih di dalam lingkup wilayah yang sama. Secara penataan dan regulasi pariwisata, daerah kami ini masih sangat tertinggal,” papar pemuda usia 20-an tahun tersebut dalam bahasa Aceh dengan logat khas Aceh Besar yang kental.
Maka benar adanya bahwa usaha sadar wisata harus terus digalakkan, baik di lingkup masyarakat maupun pemerintahan, mengingat jika kita tidak membiasakan diri melihat potensi alam kita dengan kemampuan “mata wisatawan”, maka lambat laun kita akan “mati rasa”. Sehingga, menganggap segala anugerah keindahan ciptaan Allah yang seharusnya kita kelola dan jaga dengan baik demi kesejahteraan masyarakat menjadi hal yang biasa-biasa saja. Jangan sampai kita menjadi ayam yang mati di lumbung padi. Tak paham mengelolah potensi alam, kemudian berang ketika ada pihak luar yang mengambil alih. Mari, kelola potensi wisata alam menjadi produk wisata ramah alam yang baik. Usaha pengelolaan wisata alam yang melibatkan partisipasi masyarakat setempat, meningkatkan nilai ekonomi rakyat, serta tetap menjaga keindahan dan kebersihan alam sekitar. Sebab, jika bukan masyarakat Aceh sendiri yang menjaga dan mengelola alamnya dengan baik, lantas siapa lagi?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ayu-ulya-pengurus-bidang-sdm-generasi-pesona-indonesia.jpg)