Opini

Fakta Terkait Misteri Kawasan Bermagnet di Blang Bintang  

Ketika pertama kali mengetahui adanya unggahan terkait dengan fenomena alam yang mensinyalir keberadaan sebuah gunung magnet

Fakta Terkait Misteri Kawasan Bermagnet di Blang Bintang   
IST
Dr. Bambang Setiawan, ST., M.Eng.Sc, Koordinator Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala

Oleh Dr. Bambang Setiawan, ST., M.Eng.Sc, Koordinator Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala

Ketika pertama kali mengetahui adanya unggahan terkait dengan fenomena alam yang mensinyalir keberadaan sebuah gunung magnet di Aceh Besar, sebagai seorang geolog, saya mencoba mencari referensi akan kondisi geologi di lokasi kejadian. Kalau tidak salah, beberapa mahasiswa Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala telah memetakan kondisi geologi secara lebih detil di sekitar kawasan lokasi kejadian dan tidak memberikan informasi tentang adanya medan magnet yang besar di lokasi pemetaan mereka.

Kemudian, data geologi regional yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi di tahun 1981 saya dapati akan batuan di daerah lokasi kejadian yang berupa Satuan Vulkanik Lam Teuba (Qtvl) berumur Plistosen yang terdiri dari: batuan gunung api andesit, dasit, breksi batu apung, tufa, aglomerat, aliran abu di dalamnya terdapat lahar (Qvtl). Pada beberapa kawasan, satuan batuan tersebut sebagian ditutupi aluvium (Qh) berupa kerikil, pasir dan lumpur (Bennett, dkk, 1981).

Beberapa peneliti mengatakan bahwa batuan andesit mempunyai potensi kandungan magnet yang cukup tinggi (Li & Fu, 2019). Adanya batuan andesit dalam satuan batuan di sekitar lokasi kejadian tersebut menjadi motivasi saya untuk meninjau langsung ke lapangan.

Dalam beberapa hari terakhir ini pun, beberapa media di Aceh terus memberitakan tentang bergerak naiknya mobil yang dalam kondisi `idle' di salah satu bagian di ruas Jalan Blang Bintang-Ie Seum Aceh Besar itu. Fenomena ini telah memacu antusias yang luar biasa dari berbagai kalangan di Aceh. Salah satu yang diduga memacu antusias dari fenomena ini adalah ketertarikan sebagian besar masyarakat akan adanya gaya tarik bumi (gravitasi) atau gaya magnet atau faktor lain yang menarik mobil tersebut ke arah Blang Bintang.

Kalau kita menelusuri dunia maya (internet), fenomena ini sebenarnya telah banyak diamati di banyak tempat di berbagai belahan dunia, misalnya di Ayrshire-Scotlandia, Comeragh Mountains- Irlandia, Timur-laut Cina, New Brunswick-Canada, Woodend, Victoria -Australia, Banyumas-Purwokerto, Jawa Tengah, dan Lereng Gunung Kelud di Jawa Timur.

Bergeraknya benda

Kalau kita membuka-buka buku catatan Fisika pada saat sekolah menengah dulu, kita akan menemui sebuah konsep bahwa bergeraknya sebuah benda dipicu oleh keberadaan gaya. Pengertian gaya adalah gerakan atau hal-hal yang menyebabkan suatu benda bergerak atau berhenti dari gerakannya. Dalam buku catatan ilmu Fisika itu akan kita temui juga bahwa ada 5 pengaruh gaya terhadap benda, yaitu a) menggerakan benda diam; b) membuat benda bergerak menjadi diam, mengubah kecepatan gerak benda; menguabah arah gerak benda; dan mengubah bentuk benda.

Dalam fenomena di Aceh Besar tersebut, konsep dalam benak kita akan mengerucut pada kesimpulan bahwa ada sebuah `gaya' yang telah menggerakkan mobil itu. Dalam pandangan banyak orang, gaya-gaya itu bisa muncul akibat keberadaan gaya gravitasi dan/atau gaya tarik magnet. Gaya gravitasi (g) akan memicu pergerakan sebuah benda ketika benda itu berada pada ruas yang miring (sebesar alfa) dengan gaya gesekan yang sangat rendah dan terlampaui oleh perkalian antara massa benda (m), gravitasi (g) dan sinus sudut lereng (alfa).

Dalam kacamata seorang ahli kebumian (geologist/geophysics), gaya gravitasi bumi ini sebenarnya dapat terdistorsi akibat bentuk roman muka bumi dan batuan penyusun yang ada di dalamnya. Dari segi posisi, tempat yang lebih tinggi akan memiliki nilai gravitasi lebih rendah dari tempat yang lebih rendah. Densitas batuan yang ada pada suatu tempat juga akan mempengaruhi nilai gravitasi, dimana tempat-tempat dengan batuan dengan nilai densitas tinggi akan meningkatkan nilai gravitasinya. Kondisi-kondisi tersebut mengakibatkan permukaan air laut, yang kita lihat datar, di bumi ini sebenarnya tidak rata.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved