Berita Aceh Selatan
Mahasiswa Politeknik Aceh Selatan Olah Batu Gajah Jadi Marmer, Tapi Produksi Terbatas, Ini Sebabnya
Afdhal mengakui banyak jenis kerajinan marmer yang sudah dihasilkan mahasiswa Poltas Aceh Selatan.
Penulis: Taufik Zass | Editor: Mursal Ismail
Afdhal mengakui banyak jenis kerajinan marmer yang sudah dihasilkan mahasiswa Poltas Aceh Selatan.
Mahasiswa Politeknik Aceh Selatan Olah Batu Gajah Jadi Marmer, Tapi Produksi Terbatas, Ini Sebabnya
Laporan Taufik Zass | Aceh Selatan
SERAMBINEWS.COM, TAPAKTUAN - Sejak beberapa tahun terakhir, mahasiswa Kampus Politeknik Aceh Selatan (Poltas) sudah mengolah batu gamping atau batu gajah menjadi berbagai jenis produk mamer.
Namun, pengolahan ini masih terbatas atau belum diproduksi massal karena terkendala kapasitas mesin dan kelistrikan.
Kepala Laboratorium Workshop Marmer Poltas, Afdhal ST, menyampaikan hal ini ketika Serambinews.com mewawancarainya, Selasa (12/11/2019).
"Untuk produksi berkebelanjutan belum ada, karena Lab Workshop Marmer Poltas
ini lebih dimanfaarkam untuk kegiatan praktik mahasiswa," kata Afdhal.
Afdhal mengakui banyak jenis kerajinan marmer yang sudah dihasilkan mahasiswa Poltas Aceh Selatan.
Namun hasil kerajinan tersebur belum diproduksi secara massal karena terkendala kapasitas mesin dan kapasitas suplai arus listrik dari PLN.
"Kalau jenis produk yang dihasilkan dari batu gamping ini banyak, cuma itulah belum diproduksi secara massal," jelasnya.
• BREAKING NEWS - Banjir di Kabupaten Aceh Utara Mulai Meluas
• Terdakwa Pasrah Dituntut Mati, Kasus Pembunuhan di Ulee Madon
• Jalan Banda Aceh - Medan di Alue Bu Aceh Timur Sudah Seminggu Tergenang Air, Berpotensi Kecelakaan
Untuk saat ini, lanjut Afdhal, Lab Workshop Marmer Poltas sedang memproduksi marmer untuk lantai pesanan dari Cot Masjid Luengbata, Banda Aceh.
Begitu juga papan nama, marmer untuk tempat imam sholat di Masjid Air Pinang, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan.
"Sedangkan untuk produk kerajinan masih kurang permitaan," ungkap Afdhal.
Ditanyai kenapa tidak diproduksi secara massal, Afdhal mengaku belum mampu dikarenakan kapasitas mesin yang masih sangat terbatas serta kendala mengenai suplai arus listrik dari PT PLN.
"Produksi massal belum bisa karena terkendala di listrik, karena listrik disini tidak mampu menampun kebutuhan listrik untuk mesin di Laboratorium Marmer ini, makanya sering terjadi kerusakan di inveter," jelas Afdhal.
Ditanyai menyangkut ketersediaan bahan baku, Afdhal mengaku untuk bahan baku batu gamping di Aceh Selatan sangat melimpah mulai dari Labuhanhaji sampai ke Pasie Raja.
"Kalau bahan baku melimpah mulai dari Labuhanhaji sampai Pasie Raja, cuma selama ini kita masih beli dari orang karena belum tersedia lahan dan izin galian C," papar Afdhal.
Afdhal menceritakan bahwa mesin marmer tersebut sudah tersedia sejak tahun 2011, namun baru mulai operasionalnya pada tahun 2015.
"Waktu itu belum ada produk, setelah kami coba-coba, kami ambil tenaga dari luar, sehingga kami buatlah berbagai macam produk, cuma persoalannya masalah penggajian tenaga ahli yang terlalu tinggi," ungkapnya.
Disamping gaji tenaga ahli yang terlalu tinggi, lanjutnya, banyak perserta didik yang sudah bisa tidak mau bekerja di Lab Mamer Poltas.
Mereka lebih memilih pekerjaan di tempat lain karena gaji lebih menjanjikan.
"Biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik belum belum sesuai," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/marmer-produksi-poltas.jpg)