Breaking News

Opini

Orang Keling di Aceh  

Sejak berabad-abad, arus manusia yang datang dari India Selatan dikenal sebagai Keling, khususnya oleh orang-orang pribumi

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Orang Keling di Aceh   
IST
Nia Deliana, PhD Candidate, Universitas Islam Antarbangsa Malaysia

Ada beberapa hal yang memyebabkan turunnya pengaruh orang Keling. Di antaranya adalah perang sipil yang kerap terjadi sejak penggulingan Sultanah Aceh, terakhir 1699. Pertikaian suksesi Kesultanan dominanya terjadi antara pendukung dinasti Arab dan dinasti Bugis yang terus berlangsung hingga penggulingan Sultan Saif al Alam yang merupakan cicit dari Sultan Jamal al Alam Badr al Munir. Ini mengacaukan proses perdagangan. Pidie dan Aceh Barat yang merupakan pemasok utama Pinang dan lada terganggu. Tercatat dalam beberapa dekade abad ke-18 dan 19, kultivasi lahan dan pemasokan hasil panen terganggu secara serius.

Alasan lain adalah menumpuknya hutang. Hutang yang terakumulasi karena ketakutan Sultan dari ancaman internal yang berujung pada penyediaan tentara asing, kapal perang, dan perlengkapan senjata dari Inggris dan Perancis. Hutang Sultan menumpuk karena penyewaan dan pembelian secara kredit. Pernah, saat Sultan ada dalam kesulitan finansial, Mohammad Hafas, seorang Keling Chuliah membantu menutup hutan-hutan itu, namun lain waktu, Sultan harus memberlakukan konsensi tertentu dimana pajak dagang untuk badan dagang Inggris ditiadakan. Ini menyebabkan bentroknya putaran masukan untuk kesultanan.

Selain dua alasan di atas terdapat juga peningkatan kekacauan di laut seperti yang disaksikan dalam kasus Annaporney yang menjadi korban upaya Sultan Jauhar al Alam Syah mengemulasi sistem Inggris. Ini menyebabkan ketajaman konflik dimana keturunan Keling melayangkan protes nasihat-nasihat dan regulasi dagang dari Eropa di Aceh yang menyebabkan L'Etoille dibunuh. Alasan terakhir adalah penjajahan Belanda.

Dalam masa penjajahan yang terjadi antara 1873-1903 terdapat tiga macam respon dari keturunan-keturunan Keling. Di antaranya ada yang mengungsi dari Aceh dan melanjutkan dukungan terhadap Aceh di Pinang sebagaiman terlihat dilakukan keluarga Merikan. Ada yang menetap sebagai asisten Belanda seperti Panglima Tibang dan Teuku Itam. Ada pula yang menetap untuk melawan penjajahan sebagaimana yang diperlihatkan Keturunan Labbai, Teungku Syeikh Saman di Tiro.

Pergerakan Keling di Aceh patut dikagumi dan dihargai. Keberadaan mereka menjelaskan bahwa sebelum ideologi berbangsa dan bernegara menjadi trend pada abad ke-20, Keling menjadi saksi akan cairnya hubungan dalam perbedaan di Aceh.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved