SALAM SERAMBI

Mengingatkan Supaya Kita Siap Menghadapi Bencana  

Kemarin, tepat 15 tahun mahabencana gempa dan tsunami menerjang Aceh (26 Desember 2004-26 Desember 2019)

Mengingatkan Supaya Kita Siap Menghadapi Bencana   
SERAMBINEWS/M ANSHAR
Tentara Spanyol saat tiba dengan kapal Galicia di kawasan Lampulo, Banda Aceh, (15, Februari 2005). Mereka datang membawa obat obatan dan makanan untuk korban tsunami Aceh. 

Kemarin, tepat 15 tahun mahabencana gempa dan tsunami menerjang Aceh (26 Desember 2004-26 Desember 2019). Sejak tahun 2005, setiap tanggal 26 Desember, pemerintah dan masyarakat selalu memperingatinya dengan berbagai kegiatan, terutama yang mendekatkan diri dengan Allah Swt. Berbagai kegiatan digelar pemerintah bersama masyarakat. Ada zikir bersama, ceramah, ziarah ke kuburan massal korban tsunami, dan lain-lain.  

Namun, yang juga penting dari setiap peringatan itu adalah mengingatkan masyarakat dan pemerintah tentang kesiapan kita semua mencegah dan mengantisipasi bencana. Sebab, menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tingkat kesiapsiagaan Indonesia menghadapi bencana masih rendah. Peneliti Bidang Ekologi Manusia Deny Hidayati mengatakan di tingkat daerah kepedulian bencananya tak memenuhi parameter kesiapsiagaan. Setelah terjadi bencana besar seperti tsunami Aceh, gempa di Lombok dan Palu, kepeduliannya meningkat, namun dengan mudah kembali dilupakan.

Apa yang harus diingat? Ya, antara lain soal sistem peringatan dini. Untuk itu, kita harus selalu merawat dan memastikan semua fasilitas terkait dengan antisipasi bencana berfungsi secara baik. Jangan sampai, karena alasan keterbatasan dana sistem peringatan dini tidak berfungsi maksimal.

Seorang pejabat terkait pernah mengatakan, “Indonesia memiliki sistem peringatan dini tsunami, yakni InaTEWS. Sistem yang diluncurkan sejak 2009 ini menggabungkan data seismik, GPS, Buoy, dan Tide Gauge. Masalahnya, karena keterbatasan dan dan infrastruktur membuat tidak semua data tersebut bisa diperoleh. Padahal, data dari seismograf ini menjadi andalan dalam pemantauan tsunami.”

Data seismik saja belum cukup akurat dalam mendeteksi potensi tsunami. Perlu didukung data tambahan, salah satunya dari stasiun sistem pemosisian global (GPS). Alat ini bisa mengukur data pergeseran permukaan bumi yang disebabkan gempa dengan bantuan satelit. Saat ini Indonesia hanya memiliki tujuh stasiun GPS. Data yang lebih akurat dalam mendeteksi tsunami, bisa menggunakan Buoy. Alat ini bisa mendeteksi tekanan gelombang di dasar laut secara cepat. Tinggi gelombang yang akan terhempas ke pesisir pantai, bisa terdeteksi secara akurat. Jika berpotensi tsunami, alarm peringatan dini sudah bisa diaktifkan.

Masalahnya lagi, perangkat Buoy yang ada di Indonesia hanya 27 unit. Itupun mayoritas sumbangan dari negara lain pasca-Tsunami Aceh 2004. Jerman menyumbang 10 unit, Malaysia (1 unit), dan Amerika Serikat (2 unit). Hanya 8 unit yang dibangun sendiri h pemerintah. Sebanyak 22 unit di antaranya sudah tidak berfungsi sejak 2012. Hanya ada 5 unit Buoy yang bukan milik Indonesia masih bisa digunakan. India (1 unit) di Aceh, Thailand (1 unit) di Laut Andaman, 2 unit milik Australia di Sumba, dan milik Amerika Serikat di Papua.

Selama ini pengadaan dan perawatan Buoy menjadi kewenangan Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT). Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Hammam Riza pernah mengatakan pemerintah perlu mengalokasikan dana lebih, jika ingin menghidupkan kembali Buoy. Menurutnya, biaya untuk pengadaan 25 unit buoy mencapai Rp 150 miliar dan biaya perawatannya sebesar Rp 30 miliar per tahun.

Anggaran segitu memang sangat besar, tapi terlalu kecil dibanding betapa pentingnya memaksimalkan kemampuan deteksi dini tsunami untuk menyelamatkan nyawa banyak orang. Oleh sebab itu, kembali kita katakan bahwa setiap kali peringatan bencana, yang harus selalu memnjadi perhatian pemerintah adalah tentang fungsi sistem-sistem peringatan dini.

Presiden Joko Widodo juga sangat memberi perhatian tentang perlu adanya pembenahan. Tepat setahun yang lalu, Presiden sudah memerintahkan BMKG untuk segera membeli alat deteksi dini tsunami. "Saya sudah perintahkan BMKG untuk membeli alat-alat deteksi early warning system yang bisa memberikan peringatan-peringatan dini," kata Jokowi saat meninjau lokasi bencana tsunami di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Selain itu, seperti yang sudah mendapat sorotan dalam laporan khusus harian ini kemarin adalah tentang perawatan gedung-gedung tempat penyelamatan diri (escape bulding) yang ternyata kebanyakan kurang terawat. Ini juga harus menjadi perhatian dari pemerintah. Masyarakat juga harus ikut merawat fasilitas-fasulitas penyelamatan diri dari bencana.

Hal lain yang tak kalah penting juga adalah mengenai jalur penyelamatan diri atau evakuasi yang kebanyakan tidak terurus. Rambu-rambu petunjuk jalur evakuasi ada yang menumpuk ada pula yang sama sekali sudah raib. Nah!?

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved