Senin, 27 April 2026

OPINI

Waspada HIV-AIDS di Sekitar Kita  

Setiap 1 Desember diperingati sebagai hari HIV-AIDS dunia (World AIDS Day). Tujuan peringatan hari tersebut adalah untuk menumbuhkan kesadaran

Editor: hasyim
IST
Sekretaris Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aceh, Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Unaya 

Dokter Aslinar, Sp.A, M. Biomed

Sekretaris Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aceh, Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Unaya

Setiap 1 Desember diperingati sebagai hari HIV-AIDS  dunia (World AIDS Day). Tujuan peringatan hari tersebut adalah untuk menumbuhkan kesadaran tentang wabah AIDS yang sudah melanda seluruh dunia. Pertama kali digagas pada 1988 melalui pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia. Awalnya dicetuskan James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) di Geneva, Swiss Agustus 1987.

Infeksi HIV adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah penyakit yang menunjukkan adanya sindrom defisiensi imun sebagai akibat dari infeksi HIV. AIDS merupakan sekelompok kondisi medis yang menunjukkan lemahnya kekebalan tubuh, sering berwujud infeksi ikutan (infeksi oportunistik) dan kanker, yang saat ini belum bisa disembuhkan.

Perkembangan penyakit AIDS tergantung dari kemampuan virus HIV menghancurkan sistem imun tubuh penderita dan ketidakmampuan sistem imun untuk menghancurkan HIV. Bila virus HIV masuk ke tubuh manusia, maka ia akan berusaha menempel pada sel dan masuk ke dalamnya. Infeksi HIV menyebabkan sel sasarannya menjadi rusak sehingga pada saat jumlahnya sedemikian rendah maka sistem imun tubuh menjadi tidak dapat berfungsi untuk menghalau infeksi yang ringan sekalipun.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai Juni 2019, HIV AIDS telah dilaporkan oleh 463 (90,07%) kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Terdapat penambahan 2 kabupaten/kota yang melapor dibandingkan triwulan I tahun 2019. Jumlah kasus HIV yang dilaporkan dari tahun 2005 sampai tahun 2019 mengalami kenaikan tiap tahunnya. Jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan sampai Juni 2019 sebanyak 349.882 (60,7% dari estimasi odha tahun 2016 sebanyak 640.443). Terdapat 5 provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (62.108), Jawa Timur (51.990), Jawa Barat (36.853), Papua (34.473), dan Jawa Tengah (30.257).

Sedangkan jumlah AIDS yang dilaporkan dari tahun 2005 sampai tahun 2019 relatif stabil setiap tahunnya. Jumlah kumulatif AIDS dari tahun 1987 sampai Juni 2019 sebanyak 117.064 orang. Persentase kumulatif AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (32,1%), diikuti kelompok umur 30-39 tahun (31%), 40-49 tahun (13,6%), 50-59 tahun (5,1%), dan 15-19 tahun (3,2%). Persentase AIDS pada laki-laki sebanyak 58% dan perempuan 33%. Sementara itu 9% tidak melaporkan jenis kelamin.

Jumlah AIDS tertinggi menurut pekerjaan/status adalah tenaga nonprofesional (karyawan) (17.887), ibu rumah tangga (16.844), wiraswasta/usaha sendiri (15.236), petani/peternak/nelayan (5.789), dan buruh kasar (5.417). Terdapat 5 provinsi dengan jumlah AIDS terbanyak adalah Papua (22.554), Jawa Timur (20.412), Jawa Tengah (10.858), DKI Jakarta (10.242), dan Bali (8.147). Faktor risiko penularan terbanyak melalui hubungan seksual berisiko heteroseksual (70,2%), penggunaan alat suntik tidak steril (8,2%), diikuti homoseksual (7%), dan penularan melalui perinatal (2,9%). Angka kematian (CFR) AIDS mengalami penurunan dari 1,03% pada tahun 2018 menjadi 0,3% pada Juni 2019.

Bagaimana dengan data penderita HIV dan AIDS di Aceh? Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, sampai Juni 2019, dari Aceh dilaporkan terdapat 642 kasus HIV, dan kasus AIDS sebanyak 526. Sebanyak 52 orang penderita AIDS sudah meninggal, saat ini terdapat 474 orang yang hidup dengan AIDS. Sedangkan data nasional, ditemukan sebanyak 16.777 orang penderita AIDS yang sudah meninggal.

Penularan virus ini yaitu melalui cairan tubuh berupa hubungan seksual, transfusi darah, berbagi alat suntik pada pengguna narkoba. Salah satu akibatnya adalah jumlah perempuan yang terinfeksi HIV dari tahun ke tahun semakin meningkat, seiring dengan meningkatnya jumlah laki-laki yang melakukan hubungan seksual tidak aman, yang selanjutnya menularkan pada pasangan seksualnya. Terbukti, dari data yang disajikan di Kemenkes, ternyata terdapat 16.844 orang IRT yang menderita AIDS.

Penderita HIV bukan hanya diderita orang dewasa yang produktf secara seksual, tetapi juga menjangkiti bayi baik bayi yang baru lahir (dari ibu penderita HIV) maupun anak. Sungguh suatu kondisi yang membuat miris dimana seorang bayi yang tidak berdosa, saat lahir sudah menderita penyakit ini. Risiko tersebut tentu berasal dari ibu yang hamil. Dan dari data terlihat banyak sekali ibu rumah tangga yang menderita HIV yang bisa saja mereka tertular dari si suami sebagai pembawa virus. Walaupun tidak tertutup kemungkinan bisa tertular melalui cara yang lain.

Untuk mendeteksi sedini mungkin para ibu hamil yang terinfeksi HIV, maka saat ini Kementerian Kesehatan sudah gencar melakukan pemeriksaan skrining HIV semua ibu hamil. Pemeriksaan skrining HIV pada kehamilan dilakukan pada kunjungan pertama dan minimal satu kali selama hamil. Bila ibu hamil memiliki risiko tinggi tertular virus HIV, maka dilakukan pemeriksaan rutin. Ibu hamil yang positif terinfeksi HIV maka akan diberikan pengobatan Anti Retri Viral (ARV). Dari 1.000.550 orang ibu hamil yang diskrining, ditemukan sebanyak 3.011 orang yang positif terinfeksi HIV.

Kasus HIV/AIDS menurut jenis kelamin dilaporkan dua kali lebih banyak diderita lelaki. Saat ini kita juga disajikan data yang mencengangkan dimana kasus HIV/AIDS banyak sekali diderita para pengidap LGBT khususnya LSL (Lelaki Seks Lelaki). Di Banda Aceh terdapat 771 orang LSL dan 89 orang di antaranya positif menderita HIV. Perilaku LSL ini merupakan suatu paradoks di kota Banda Aceh.

Bagaimana mencegah hal ini? Butuh kerjasama semua pihak tentunya.  Pencegahan yang perlu dilakukan adalah tidak melakukan hubungan seks bebas. Berganti-ganti pasangan seksual sangat berisiko tertular virus HIV. Wajib setia dengan pasangan halalnya.

Pencegahan lain yaitu tidak terlibat dalam penyalahgunaan narkoba (penggunaan jarum suntik bersama, pemakaian jarum tatto bersama), serta skrining transfusi darah dari virus HIV.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved