Opini

Potret Keberagaman Kita  

Keberagaman merupakan sifat alamiah (sunnatullah, nature) alam semesta. Adanya keberagaman bentuk wujud konkret keindahan

Potret Keberagaman Kita   
IST
Adnan, Dosen Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh

Oleh Adnan, Dosen Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh

Keberagaman merupakan sifat alamiah (sunnatullah, nature) alam semesta. Adanya keberagaman bentuk wujud konkret keindahan (etika dan estetika) ciptaan Tuhan. Keberagaman itu sengaja diciptakan Tuhan agar manusia saling asih, asah dan asuh, serta menghargai dan toleran (tasamuh) terhadap sesama. Manusia diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa serta beragam pikiran dan karakter agar saling kenal (ta'aruf). Burung-burung diciptakan dengan ragam spesies dan suara untuk menimbulkan nilai estetika saat mereka menari dan berdendang. Pun, seluruh fauna dan flora diciptakan dengan memuat nilai-nilai keseimbangan dan keberagaman untuk menghiasi keindahan dunia.

Maka keberagaman itu tidak boleh dibonsai, dihilangkan dan dimusnahkan di muka bumi, karena ia akan berhadapan dengan kehendak Tuhan. Siapapun di dunia ini tanpa kecuali spesies manusia, tidak boleh pesimis, apatis, marah dan benci, serta memaksa kehendak untuk menyeragamkan keberagaman kita dalam berbagai aspek kehidupan, baik politik, sosial budaya, pendidikan, ekonomi dan agama. Sebab itu, keberagaman itu harus dilindungi, dijaga dan dilestarikan agar menjadi tumpuan, kekuatan dan modal sosial (social of capital) dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama. Mengusik keberagaman laksana sedang mengusik ketentuan Tuhan kepada alam semesta.

Beberapa Potret

Jika menilik lebih komprehensif dan holistik, maka ditemukan beberapa potret keberagaman kita dalam kehidupan, di antaranya: Pertama, ragam suku bangsa. Indonesia merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari ragam suku bangsa. Badan pusat statistik (BPS) mencatat bahwa jumlah suku bangsa di Indonesia sekitar 1.340 suku (BPS, 2010). Aceh sendiri memiliki sekitar 13 suku bangsa dari 23 kabupaten/kota, setiap suku memiliki bahasa daerah masing-masing, dan kadang meski berbahasa sama tapi memiliki dialek (lahjah) beragam. Keberagaman inilah yang menyebabkan saat Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 diproklamirkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, tanpa memusnahkan bahasa daerah masing-masing.

Kedua, ragam partai politik dan organisasi kemasyarakatan. Bangsa Indonesia juga memiliki keberagaman dalam partai politik dan organisasi kemasyarakatan (Ormas). Jika menilik partai peserta Pemilu 2019 maka terdapat 16 partai politik nasional dan 4 partai politik lokal. Setiap partai politik memiliki ideologi beragam, model kepemimpinan berbeda, dan konstituen fanatik.

Dari keberagaman itu melahirkan ide, gagasan, program kerja dan cara mengelola negara yang beragam. Tapi secara makro, setiap partai politik berjuang menggapai kekuasaan agar mampu menghadirkan dan memastikan kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan dalam berbagai bidang kepada seluruh rakyat Indonesia. Setiap partai politik memiliki kans yang sama untuk dipilih oleh rakyat, tanpa memusnahkan satu sama lainnya.

Selain itu, Indonesia juga memiliki lebih dari 431.465 Ormas, baik yang berbentuk yayasan maupun perkumpulan (kompas.com). Dari ribuan Ormas itu terdapat puluhan dan ratusan Ormas Islam di Indonesia, semisal Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang fokus dalam berbagai bidang semisal pendidikan, kesehatan, kebudayaan dan agama. Setiap Ormas pun memiliki ideologi, model kepemimpinan, program kerja dan anggota beragam. Meskipun demikian, setiap Ormas hadir untuk membantu Pemerintah dalam menghadirkan kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan dalam berbagai bidang kepada seluruh rakyat Indonesia. Maka keberagaman Ormas itu harus dirawat, dijaga dan dilestarikan sebagai pilar civil society dalam membangun Indonesia maju.

Ketiga, ragam fauna dan flora. Keberagaman Indonesia juga terdapat pada jenis fauna (hewan) dan flora (tumbuhan). Fauna di Indonesia tersebar pada tiga kawasan yaitu Asiatis, Australis dan Peralihan. Dalam berbagai jenisnya jumlah fauna di Indonesia meliputi hewan mamalia lebih dari 500 spesies, ikan lebih dari 4.000 spesies, burung-burung terdapat lebih dari 1.600 spesies, reptil dan amphibi terdapat lebih dari 1.000 spesies,  dan jenis serangga lebih dari 200.000 spesies. Sedangkan jenis flora di Indonesia mencapai 25.000 jenis dari jenis tumbuhan di dunia. Pun, sekitar 40% lumut dan ganggang merupakan jenis endemik atau jenis tumbuhan asli yang hanya ada di Indonesia, dengan total jumlah marga endemik di Indonesia 202 jenis (https://indonesia.go.id).

Keempat, ragam agama. Kemajemukan bangsa Indonesia juga terdapat dalam keberagaman agama yang dianut penduduknya. Meski penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam, tapi Indonesia mengakui secara resmi keberagaman agama yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu. Dasar yuridis yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia termaktub dalam UUD 1945 pasal 28E ayat 1, yakni: "Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali". Sebab itu, meskipun lebih dari 207 juta (87,2 persen) penduduk Indonesia beragama Islam, tapi tetap hidup dalam pluralitas agama.

Kelima, ragam mazhab fikih. Spesifik dalam Islam masyhur dan muktabar 4 mazhab fikih terkenal yakni Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali. Setiap mazhab memiliki pengikut lintas negara, tanpa kecuali Indonesia. Jika menilik dari karakteristik amaliah dan ibadah penduduk Indonesia mayoritas mereka bermazhab Syafi'i. Pun demikian, meski mayoritas penduduk Indonesia bermazhab Syafii, tapi mereka tidak membonsai, menghilangkan dan memusnahkan mazhab lainnya. Hal ini menunjukkan semakin dewasanya penduduk Indonesia dalam bermazhab, dimana mereka mengedepankan sikap rukun dan toleran dalam menyikapi perbedaan furu'iyah dalam beramal dan beribadah. Belajar ilmu perbandingan mazhab (fiqh muqaran) merupakan solusi terbaik untuk menjaga ukhuwah islamiyyah.

Nampaknya pertimbangan keberagaman itulah yang menyebabkan disusun Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2014 secara bijaksana tentang pokok-pokok Syariat Islam, yaitu (1) Penyelenggaraan ibadah di Aceh wajib dijalankan sesuai dengan tuntunan syariah. (2) Penyelenggaraan ibadah sebagaimana diatur ayat (1) diamalkan dengan memprioritaskan tata cara pengamalan ibadah menurut mazhab Syafi'i. (3) Penyelenggaraan ibadah yang tidak mengacu pada tata cara mazhab Syafi'i dibolehkan selama dalam bingkai mazhab Hanafi, Maliki dan Hambali dengan selalu mengedepankan kerukunan, ukhuwah Islamiyah dan ketenteraman di kalangan umat Islam. (4) Dalam hal ada kelompok masyarakat di Aceh yang sudah mengamalkan mazhab Hanafi, Maliki atau Hambali tidak dapat dipaksakan untuk mengamalkan mazhab Syafi'i. (5) Dalam hal kelompok masyarakat yang mengamalkan ibadah mengikuti paham organisasi keagamaan yang sesuai dengan Alquran dan Hadist serta diakui secara sah oleh negara tetap dibenarkan/dilindungi. 

Itulah beberapa potret keberagaman kita. Maka keberagaman dalam berbagai aspek kehidupan merupakan keniscayaan. Keberadaannya harus dirawat, dijaga dan dilestarikan dengan mengedepankan kerukunan, toleransi dan persaudaraan. Dunia ini tampak indah, menyenangkan, unik, estetis, seimbang dan elastis (murunah) disebabkan adanya keberagaman, bukan keseragaman. Maka keberagaman tidak boleh dibonsai, dihilangkan dan dimusnahkan sebab itu ketetapan Tuhan (Qs. Al-Maidah: 48, Yunus: 99, Hud: 118 dan Asy-Syura: 8). Semoga!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved