Kupi Beungoh

Banjir Aceh yang Menghapus Sebuah Kampung

Salah satu perubahan terbesar terlihat pada infrastruktur kampung. Jalan yang dahulu menghubungkan dusun dengan pasar kini buntu.

Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Prof.Dr.dr. Rajuddin, SpOG(K).,Subsp.FER, Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh dan Sekretaris ICMI Orwil Aceh 

Oleh: Prof. Dr. dr. Rajuddin, Sp.OG(K), Subsp.FER*)

Bencana banjir dan longsor pada 26 November 2025 tercatat sebagai salah satu peristiwa paling memilukan di Aceh dalam beberapa tahun terakhir.

Bukan hanya karena luapan air yang tinggi atau material longsoran yang menyapu ladang, tetapi karena peristiwa itu menghilangkan jejak sebuah kampung dari peta kehidupan. 

Ketika laporan pertama masuk, tidak banyak yang menduga bahwa sebuah kampung bisa hilang hanya dalam hitungan jam.

Barulah setelah tim peninjau turun ke lokasi, skala kerusakan menjadi nyata dan sulit untuk dipercaya. 

Seorang saksi menuturkan, “Yang tersisa hanya air, lumpur, dan satu rumah yang masih bertahan.”

Di Banda Aceh, Gubernur Aceh menerima laporan tersebut dengan menahan haru, meneteskan air mata ketika mengetahui bahwa selain rumah-rumah yang hancur, yang hilang sesungguhnya adalah ruang sosial tempat keluarga tumbuh, anak-anak belajar, dan warga menanam kenangan. 

Kampung tidak hilang sebagai bangunan, tetapi hilang sebagai kehidupan. Kisah itu bermula dari hujan yang turun tanpa jeda selama dua hari. Banjir datang lagi di Panti Labu, sebuah kampung di Aceh Timur yang beberapa tahun terakhir menjadi langganan rendaman. 

Air dari hulu mengalir deras membawa lumpur dan pepohonan, sementara parit dan sungai kecil yang ada tidak mampu lagi menahan tekanan volume air. Ketika batas wilayah kampung sudah mulai tergenang, air sudah tidak lagi mengikuti jalur alamnya. Air mengambil ruang yang ditemuinya, termasuk halaman rumah dan jalan desa.

Hujan deras yang berlangsung siang-malam akhirnya memaksa aliran air melewati pemukiman dan menutup akses warga menuju desa-desa sekitar. Rumah-rumah di dataran rendah terendam, dapur dan ruang tamu berubah menjadi kanal kecil, dan kendaraan tidak dapat lagi diselamatkan dan digunakan. 

Warga hanya bisa memantau sambil menunggu kapan air akan berhenti naik, tanpa kepastian kapan akan surut. Di daerah seperti Panti Labu, musim hujan bukan sekadar pergantian cuaca dari panas ke dingin. Musim hujan adalah penanda bahwa ritme kehidupan segera berubah. 

Jalan-jalan yang biasanya dilalui anak sekolah kini macet oleh lumpur tebal, ladang dan kebun yang setiap hari menjadi sumber rezeki tenggelam tanpa jejak, dan rumah harus diposisikan sebagai tempat bertahan, bukan sekadar tempat tinggal. Dalam kondisi itu, air menentukan kapan hidup berjalan dan kapan harus berhenti. 

Baca juga: Miris! 50 Hari Pascabencana, 24 Desa di Aceh Tengah Masih Terisolir  

Jalan Tiba-Tiba Berakhir

Salah satu perubahan terbesar terlihat pada infrastruktur kampung. Jalan yang dahulu menghubungkan dusun dengan pasar kini buntu. Kendaraan tidak bisa tembus; pengendara harus memutar jauh ke arah lain, atau menunggu surut sambil bertaruh dengan waktu. 

Seorang warga menggambarkan kondisi itu dalam bahasa sederhana: “Dulu bisa tembus ke kota, sekarang buntu. Musim banjir tak bisa lewat lagi.” Bagi penduduk kota, jalan buntu mungkin hanya hambatan teknis. Namun bagi warga desa, jalan adalah urat nadi sosial-ekonomi. 

Di situlah anak-anak berangkat sekolah, petani membawa hasil panen, dan ibu-ibu ke puskesmas untuk berobat. Ketika jalan terputus, yang terputus bukan sekadar transportasi, tetapi yang terputus adalah ritme kehidupan sehari-hari.

Sisa Rumah yang Menjadi Penanda

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved