Jumat, 24 April 2026

15 Tahun Tsunami Aceh

ICAIOS: 15 Tahun Pascatsunami, Aceh Belum Tangguh Bencana

Kembalinya Aceh ke keadaan yang normal itu mungkin dianggap cukup baik oleh sejumlah kalangan.

Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Nur Nihayati
For Serambinews.com
Dr Saiful Mahdi 

Kembalinya Aceh ke keadaan yang normal itu mungkin dianggap cukup baik oleh sejumlah kalangan.

Laporan Yarmen Dinamika l Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Sejumlah hasil riset tim peneliti dari Pusat Kajian Antarbangsa tentang Aceh dan Lautan Hindia atau International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) menunjukkan bahwa Aceh telah kembali ke keadaan “normal” seperti sebelum musibah besar gempa dan tsunami, 26 Desember 2004.

Kembalinya Aceh ke keadaan yang normal itu mungkin dianggap cukup baik oleh sejumlah kalangan.

Namun, ini juga menunjukkan usaha membangun kembali Aceh dengan lebih baik (build back better) seperti yang pernah digaungkan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias dan sejumlah donor belum berhasil secara optimal.

Peringatan Tsunami di Pidie Diliput Media Asing, Angkat Tema Melawan Lupa Mempersiapkan Siaga

Warga Bireuen tak jadi Shalat Gerhana, Begini Penampakan Matahari

Tutup Mata Pakai Kaca Film Riben, Tingkah Bocah Singkil Demi Melihat Gerhana Matahari

“Rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascabencana smong (tsunami) 2004 sangat luar biasa.

Sebuah program pembangunan pascabencana terbesar dan paling kompleks di dunia.

Banyak sekali hasil yang baik. Tapi sayang, 15 tahun setelahnya, dampak pembangunan itu tidak banyak yang bertahan, terutama yang nonfisik.

Jadi, ada masalah keberlanjutan,” ujar Dr Saiful Mahdi, Dosen Jurusan Statistika FMIPA Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Kamis (26/12/2019) siang.

Saiful selaku peneliti senior ICAIOS ikut memimpin tim peneliti antaruniversitas dan antarbangsa bersama Prof Patrick Daly dari Nanyang Technological University lewat Pusat Pengamatan Bumi Singapura atau Earth Observatory of Singapore (EOS).

Penelitian yang dilakukan sepanjang 2014-2017 itu melibatkan 127 peneliti, asisten peneliti, dan peneliti lapangan dari Unsyiah, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara, NTU-EOS, dan Monash University, Australia.

Sebagian hasil kajian mulai dipublikasi sejak 2017, tapi sebagian lagi masih dalam proses analisis menjelang dipublikasi.

“Kita memeriksa dampak bantuan tsunami dalam jangka panjang, lebih sepuluh tahun setelah megabencana itu di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Aceh Jaya.

Sengaja kita lakukan jauh setelah bencana dan setelah proses rehabilitasi dan rekonstruksi untuk menilai dampak jangka panjang dan keberlanjutannya,” tambah Saiful Mahdi, Direktur Eksekutif ICAIOS periode 2009-2016.

Sementara itu, Ibnu Mundzir, Program Officer ICAIOS menambahkan, penelitian ini fokus pada lima sektor, yaitu perumahan, ekonomi, dan mata pencaharian, demografi, tata kelola dan masyarakat sipil, serta pengurangan risiko bencana.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved