Kamis, 21 Mei 2026

Kerukunan Beragama

Benarkah Toleransi Beragama di Aceh Terendah Se-Indonesia? Simak Cerita Monica Malau dan Kawan-kawan

Menurut mereka, orang Islam di Aceh sangat toleran, sangat menghargai keberadaan orang yang berbeda agama.

Tayang:
Editor: Zaenal
DOK. Hasan Basri M Nur
Monica Malau, pemuda Katolik, memberikan kesaksian toleransi di Aceh, dalam pertemuan pemuda lintas agama, di Café Dhapu Kupi, Banda Aceh, Selasa (17/12/2019). 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Hasil survei Kementerian Agama RI yang menempatkan Provinsi Aceh pada rangking terbawah (urutan 34) dalam indeks kerukunan umat beragama di seluruh provinsi di Indonesia, masih menimbulkan kontroversi di Aceh.

Bukan hanya tokoh Islam, tokoh nonmuslim juga melontarkan kritik dan protes terhadap hasil survei Kemenang tahun 2019 ini.

Idaman Sembiring, anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh dari unsur Kristen, adalah salah satu tokoh Kristen yang menyampaikan keberatan atas hasil survei itu.

"Syariah Islam itu tak berlaku bagi nonmuslim. Bagi kami umat Kristen merasa lebih Kristen (lebih taat dalam menjalankan agama, red) ketika hidup di Aceh yang berlaku Syariat Islam," kata Idaman Sembiring dalam pertemuan tokoh lintas agama dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh di Banda Aceh, Senin (16/12/2019).

Sehari berselang, Selasa (17/12/2019), giliran para tokoh muda lintas agama yang menyampaikan bahwa hasil survei Kemenag RI itu tidak sesuai dengan realita di lapangan.

“Sebagai penganut Katolik, saya merasa tidak ada diskriminasi tinggal di Aceh. Teman-teman saya dari kalangan Islam, baik di kantor maupun di lingkungan tempat tinggal, semua baik, tidak ada perbedaan perlakuan,” ujar Monica Malau, tokoh muda Katolik di Banda Aceh.

Survei Kemenag Tempatkan Aceh Rangking Terbawah Toleransi Beragama, Begini Reaksi Pendeta Idaman

Pusong Lama Lhokseumawe Ditetapkan Sebagai Desa Sadar Kerukunan, Ini Sebabnya

Kepala BNN Kota Banda Aceh Apresiasi Peunayong Sebagai Gampong Kerukunan

Monica Malau adalah salah satu dari sejumlah pemuda lintas agama yang hadir dalam pertemuan pemuda lintas agama yang digelar Subbag Hukum dan KUB Kanwil Kemenag Aceh, di Café Dhapu Kupi, Banda Aceh, Selasa (17/12/2019).

Para tokoh muda lintas agama (Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Islam) ini membantah klaim Aceh sebagai daerah dengan indeks kerukunan beragama terendah di Indonesia.

Menurut mereka, orang Islam di Aceh sangat toleran, sangat menghargai keberadaan orang yang berbeda agama.

Monica Malau menceritakan, dirinya terlahir di Aceh, sekolah, kuliah hingga bekerja semua berlangsung di Banda Aceh.

Sejak kecil dia mengaku sudah menyaksikan kebaikan, tolong-menolong sesama manusia dan sikap toleransi warga Aceh.

“Saat tsunami menerjang Aceh pada Desember 2004, saya masih kelas 6 SD. Saat itu saya sedang di Medan bersama orangtua,” kata dia.

“Ketika kembali ke kediaman kami di Lamprit yang ikut terkena tsunami, saya menyaksikan para tetangga menyelamatkan benda-benda dari rumah kami. Padahal kami beda agama dengan tetangga, tapi mereka tetap membantu menyelamatkan harta benda kami,” ujar Monica.

Saat kuliah di Fisip Unsyiah, Monica mengaku awalnya sempat menggunakan jilbab.

Alasannya biar nggak risih dan janggal karena teman-temannya semuanya memakai jilbab.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved