JURNALISMEWARGA

Melawan Lupa Membangun Siaga

MANUSIA harus terus membangun kesadaran bahwa tidak ada kejadian di muka bumi ini melainkan atas izin dari Allah Swt. Sehelai daun yang jatuh ke tanah

Editor: hasyim
IST
SYAWITRI RAUZIAH 

SYAWITRI RAUZIAH,

Anggota Jurnalistik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Banda Aceh

MANUSIA harus terus membangun kesadaran bahwa tidak ada kejadian di muka bumi ini melainkan atas izin dari Allah Subhanahu wata’ala. Sehelai daun yang jatuh ke tanah pun berada dalam genggaman urusan Allah. Apalagi bencana besar yang terjadi pada Minggu pagi, 26 Desember 2004 silam. Gempa yang berkekuatan 9,3 SR disusul serta gelombang tsunami yang menggulung Seuramoe Mekkah tersebut menjadi sejarah pahit bangsa Indonesia, khususnya rakyat Aceh. Air bah besar yang menyapu seluruh sudut provinsi Aceh seperti Kota Banda Aceh, Sabang, Pidie, dan sekitarnya membuat hampir seluruh daerah di Aceh lumpuh total.

PBB mencatat, tsunami yang melanda Aceh 15 tahun silam menjadi bencana alam terparah sepanjang perjalanan sejarah modern. Kejadian itu tentunya menyebabkan kerugian besar dalam segi infrastruktur, perekonomian rakyat tersungkur, dan tentunya menyisakan bekas luka di hati rakyat Aceh. Namun, kejadian itu buka menjadi alasan untuk Aceh terus terpuruk dalam duka. Pemerintah dan rahyat Aceh tidak putus asa. Sedikit demi sedikit Aceh bangun dari keterpurukan meskipun tertatih-tatih.

Perlu kita sadari bersama bahwa bencana tidak selamanya menghancurkan, tetapi bencana juga dapat menyatukan. Salah satu hikmah terbesar yang dapat kita rasakan dari bencana tsunami 15 tahun silam adalah terwujudnya perdamaian di Aceh antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah RI. Konflik Aceh yang berlangsung kurang lebih 30 tahun tersebut akhirnya diselesaikan secara damai setelah bencana tsunami memorakporandakan Serambi Mekkahnya Indonesia.  Bukti bahwa tsunami Aceh membuka jalan lebar menuju perubahan dan perdamaian, melalui kesepakatan dan pernyataan damai antara GAM dan Pemerintah Indonesia pun terwujud pada tanggal 15 Agustus 2005.

Maka dari itu, merawat Aceh pascatsunami adalah perjuangan. Pemerintah, stakeholders, dan rakyat Aceh sendiri terus berproses membangkitkan dan memajukan Aceh. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya sesuai dengan bidang dan sektornya masing-masing. Seperti di bidang pembangunan jalan, gedung, maupun jembatan sebagai akses transportasi. Namun, tidak mudah membangun suatu daerah pascabencana alam yang luar biasa dahsyatnya itu. Semuanya harus mulai dari nol kembali.

Setelah tsunami, mungkin dulu Aceh menjadi kota yang mati karena semua aktivitas keseharian masyarakat terhenti. Tapi tak lama setelah itu, bantuan demi bantuan berdatangan. Tidak hanya dari dalam negeri saja, tetapi juga dari luar negri. Berkat berbagai bantuan yang diberikan dan digunakan dengan sebaik-baiknya menjadikan Aceh bangkit kembali. Walaupun dalam proses pemulihan tidak secepat kilat, tetapi kini Aceh menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Setiap tahunnya selalu ada program yang diselenggarakan oleh Pemerintah Aceh untuk memperingati hari tsunami. Dalam peringatan tersebut ada empat tujuan utama. Yaitu refleksi, apresiasi, mitigasi, dan promosi. Bencana apa pun yang menimpa kita harus dapat menjadi ibrah untuk diri kita agar terus mengintrospeksi diri dan terus berbenah. Inilah bagian dari refleksi. Peringatan tsunami di Aceh akan selalu menjadi momentum penting. Dalam rangka peringatan hari tsunami dan juga untuk mengenang dan berterima kasih kepada seluruh masyarakat nasional dan internasional atas segala dukungan, bantuan, dan solidaritas sosial dalam membantu pembangunan Aceh. Inilah yang merupakan bagian dari apresiasi.

Mengenai mitigasi, masyarakat harus terdorong untuk mau belajar dan bersahabat dengan bencana, mengingat Aceh juga termasuk daerah rawan bencana. Sudah sepatutnya seluruh rakyat Aceh membangun budaya siaga bencana dalam upaya mengantisipasi bencana-bencana yang sangat mungkin terjadi di masa yang akan datang karena bencana tidak bisa kita prediksikan kapan datangnya. Sementara dari sisi promosi, objek-objek wisata yang menjadi saksi bisu kejadian tsunami menjadi media efektif untuk diperlihatkan kepada masyarakat global tentang ketahanan, kekuatan, dan ketabahan masyarakat Aceh ketika tsunami menerjang.

Beberapa contoh warisan tsunami Aceh yang kini menjadi ikon terpenting Kota Banda Aceh adalah Museum Tsunami. Untuk mengabadikan momen bersejarah, pemerintah membangun Museum Tsunami. Tujuan dibangunnya museum tersebut bukan hanya untuk mengenang musibah besar yang terjadi pada tahun 2004 silam, tetapi juga untuk membangun objek wisata bagi para wisatawan yang ingin berkunjung ke Aceh. Dengan desain yang cukup unik dan menarik itu, museum mampu menarik perhatian para wisatawan dalam negeri maupun luar negri.

Bukti lain dari warisan tsunami yang tak kalah eloknya adalah Masjid Baiturrahman. Tempat ibadah yang megah ini juga menjadi saksi bisu bencana tsuami 15 tahun silam, juga sempat menjadi bahan perbincangan masyarakat disebabkan masjid ini tetap kokoh berdiri walaupun dihantam gelombang tsunami yang tingginya kurang lebih empat meter. Walaupun demikian, masjid ini tetap diperbaiki kerusakan-kerusakan kecilnya, dicat kembali, dan penampilannya diperbarui sehingga mirip dengan Masjid Nabawi, apalagi setelah dilengkapi dengan payung raksasa.

Meskipun banyak hikmah yang dapat kita rasakan dari apa yang telah terjadi pada tahun 2004 silam, pasti tidak ada satu pun yang ingin kejadian itu terulang kembali. Namun, kesadaran masyarakat terhadap bencana masih rendah. Masyarakat masih panik dan trauma ketika gempa terjadi. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk membudayakan sadar bencana agar setidaknya dapat memperkecil jumlah korban jika suatu hari nanti bencana kembali melanda.

Sekolah sadar bencana, menurut saya, merupakan solusi yang efektif. Hal ini membentuk pengetahuan dan karakter anak dalam menghadapi bencana. Pendidikan tersebut sepatutnya dilakukan sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga jenjang pendidikan tertinggi. Dalam pendidikan ini bukan hanya berupa teori, karena yang paling penting adalah simulasi. Contohnya di Jepang, setiap sekolah melakukan pelatihan sadar bencana dengan memberikan simulasi kepada murid-muridnya.

Bicara tentang sadar bencana, sebenarnya bangsa Indonesia sudah cukup lama sadar akan bencana. Seperti rumah yang dibangun oleh nenek moyang kita dulu yang dibuat lebih tinggi agar tidak terkena banjir dan bangunan ini juga lebih tahan gempa. Namun sayangnya, dalam proses peralihan dari bangunan tradisional ke modern tidak diikuti dengan kesadaran masyarakat akan bahaya bencana alam. Tak heran jika terjadi gempa, banyak bangunan yang luluh lantak karena tak kuat menahan goncangan. Hal yang demikian terjadi karena bangunan tersebut tidak memiliki fondasi yang kuat untuk menopangnya.

Oleh karena itu, dalam momentum peringatan 15 tahun tsunami bulan ini, harus menjadi batu loncatan bagi masyarakat Indonesia, khususnya Aceh, untuk dapat belajar dari bingkai dan bangkai peristiwa agar ketika bencana kecil maupun besar terjadi, sudah memiliki bekal untuk menghadapinya dengan menumbuhkan sikap sadar dan bersahabat dengan bencana. Mari melawan lupa dan membangun siaga!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved