Breaking News:

Jokowi Kesal Dalam Rapat di Istana, Janjinya Turunkan Harga Gas Sejak 2016 Ternyata Tak Terealisasi

Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatasnya Senin kemarin (6/1/2020), di Istana Kepresiden, merasa kesal dengan melambungnya harga gas industri

Editor: Muhammad Hadi
KOMPAS.com/SABRINA ASRIL
Presiden Joko Widodo (Jokowi) 

SERAMBINEWS.COM - Presiden Joko Widodo ( Jokowi) dalam rapat terbatasnya Senin kemarin (6/1/2020), di Istana Kepresiden, merasa kesal dengan melambungnya harga gas industri.

Jokowi bahkan sempat ingin berkata kasar karena geram dengan mahalnya harga gas.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Elisa Sinaga, mengungkapkan mahalnya harga gas seperti masalah klasik yang tak kunjung bisa diselesaikan.

"Padahal kita kan ingat, sekitar kalau nggak salah tiga tahun lalu kan janji katanya gas sudah bisa berikan penurunan gas. Kita percaya, kepercayaan ini yang penting," ujar Elisa kepada Kompas.com, Selasa (7/1/2020).

Ronaldo Ucapkan Selamat Kepada Martunis, Bulan Depan Menikah, Disampaikan Lewat Asistennya

Menurutnya, jika negara tetangga saja bisa memberikan harga gas terjangkau, hal yang sama bisa diterapkan di Indonesia.

Sebagai perbandingan terdekat, Malaysia yang juga produsen gas menetapkan harga gas industri di kisaran 5 dollar AS per juta metrik british thermal unit (MMBTU).

Sementara Thailand yang gasnya impor harga gasnya sedikit lebih mahal, yakni sekitar 8 dollar AS per MMBTU.

"Tinggal seberapa mampu pemerintah dan seberapa effort-nya, kita perhatikan betul. Jangan bilang oh nggak bisa turun, negara nggak mampu. Jadi bisa harga 5 dollar (per MMBU) bagus, bisanya 6 dollar (per MMBTU) juga monggo. Buktinya negara lain bisa kok," ucapnya.

Ribuan Ikan Mati Mendadak di Keramba Aliran Sungai Cunda Lhokseumawe

Lanjut Elisa, Singapura yang kebutuhan gas seluruhnya berasal dari impor, bahkan berani mematok harga 5 dollar AS per MMBTU.

"Singapura kan beli dari kita gasnya. Tapi di Singapura sebagai catatan, yang mendapatkan harga gas murah hanya industri-industri tertentu saja, tidak semua, makanya pemerintah kasih subsidi," terang Elisa.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved