Minggu, 17 Mei 2026

Opini

"Saya Hadir Kenapa Teken Absen?"  

tulah sepatah ungkapan yang sering saya lontarkan ketika saya diminta untuk menandatangani daftar hadir (dafdir) di berbagai pertemuan, rapat

Tayang:
Editor: bakri
IST
Nurdin Abdul Rahman, Dosen Universitas Almuslim Peusangan Bireuen, Aceh. 

Oleh Nurdin Abdul Rahman, Dosen Universitas Almuslim Peusangan Bireuen, Aceh.

Itulah sepatah ungkapan yang sering saya lontarkan ketika saya diminta untuk menandatangani daftar hadir (dafdir) di berbagai pertemuan, rapat atau acara resmi lainnya; "Pak, jangan lupa teken absen sebelum meninggalkan ruangan."

Dalam keadaan sedikit heran, sayapun balik bertanya: "Saya hadir kenapa teken absen?"

Melihat kenyataan itu, dalam hati saya selalu timbul pertanyaan "Apakah orang Indonesia senangnya membiasakan diri dengan hal yang salah?"

Karena semua orang tahu kalau `absen' itu artinya `tidak hadir', sungguh kontras dengan kenyataan di masyarakat dimana kata itu dipakai untuk menyatakan `hadir' pada suatu acara bahkan pada acara-acara resmi.

Yang mengherankan, ungkapan seperti itu justru diucapkan oleh individu-individu yang menyandang status sebagai pejabat negara, akademisi perguruan tinggi atau kepala Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau swasta.

Seingat saya ungkapan ini, yang sangat mengusik akal sehat saya, sudah berlangsung bertahun-tahun, dan diucapkan oleh berjuta-juta orang Indonesia.

Aneh, `absen' dipakai dengan arti `hadir'. Yang lebih mengherankan lagi, di toko-toko buku atau alat-alat kantor sekarang sudah dijual apa yang diberi judul "Buku Absen", dan saya sudah mendapatinya di hampir semua sekolah sebagai buku `daftar hadir' siswa.

Di sejumlah kantor pemerintah, swasta dan BUMN saya juga menjumpai petunjuk seperti ini, "Absen Elektronik", "Absen Sidik Jari", dan lain-lain yang merupakan petunjuk untuk menandakan kehadiran tapi dengan menggunakan kata `absen'.

Kata `absen' juga di banyak dokumen sering saya jumpai diletakkan berpasangan dengan kata `hadir'. Ada dafdir (daftar hadir) yang di judulnya sangat tepat tertulis "Daftar Hadir Peserta .." Tetapi di salah satu kolom dalam dafdir tersebut adalah judul "Absensi Kehadiran".

Ini sangat rancu. Sudah `absensi' itu sendiri artinya `ketidakhadiran', ditambah lagi dengan kata `kehadiran' di belakangnya, aneh jadinya: `Ketidakhadiran Kehadiran'.

Bahwa hampir semua orang tahu `absen' itu artinya `tidak hadir', dapat dilihat dari tepatnya mereka menempatkan kata `absen' ketika mereka mengatakan hal seperti ini: "Saya minta maaf, saya absen di acara besok, karena ada sesuatu yang urgen yang harus saya kerjakan."

Atau sering juga dalam pengumuman yang disampai secara lisan oleh seorang pimpinan dengan mengatakan: "Saya sangat mengharapkan tidak ada seorang pun yang absen pada acara tersebut besok." Penggunaan kata `absen' di sini justru sangat tepat dan pas sesuai artinya, yaitu `tidak hadir'.

Dilihat dari sudut pandang kecenderungan orang untuk menggunakan ungkapan yang mudah diucapkan dan pendek, penggunaan kata `absen' dengan maksud `hadir' sering juga dijadikan alasan. Akan tetapi apapun alasannya, penggunaan sesuatu yang tidak sesuai dengan fungsi dan maksudnya akan merendahkan fungsi dan maksud dari sesuatu itu; ya, dalam hal ini penggunaan kata `absen' dengan maksud `hadir'.

Karena itu, untuk memenuhi kecenderungan kita dalam menggunakan sebuah ungkapan secara singkat dan mudah, maka di sini saya menyebutkan `daftar hadir' dengan singkatan `dafdir'; mudah dan singkat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved