Hari Pahlawan
Mengenang Sultan Daulat Sambo yang Berjuluk Singa Tanoh Singkil, Begini Kisahnya
Sultan Daulat diambil dari nama seorang raja bermarga Sambo dan dikenal sebagai pahlawan dalam perjuangan melawan Belanda.
Penulis: Khalidin | Editor: Taufik Hidayat
Kedatangan musuh itu sebenarnya telah tercium oleh pasukan Batu-batu. Mereka membuat jebakan dengan cara melukai (menebang tidak sampai putus pohonnya) beberapa pohon besar di sekitar Lae Batu-batu.
Ketika laskar Belanda melintas di Lae batu-batu, pohon-pohon besar itu pun ditumbangkan menimpa pohon-pohon kecil dan mengenai laskar Belanda tersebut. Seluruh pasukan Belanda mati tenggelam.
Penyerangan Belanda untuk menaklukkan kerajaan Batu-batu kali pertama ini gagal total dan menelan kerugian yang amat banyak.
Belanda Membumihanguskan Kerajaan Batu-Batu
Gagalnya penyerangan Belanda untuk menaklukkan Kerajaan Batu-batu dengan kekalahan yang telak merupakan tamparan yang sangat memalukan.
Pemerintah Belanda Di Kota Singkil pun melakukan persiapan yang lebih matang, persenjataan yang lebih lengkap dan jumlah pasukan yang lebih banyak. Kerajaan Binanga direncanakan sebagai pangkalan untuk menyerang Batu-batu lewat darat.
Setelah menelusuri jalan setapak sampailah serdadu Belanda di dekat benteng batu-batu. Pertempuran pun berlansung dengan sengit. Sayangnya meriam Batu-batu hanya bisa menembak ke satu arah, tidak bisa digeser ke arah lain.
Mengetahui kelemahan itu pasukan marsose Belanda segera memanjat benteng dan melemparkan obor ke atap rumah-rumah yang terbuat dari ijuk. Kebakaran besar pun terjadi di dalam benteng.
Melihat kondisi yang tidak menguntungkan itu panglima perang Batu-batu Siti Ambiya (adik kandung Sultan Daulat) memerintahkan segera membuka pintu darurat. Pertempuran jarak dekat pun berkecamuk.
Dentingan suara pedang bercampur baur dengan suara jeritan anak-anak dan kaum wanita. Satu demi satu korban berjatuhan, darah para suhada membasahi bumi pertiwi.
Panglima Saman Tinambunan salah seorang panglima yang yang diandalkan kerajaan Batu-batu setelah membunuh sekian banyak serdadu Belanda, karena keletihan akhirnya dapat ditangkap dan dibunuh dengan cara dineknekken (dibenamkan di sungai) lalu dimakamkan di muara Lae Batu-batu. Siti Ambiya juga syahid bersama panglima lainnya, tetapi Sultan Daulat Sambo lolos dari sergapan Belanda.
Setelah perlawanan dapat dilumpuhkan, pasukan Belanda pun membumihanguskan kerajaan Batu-batu.
Perbuatan itu ternyata melanggar aturan. Kapten Koler komandan pasukan Belanda di Dairi tiba pada sore harinya sempat melihat bagaimana benteng dan rumah-rumah dibakar sedemikian rupa, mengajukan protes ke mahkamah meliter di Kutaraja.
Setelah disidangkan beberapa kali akhirnya pengadilan menjatuhkan hukuman gantung kepada komandan pasukan Belanda yang memimpin penyerangan ke Kerajaan Batu-batu dan membumihanguskannya.
Bergerilya dan berdamai