Wawancara Eksklusif
Konflik itu Awal Kreativitas
Wakil Menteri (Wamen) Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Wakil Kepala BPN, Surya Tjandra, tak pernah menyangka dirinya tunjuk
Saya kira ini kesempatan terakhir untuk rakyat mendapat redistribusi tanah. Butuh komitmen sangat kuat dari pimpinan tertinggi negara ini untuk menjalankan program tersebut. Undang-undangnya sudah ada sejak tahun 1960. Tapi pas zaman Pak SBY mulai dan zaman Pak Jokowi mulai dimasukkan dalam program strategis bahkan. Nah kami yang menerjemahkannya dalam aksi.
Ngomong-ngomong, konflik agraria itu, paling banyak di mana?
Jawa. Karena lahan terbatas, orangnya banyak, juga terorganisir relatif. Konflik ini terjadi karena terorganisir. Dan bagi saya, ya bagus. Bagi saya konflik itu adalah petunjuk awal, untuk kita perlu masuk. Tapi yang namanya redistribusi ini, bukan hanya yang konflik. Ini kan prinsipnya adalah memberikan hak atas tanah kepada yang tidak punya hak atas tanah. Supaya dia bisa punya sumber ekonomi baru yang bisa dia manfaatkan untuk kembangkan hidupnya jadi lebih baik. Nah ini yang mestinya ada konflik atau tidak, kita masuk. Dan saya mau masuk. Tapi memang harus mulai dari konflik dulu yang sudah jelas.
Anda ini, biasa berkonflik atau biasa menyelesaikan konflik?
Kalau buat saya konflik itu adalah awal kreativitas. Kalau tidak ada konflik kita tidak punya tawaran yang baru, tidak ada terobosan. Istilahnya niscaya, tidak akan tidak ada. Memangnya dunia ini mulus terus. Tapi, itu sumber kreativitas. Saya tidak merasa keberatan. Saya peluk lah paling ditonjokin, dihina-hina, ya paling dihina-hina doang. Saya tidak hilang, identitas saya begini-gini aja. Saya tetap saya, orang melihat si Surya sudah menjadi wamen. (tribun network/yusuf/denis)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/surya-tjandra-wakil-menteri-wamen-agraria-dan-tata-ruang-atrwakil-kepala-bpn.jpg)