Hari Pahlawan

Mengenang Sultan Daulat Sambo yang Berjuluk Singa Tanoh Singkil, Begini Kisahnya

Sultan Daulat diambil dari nama seorang raja bermarga Sambo dan dikenal sebagai pahlawan dalam perjuangan melawan Belanda.

Penulis: Khalidin | Editor: Taufik Hidayat
Hand-over dokumen pribadi
PENGURUS Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Subulussalam saat berziarah ke Makam Raja Sultan Daulat Sambo di Dusun Rikit, Desa Namo Buaya, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, 17 Agustus 2019 lalu. 

Membangun Benteng

Sebelum bertolak pulang dari kunjungan persahabatan ke Bakkara, Raja Sisingamangaraja XII sempat mengingatkan bahwa Belanda pasti menyerang kerajaan Batu-batu kalau Sultan Daulat Sambo tidak tunduk kepada mereka.

Justru itu sahabat dekatnya itu menyarankan agar sepulang dari kunjungannya ini segera membangun benteng pertahanan.

Sultan Daulat Sambo pun membangun benteng dengan bantuan tenaga ahli dari kerajaan Aceh Darussalam.

Benteng tersebut dibuat dengan bahan baku kayu berbentuk persegi empat dan pintu darurat dibuat disetiap sudut benteng.

Di tengah-tengahnya berdiri istana raja berbentuk rumah adat. Untuk melindungi dari serangan musuh, maka benteng tersebut dilengkapi dengan meriam yang pelurunya terbuat dari besi yang buatan pandai besi kerajaan.  Luas benteng tersebut melingkupi kampong Namo Buaya, Jambi, Pulo Bellen dan Pulo Keddep.

Perang melawan Belanda

Berbagai bujuk rayu dilancarkan untuk meluluhkan hati Sultan Daulat Sambo agar mau takluk dan bekerja sama dengan Belanda. Namun Sang Sultan tetap teguh pendirian.

Akhirnya Belanda mengutus Raja Binanga untuk membarikan ancaman kepada penguasa Batu-Batu itu, bahwa bila Sultan Daulat Sambo tidak juga menyerah maka Belanda akan menyerang.

Sebagai tanda ancaman Raja Binanga mengirim 1 muk biji harum (biji bayam) yang maksudnya bahwa bila tidak segera menyerah kepada Belanda, Kerajaan Batu-Batu akan diserang dengan membawa tentara yang banyak. 

Mereka yakin ancaman itu pasti membuat kerjaan Batu-batu gentar. Namun ternyata ancaman Belanda melalui Raja Binanga itu sedikit pun tidak membuat ciut nyali raja dan rakyat  Batu-batu.

Sang Sultan malah mengirim kembali kepada Raja Binanga 6 muk biji yang sama. Maksudnya enam kali lipat pun banyaknya tentara Belanda itu, Kerajaan Batu-batu siap menghadapinya.

Akhirnya pada tahun 1901 Belanda pun mulai berancana melancarkan serangan ke kerajaan Batu-batu.

Setelah mendapat  persetujuan dari Kutaraja (Banda Aceh sekarang), maka pemerintah Belanda di Kota Singkil mulai mempersiapkan keperluan perang berupa logistik, senjata dan mesiu serta serdadu khusus yang terkenal dengan nama marsose serta alat transportasi berupa bungki bellen (sampan besar).

Berangkatlah serdadu Belanda dengan dipandu oleh orang-orang pribumi yang telah memihak kepada Belanda. Mereka terus mendayung di Lae Sung raya menuju hulu sungai kemudian belok ke Lae Batu-batu.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved