Rabu, 22 April 2026

Berita Aceh Barat Daya

Harga Gabah di Abdya Terus Melorot, Di Tingkat Petani Rp 4.800 Per Kg  

Harga GKP (Gabah Kering Panen) tingkat petani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), cenderung terus melorot

Penulis: Zainun Yusuf | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Areal tanaman padi di Kabupaten Abdya MT Gadu 2019 seluas 10.289 ha, sebagian memasuki panen raya. Penanganan pasca panen menggunakan mesin pemotong padi (combine harvester). Seperti kegiatan panen raya dalam temu lapang dipusatkan di Desa Pisang, Kecamatan Setia, Selasa (10/12/2019) lalu. Tingkat produksi sementara mencapai 7,8 ton GKP (gabah kering panen) per ha. 

Laporan Zainun Yusuf| Aceh Barat Daya

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE – Harga GKP (Gabah Kering Panen) tingkat petani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), cenderung terus melorot.

Sementara stok gabah di tingkat petani dilaporkan tersedia dalam jumlah besar sehubungan dilaksanakan panen raya Musim Tanam (MT) Gadu 2019.

Panen raya tanaman padi terutama di Kecamatan Blangpidie, Susoh, Setia dan Jeumpa.

Panen segera dilakukan petani di Kecamatan Kuala Batee, Babahrot, Tangan-Tangan, Manggeng dan Lembah Sabil.

“Dua hari lalu (Rabu), agen pengepul masih menampung gabah petani Rp 5.000 per kg GKP, tapi hari ini harga gabah turun menjadi Rp 4.800 per kg,” kata Suriadi, petani Gampong Asoe Nanggroe, Jeumpa kepada Serambinews.com, Jumat (20/12/2019). 

Profil Wakapolri Gatot Eddy Pramono, Gantikan Komjen Pol Ari Dono, Bermula dari Kode Kapolri

Peristiwa turun harga gabah Rp 200 per kg kurun waktu dua hari terakhir dikatakan sangat mengecewakan petani.

Sebab, sebagian besar petani harus menjual gabah untuk menutup biaya penanganan pasca panen.

Sedangkan Agus, salah seorang agen pengepul di Blangpidie menjelaskan, turun harga gabah disebabkan tingginya kadar air saat musim hujan sekarang ini.

Malahan, kegiatan panen dilaksanakan dalam susana hujan.  

Pedagang mengalami kesulitan lantaran tidak tersedia sarana pengeringan gabah.

“Jika gabah dalam kondisi tak basah, bisa kita tampung Rp 5.000 per kg,” katanya.

Polres Bireuen Tangkap Seorang Warga Aceh Selatan di Aceh Besar, Ini Kasusnya

Sejumlah petani memprediksi harga gabah terus bergerak turun.

Terutama ketika panen raya dilaksanakan di Kecamatan Kuala Batee, Babahrot, Tangan-Tangan, Manggeng dan Lembah Sabil.

Mereka berharap kepada Pemkab Abdya melalui Distanpan agar selalu mengawasi harga gabah di tingkat petani, sehingga para agen pengepul ‘nakal’ tidak mempermainkan harga yang merugikan petani.

Keterangan diperoleh Serambinews.com, harga gabah di Abdya akan meningkat, minimal bisa bertahan (stabil), jika ada pedagang dari luar daerah menampung gabah melalui agen pengepul setempat.  

Gabah produksi Abdya selanjutnya dibawa ke luar daerah, antara lain ke Medan dan Padang atau beberapa daerah di Aceh yang belum melaksanakan panen raya.

Sudah 30 Tahun Menikah dan Punya Anak Cucu, Pasangan ini Baru Tahu Kalau Mereka Saudara Kandung

Sebagai catatan, areal tanaman padi MT Gadu 2019 di Kabupaten Abdya, seluas 10.289 hektare (ha), sebagian besar memasuki panen raya.

Panen raya dilaksanakan Bupati Abdya, Akmal Ibrahim SH dalam kegiatan temu lapang yang dipusatkan di areal sawah Desa Pisang, Kecamatan Setia, Selasa (10/12/2019) lalu.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Distanpan) Abdya, drh Nasruddin, saat itu melaporkan panen raya dimulai di hamparan sawah Kecamatan Susoh, Blangpidie, Setia dan Jeumpa. Kecamatan lainnya menyusul. 

Dari umbinan (sampel produksi) yang diambil dari areal sawah yang memasuki panen raya tingkat produksi sementara diketahui mencapai 7,8 ton Gabah Kering Panen (GKP) per ha.

Sedangkan harga gabah memasuki panen raya kali ini, menurut Nasruddin masih menguntungkan petani, yaitu pada kisaran harga Rp 5.200 sampai Rp 5.300 per kilogram GKP.

Warga Miskin di Nicah Mutiara Pidie Terima Bantuan Sembako

Akan tetapi kenyataan beberapa hari kemudian, harga gabah beransur-ansur turun.

Sedangkan petani buru-buru menjual gabah karena terdesak kebutuhan biaya penanganan pascapanen.

Beberapa petani menjelaskan, peristiwa turun harga gabah saat panen raya sering terjadi yang diduga merupakan spekulasi pedagang.

Tujuannya untuk mendapat keuntungan lebih besar dengan memanfaatkan momentum panen raya.

Ketika stok gabah tersedia dalam jumlah banyak di petani, para agen pengumpul mengurangi jumlah pembelian dengan beragam alasan.

Seperti alasan kekurangan modal dan gudang tempat pengeringan gabah sudah penuh.

“Ada pula agen menampung gabah, tapi harganya baru dibayar satu pekan ke depan,” kata salah seorang petani di Susoh.

Karena terdesak kebutuhan biaya penanganan pascapanen, maka tidak ada pilihan lain bagi sebagian petani, kecuali menjual gabah dengan tingkat harga agak miring. 

Fakta-fakta Menarik Dewan Pengawas KPK, Artidjo Alkostar Dianggap Musuh Koruptor

Sekadar diketahui bahwa petani Abdya sekarang ini menggunakan full mekanisasi pertanian penanganan pascapanen.

Panen dilakukan dengan bantuan mesin potong padi (combine harvester).

Pemkab Abdya melalui Distanpan setempat menurunkan puluhan unit combine harvester untuk membantu petani memanen gabah secara cepat dan biaya murah.

Selain itu, juga beroperasi mesin potong milik swasta dari luar daerah setempat.

Biaya panen menggunakan mesin potong milik Pemkab Abdya dikutip biaya Rp 12.500 per satu goni gabah isi 53 sampai 55 kg GKP.

Sedangkan ongkos panen dengan mesin potong milik swasta dipungut biaya lebih tinggi, yaitu Rp 17.500 per satu goni gabah isi 53 sampai 55 kg GKP.

Kegiatan anen raya di Abdya kali ini tersedia gabah jumlah besar di tingkat petani.  

Bila hasil sampel produksi sementara mencapai 7,8 ton GKP per ha, maka luas areal panen  raya mencapai 10.289 ha, maka tersedia 80.254 ton GKP di tingkat petani, jumlah yang tidak sedikit.(*)  

Viral Video Babi Masuk Rumah di Bener Meriah Hebohkan Warga

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved