Sabtu, 25 April 2026

JURNALISME WARGA

Berwisata ke Kota Santri, Ada Sumur Tak Pernah Kering

SIAPA yang tidak pernah mendengar kata pesan­tren, lembaga pendidikan tra­disional legendaris. Di Aceh

Editor: hasyim
IST
IDA FITRI HANDAYANI, Guru SMA 4 Banda Aceh dan Anggota Warung Penulis, melaporkan dari Sigli, Pidie 

SIAPA yang tidak pernah mendengar kata pesan­tren, lembaga pendidikan tra­disional legendaris. Di Aceh sangat banyak kita temukan pesantren. Di hampir setiap kampung ada lembaga pendi­dikan nonformal ini.

Pesantren dipahami sebagai sebuah instansi pendidikan tradisional yang murid (santri)-nya menetap, tinggal di asrama. Khusus di Aceh, istilah pesan­tren jarang digunakan, karena masyarakat menyebutnya da­yah. Istilah dayah telah menjadi kearifan lokal negeri syariat ini.

Jika dirunut lebih jauh, dayah merupakan peralihan dari istilah zawiyah, seperti sejarah Zawiyah Tanoh Abe di Seulimuem, Aceh Besar. Kini, hanya IAIN Cot Kala Langsa yang setia menabalkan kata zawiyah pada nama pergu­ruan tinggi Islam ini.

Seiring perkembangan za­man, pesantren mulai bermeta­morfosis menjadi pesantren mo­dern. Ada sistem penggabungan antara siswa sekolah dan santri mengaji. Jika ke Aceh dan ingin melihat pesantren, ada baiknya Anda ke Samalanga, sebuah ke­camatan di Kabupaten Bireuen. Kecamatan Samalanga dijuluki Kota Santri.

Santri, sebutan bagi penun­tut ilmu agama. Mereka meng­habiskan seluruh waktu untuk mengaji, mengaji, dan mengaji. Ya, itulah tujuan hidup mere­ka, mengaji dan mengajar. Sejujurnya, Aceh punya isti­lah tersendiri untuk sebutan santri, yaitu aneuk meudagang . Namun, istilah ini tidak lagi sering digunakan oleh masyara­kat Aceh. Beda dengan sebutan kiai atau kiyai yang tak diadopsi oleh masyarakat Aceh, sebab di Aceh ada istilah tersendiri un­tuk itu, yaitu teungku.

Samalanga merupakan sa­lah satu kecamatan di Kabu­paten Bireuen, daerah peng­hasil aneka keuripèt (keripik) yang saat ini dipimpin oleh H Saifannur SSos.

Di Samalanga banyak sekali pesantren, salah satunya Lem­baga Pendidikan Islam Ma'hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah Mas­jid Raya atau yang sering dising­kat MUDI Mesra.

Menurut sebuah riwayat, MUDI adalah salah satu pe­santren tertua di Aceh. Pele­takan batu pertama pesantren ini dilakukan oleh Sultan Is­kandar Muda yang berkuasa antara tahun 1607-1636 M.

Pesantren tersebut kini di­pimpin oleh salah seorang ulama karismatik Aceh, yaitu Tgk H Hasanoel Basry bin H Gadeng yang lebih populer de­ngan sapaan Abu MUDI.

Jika Anda mengunjungi Da­yah MUDI Mesra, jangan lupa menziarahi makam Tgk H Ha­nafiah bin Abbas, letaknya di belakang Mesjid Raya Samal­anga. Salah satu hal yang mem­buat nama Teungku Abi (Tgk H Hanafiah bin Abbas) selalu ter­dengar hingga sekarang adalah keberadaan sumur yang didoa­kan oleh Teungku Abi.

Sumur itu menjadi sumber air minum bagi santri-santri yang belajar di dayah MUDI Mesra hingga sekarang. Tak pernah ke­ring, walau kemarau panjang.

Santri Dayah MUDI pun ti­dak harus memasak air atau membeli air minum isi ulang, karena air sumur yang didoa­kan oleh Teungku Abi cukup untuk kebutuhan seluruh san­tri MUDI yang kini mencapai sekitar 7.000 orang.

Dahulunya sumur ini dapat dilihat dengan jelas, tapi se­telah perluasan Masjid Raya Samalanga pada awal 2010, sumur ini sedikit tertutup ka­rena sudah masuk dalam ba­gian masjid. Walau demikian, sumur ini tidak diganggu dan masih difungsikan hingga kini.

Jika beruntung, kita juga bisa bertemu dengan Abu MUDI, sekaligus minta dido­akan, apalagi Anda yang ikut CPNS tahun ini, saingannya berat, mungkin berkat doa ulama menjadi sebab kita ber­hasil. Ya, namanya saja usaha.

Beberapa meter dari Dayah MUDI berdiri megah Dayah Um­mul Ayman, di bawah pimpinan Teungku Nuruzzahry (Waled Nu). Di depannya juga ada Da­yah Muslimat dan banyak lagi. Jika ingin membahasnya tidak cukup waktu sehari, saking ba­nyaknya dayah di kawasan ini. Sangat pantas jika mendapat julukan Kota Santri.

Selain dayah, ada kisah seja­rah yang harus dikenang agar menjadi motivasi anak muda un­tuk terus berjuang, yakni sosok Pocut Meuligoe. Pocut Meuligoe adalah seorang pemimpin wanita, pewaris takhta Kerajaan Sama­langa (Aceh). Ia termasuk dalam para wanita pejuang Aceh, seke­las Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, dan Teungku Fakinah.

Keberanian Pocut Meuligoe direkam oleh seorang kapten Be­landa bernama Schumacher. Ia menulis tentang kebencian Po­cut Meuligoe terhadap Belanda. Pernah ia perintahkan semua rakyatnya untuk berperang me­lawan Belanda, meskipun harus meninggalkan sawah dan ladang. Rakyat yang mangkir atau eng­gan mendapat hukuman berat.

Pengaruh perempuan muda ini tidak hanya di Samalanga, ia sering mengirim bantuan dana, keperluan logistik, dan senja­ta ke Aceh Besar untuk mem­bantu pasukan-pasukan Aceh. Samalanga bisa memberikan kontribusi finansial yang besar bagi perjuangan Aceh karena perdangan ekspor Samalanga berkembang baik pada saat itu.

Pada tahun 1904, Van Der Heijden mengerahkan pasuk­an meriam. Usahanya kali ini mengakhiri perlawanan peju­ang Samalanga selama lebih 30 tahun melawan Belanda. Lamanya Samalanga bertahan dari serangan Belanda tidak terlepas dari peran kepemim­pinan Pocut Meuligo.

Perempuan salihah ini pan­tang menyerah pada musuh dan selalu memompakan se­mangat juang kepada rakyat­nya dengan tetap bersandar pada kekuatan Allah Swt se­bagai hamba yang beriman kepada-Nya. Semoga pejuang bangsa Aceh mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah.

Tun Sri Lanang

Masih di Samalanga, saat men­jadi santri, saya sering melihat ma­kam Tun Sri Lanang, dan hari ini saya baru tahu bahwa Tun Sri La­nang merupakan seorang ahli pe­merintahan dan pujangga Melayu dengan karyanya yang monumen­tal berupa kitab Salalatus Salatin.

Tersiar kabar beliau raja (ulee balang) pertama Sama­langa, bernama asli Tun Mu­hammad dan bergelar Datuk Bendahara Tun Muhammad.

Tun Sri Lanang menurun­kan garis keturunan di Malay­sia dan Indonesia. Di Malay­sia, keturunannya merupakan para sultan di Melayu, seperti Sultan Pahang, Sultan Johor, Sultan Trengganu, dan Sultan Selangor. Sedangkan di Aceh, Tun Sri Lanang menurunkan darah keberanian dan perju­angannya kepada Pocut Meul­igoe, keturunan kelima yang memimpin perlawanan ter­hadap Belanda hingga terusir dari Samalanga. Tun Sri La­nang wafat tahun 1659 dan je­nazahnya dimakamkan di de­kat pesantren yang dibangun­nya di Kuta Blang, Samalanga.

Selain menjadi kota santri dan benteng pertahanan, Sa­malanga juga menjadi salah satu pusat wisata, di Batee Iliek salah satunya. Batee iliek itu sebutan sungai yang meng­alir dari Pidie Jaya hingga ke Samalanga. Mengapa disebut Batee Iliek? Batee sendiri ada­lah terjemahan dari bahasa Aceh yaitu batu, sedangkan iliek asalnya adalah ile atau mengalir jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Karena banyaknya batu besar yang di­aliri oleh air di sungai ini maka Batee Ilieklah sebutannya.

Di Batee Iliek, kita bisa me­rasakan kesejukan air pengu­nungan langsung. Tempat ini kerap dijadikan sebagai tempat liburan akhir pekan, kita bisa mandi sepuasnya, tanpa harus membayar tiket.

Keindahan sungainya ter­lihat jelas dari atas jembatan Batee Iliek tepat di atas air yang mengalir. Udara di sekitar sungai dan lereng bukit terasa sejuk dengan panorama alam yang memesona.

Di sekitar Krueng Batee Iliek juga banyak pedagang yang me­nyediakan aneka makanan. Na­mun, yang fenomenal di situ ada­lah rujaknya. Kata pengunjung sih rujaknya sangat enak. Jadi, jangan lupa dicoba saat singgah ke sana. Bagaimana, Kota Santri Samalanga menarik bukan un­tuk dikujungi? Selamat berkun­jung. Idafitrih155@gmail.com  

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved