Breaking News:

Catatan Perjalanan

Selain Gratis Pendidikan, Siswa di Korsel juga Ditanggung Biaya Makan dan Susu, Gaji Guru Rp 1,3 M

Pendidikan dari sekolah dasar hingga menengah atas digratiskan segala biaya, bahkan pemerintah pun menanggung biaya makan siang dan susu peserta didik

Editor: Mursal Ismail
Selain Gratis Pendidikan, Siswa di Korsel juga Ditanggung Biaya Makan dan Susu, Gaji Guru Rp 1,3 M
For serambinews.com
Nurmahni Harahap SPd MPd

Setelah siswa tamat SMA, maka setiap mereka berlomba-lomba untuk masuk ke universitas ternama menurut bakat dan minat diinginkan.

Salah satunya adalah Seoul National University (SNU).

Guru profesi elite

Di korea, profesi yang paling mulia adalah seorang guru.

Jadi untuk calon mahasiswa guru mengikuti seleksi yang sangat ketat dan sulit.

Hanya siswa tertentulah yang lulus di fakultas keguruan.

Hal ini dilakukan karena kualitas pendidikan suatu negara sangat dipengaruhi oleh kualitas guru yang berkualitas.

Guru adalah profesi yang elite di Korea Selatan.

Pemerintah memberi perhatian tinggi kepada guru, mulai pendidikan hingga kesejahteraannya.

Universitas Keguruan melakukan seleksi ketat terhadap calon mahasiswa ilmu keguruan.

Begitu pula warga negara yang ingin menjadi guru, maka harus melalui seleksi yang ketat, termasuk untuk praktik mengajar (micro teaching).

Zonasi tempat tinggal dan keutuhan guru daerah setempat juga menjadi bagian pertimbangan penerimaan guru. 

Semua berlaku pada semua jenjang pendidikan, bahkan banyak guru-guru SD adalah lulusan S2 dan S3.

Guru diberi kesejahteraan yang sangat tinggi, sekitar KRW 100 juta per tahun (sekitar Rp 1,3 miliar per tahun). 

Dengan demikian guru adalah profesi bergengsi di Negeri Ginseng ini.

Profesi guru banyak diminati, sehingga proses seleksi penerimaan guru pun super selektif.

Untuk menjadi guru di Korea Selatan, harus melewati tujuh kali ujian seleksi, itu pun disesuaikan dengan kuota zonasinya.

Jadi sekali pun lulus ujian, tetapi jika di lingkungan ia tinggal jumlah guru sudah mencukupi, maka ia tidak bisa diangkat menjadi guru di daerah tersebut.

Untuk meningkatkan profesionalitas dan kompetensi pendidik, maka guru dinilai oleh kepala sekolah, peserta didik, bahkan oleh orang tua/wali murid.

Demikian pula kepala sekolah juga dinilai oleh mereka, kemudidan diberi grade.

Penilaian kebijakan sekolah yang dijalankan bukan menjadi kewenangan dinas pendidikan. 

Tetapi orang tua, lembaga pemerhati pendidikan, termasuk peserta didik yang memberikan penilaian terhadap kebijakan sekolah tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat kita simpulkan bahwa profesi guru sangat dijunjung tinggi dan dihormati di negara dimaksud. 

Oleh karena itu guru harus menanamkan kedisiplinan serta kebiasaan-kebiasaan baik lainnya.

Selain itu, guru harus kreatif dan inovatif dalam menciptakan pembelajaran yang kondusif serta  mampu mengenal secara mendalam bakat dan minat siswa.

Agar siswa tidak ada masalah dan tekanan dalam pembelajaran menuju prestasi gemilang yang mampu mengharumkan nama bangsa. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved