SALAM SERAMBI

Awas, Hujan Lebat Masih Mengancam!

PEJABAT BMKG Pusat dua hari lalu memperingatkan pe­merintah dan masyarakat bahwa hujan lebat dan angin kencang masih berpotensi

Awas, Hujan Lebat Masih Mengancam!
INFO BMKG
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Malikussaleh Aceh Utara memprediksi akan terjadi hujan, berawan, dan cerah di sebagian Aceh atau dienam kabupaten/kota selama tiga hari kedepan atau mulai Senin (6/1/2020) hingga Rabu (8/1/2020) 

PEJABAT BMKG Pusat dua hari lalu memperingatkan pe­merintah dan masyarakat bahwa hujan lebat dan angin kencang masih berpotensi terjadi di semua provinsi dalam pekan ini. Curah hujan yang cukup signifikan berpeluang ter­jadi di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, ter­maksuk Kalimantan. "Periode tanggal 5 sampai 10 Januari 2020, ada indikasi potensi curah hujan yang cukup signifikan di wilayah Sumatera dan lainnya," kata BMKG.

Ditegaskan, curah hujan dalam bulan ini didominasi inten­sitas tinggi, berbeda dengan curah hujan di bulan Septem­ber tahun lalu. Intensitas tinggi itu di atas 300 mm per bu­lan, bulan Februari dan Maret juga sama. Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat memperhatikan intensitas hujan ber­dasarkan bulannya terlebih dulu. Hal tersebut perlu diketahui masyarakat sebelum mengetahui potensi bencana yang terja­di akibat intensitas hujan, seperti banjir dan longsor.

BMKG pun berharap masyarakat dapat tanggap dan pe­duli tentang potensi bencana yang dapat terjadi di lingkung­annya dengan cara terus memperbaharui informasi yang di­berikan BMKG. Satu di antaranya terkait potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang yang diprediksi akan terjadi dalam pekan ini.

Belakangan ini BMKG memang sangat aktif mengupdate informasi terkait cuaca di tanah air yang memang sedang berduka.n Ada banjir dan tanah longsor yang melanada se­bagian Provinsi DKI, Jawa Barat, dan Banten. Ada juga ta­nah longsor dan banjir banda yang melanda sejumlah pro­vinsi lainnya.

Saat ini ada berpuluh-puluh ribu warga yang tinggal di tem­pat pengungsian dalam kondisi yang memprihatinkan. Ru­mah dan harta benda mereka sudah habis tersapu banjir, tanah longsor, dan banjir bandang. Yang sangat memprihatin­kan, tragedi yang memilukan ini ada yang memanfaatkannya sebagai bahan politisasi. Di antara pejabat pemerintah dan pusat juga saling menyalahkan.

Kita tak mau ikut-ikutan mempolitisasi bencana. Yang kita lihat sekarang, seperti juga dilihat banyak pengamat, bahwa minimnya pengetahuan warga tentang mitigasi bencana ada­lah hal yang memperparah keprihatinan setiap kali terjadi bencana. Ini tak bisa lagi dibiarkan terus begini. Masyarakat harus diajarkan bersikap waspada bencana sepanjang waktu.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa secara geo­grafis dan geologis wilayah Indonesia, termasuk Aceh, me­mang sangat rentan dengan berbagai bencana alam, bahkan kita berada dalam lingkaran api (ring of fire). Namun, dalam menghadapi bencana alam, seperti erupsi Gunung Merapi, gempa bumi, banjir dan atau tsunami, masih saja terkesan reaktif dan selalu terlambat mengantisipasi dan mencari so­lusinya. Belum ada platform yang jelas untuk mengantisipasi potensi bencana, termasuk ketersediaan alat-alat yang sa­ngat penting dalam menanggulangi, baik alat-alat berat mau­pun media komunikasi yang tepat dalam mengantisipasi seti­ap bencana yang akan terjadi.

Ketidakseriusan negara atau pemerintah sering mengemu­ka karena alasan akses dan peralatan yang terbatas. Pada­hal, amanat PP Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelengga­raan Penanggulangan Bencana sudah jelas dan rinci tentang pemetaan potensi bencana dan cara-cara peringatan dini dan atau sesudah bencana terjadi. Namun, sayangnya, pelaksa­naan dan penguatan lembaga ini di daerah seakan terlupa­kan dan korban terus berjatuhan.

Mitigasi bencana sebagai upaya untuk mengurangi risi­ko dapat dilakukan melalui pembangunan fisik, penyadar­an, dan peningkatan kemampuan menghadapi bencana. Jika mencermati perkembangan tentang konsep dan implementa­si komunikasi mitigasi bencana, di berbagai belahan dunia telah lama dikembangkan. Pengalaman menjadi korban ben­cana bertahun-tahun sesungguhnya sudah harus mengingat­kan pemerintah dan masyarakat bahwa menghadapi benca­na alam senantiasamemerlukan perencanaan, pengelolaan, dan komunikasi yang benar-benar serius dan berkelanjutan. Sebagai satu strategi, komunikasi risiko tidak bersifat insi­dental atau reaktif, tetapi jauh-jauh hari telah dipersiapkan berbagai fasilitas yang memadai, cepat dan tepat di setiap lokasi bencana, sesuai karakteristik wilayah dan potensi ben­cana itu sendiri.

Anjuran yang tak pernah bosan kita sampaikan adalah jaga kelestarian lingkungan dan terus berdoa agar kita dijauhi dari bencana. Aamiin

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved