Hari Pahlawan
Mengenang Sultan Daulat Sambo yang Berjuluk Singa Tanoh Singkil, Begini Kisahnya
Sultan Daulat diambil dari nama seorang raja bermarga Sambo dan dikenal sebagai pahlawan dalam perjuangan melawan Belanda.
Penulis: Khalidin | Editor: Taufik Hidayat
Dengan sisa-sisa laskar yang masih selamat dalam perang Batu-Batu, Sultan Daulat Sambo di dampingi oleh Panglima Said dan Panglima Cimpa terus melakukan perjuangan dengan cara bergerilya.
Selama empat tahun yakni tahun 1902-1906 Sultan Daulat bergerilya dari hutan ke hutan, membuat kekacauan dan melakukan penghadangan terhadap pasukan patroli Belanda.
Pemerintah Belanda merasa kewalahan menghadapi pasukan gerilya Sultan Daulat Sambo. Berbagai macam cara dilakukan agar dapat menagkap Raja Batu-batu namun tidak membuahkan hasil. Akhirnya Pemerintah Belanda mengajak Sultan yang pantang menyerah itu berdamai.
Tawaran itu tidak serta merta diterima oleh Sang Sultan. Berbagai upaya dilakukan untuk membujuk, akhirnya hati Sultan luluh juga. Maka pada tahun 1907 dilakukanlah penandatanganan perjanjian damai antara Pemerintah Belanda dengan Sultan Daulat Sambo di Kutaraja.
Isi perdamaian itu adalah bahwa Sultan daulat Sambo dan seluruh laskar perangnya bersedia keluar dari hutan dan menghentikan perlawanan bila Pemerintah Belanda bersedia memenuhi persyaratan yang diajukan. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh Belanda adalah:
1. Pemerintah Belanda membangun rumah mirip istana raja Batu-batu yang telah dimusnahkan pada perang Batu-batu lengkap dengan perabotnya.
2. Pemerintah Belanda juga membangun mesjid di dekat istana itu,
3. Pemerintah Belanda akan membebaskan seluruh anggota laskar Batu-batu yang ditawan.
Hampir tiga tahun lamanya Sultan Daulat sambo bersabar menunggu perjanjian itu terealisasi, namun tak kunjung juga kecuali poin yang ketiga. Akhirnya sang “Singa” itu kembali masuk hutan.
Pemerintah Belanda kembali merayu agar Sultan keluar hutan dan berjanji sesegera mungkin mewujudkan isi perjanjian yang belum dipenuhi. Kali ini Sultan Daulat tak mau terkecoh lagi. Dia merasa bahwa perjanjian damai itu hanyalah tipu muslihat belaka.
Pada tahun 1912 semua isi perjanjian itu akhirnya dipenuhi juga, tetapi Sultan Batu-batu itu sudah kadung tersinggung dan merasa terhina sehingga perjuangan gerilya terus dilanjutkan.
Dengan segala upaya Pemerintah Belanda terus merayu Sultan Daulat melalui rekan-rekannya raja-raja tetangga, ditambah lagi tubuh yang sudah mulai lemah dimakan usia, akhirnya Sultan “Singa Tanoh Singkil” itu pun kembali ke rumahnya.
Pada tahun 1915 pemerintah Belanda melantik Teuku Kamaruddin Sambo menggantikan ayahnya sebagai raja Batu-batu.
Kemudian pada tahun 1929 Sultan Daulat Sambo, pahlawan kusuma bangsa itu dipanggil menghadap Tuhan dan dimakamkan di pinggir Lae Batu-batu.
Sebagai penghormatan kepada Sultan Daulat Sambo yang telah berjuang demi tanah airnya tercinta, walikota Subulussalam mengangkat beliau sebagai Pahlawan Daerah.
“Kita berharap agar Pemerintah Aceh mengakui belaiu sebagai Pahlawan Aceh dan mengusulkan kepada presiden RI agar beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional sebagaimana sahabatnya Raja Sisingamangaraja XII. Karena sebagaimana kata bijak Soekarno, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya,” ujar Sabaruddin.(*)
• Jadwal Pendaftaran CPNS Lhokseumawe belum Ada Kepastian, Ini Kata BKPSDM
• Dibuka Besok, Begini Tips dan Trik Memilih Instansi dan Formasi Jabatan saat Pendaftaran CPNS 2019
• Kementerian Pertanian Buka CPNS 2019 untuk Jalur SMK, D-III dan S-1, Berikut Rincian Lengkap
• Sekjen dan Dirjen KKP Diperiksa hingga Malam, Terkait Dugaan Korupsi Keramba Jaring Apung di Sabang