Aceh Hebat
Juru Bicara Pemerintah Aceh Sebut 32 Nelayan yang Ditahan di Thailand Sudah Ditangani Kemenlu RI
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur dan anggota DPRA asal Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Falaky sudah menyurati Kemenlu untuk meminta,
Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Yusmadi
Laporan Masrizal | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Sebanyak 32 nelayan Aceh saat ini masih ditahan oleh otoritas Thailand setelah ditangkap akibat tidak sengaja memasuki wilayah perairan negara itu karena faktor cuaca dan minimnya alat navigasi.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani yang dikonfirmasi Serambinews.com, Kamis (6/2/2020) mengatakan bahwa saat ini Kemenlu RI sedang berupaya membebaskan 32 nelayan Aceh yang hanyut ke Negara Gajah Putih.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur dan anggota DPRA asal Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Falaky sudah menyurati Kemenlu untuk meminta bantu pembebasan.
Menurut pria yang akrab disapa SAG itu, para nelayan yang di tangkap di Thailand tersebut tetap mendapat perhatian dari Pemerintah Aceh, Pemkab Aceh Timur, dan anggota DPRA asal Aceh Timur.
Hanya saja, pembebasan itu membutuhkan proses karena persoalan antarnegara yang secara dejure menjadi kewenangan Kemenlu RI dan KBRI di Thailand.
Karena sedang ditanggani Kemenlu, maka SAG menolak mengomentari proses penanganan yang sedang dan akan ditempuh itu karena bukan kewenangannya untuk menjelaskan.
“Kemenlu RI maupun KBRI di Thailand pasti memiliki Standard Operasional Procedure (SOP) dalam menangani permasalahan WNI bermasalah di luar negeri,” katanya.
• 32 Nelayan Aceh Masih Ditahan di Thailand, MPO Aceh Kirim Surat ke Presiden, Ini Isinya
• DPRA Minta Pemerintah Aceh Advokasi Pembebasan Nelayan
• Pemerintah Aceh Apresiasi Upaya Pemkab Aceh Timur dan Anggota DPRA Bebaskan Nelayan Aceh di Thailand
Namun demikian, lanjut SAG, Pemerintah Aceh terus memantau proses penanganannya dan selalu berkoordinasi dengan pihak Kemenlu terhadap setiap persoalan yang dihadapi warga Aceh di luar negeri, baik masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Aceh maupun nelayan yang terdampar diberbagai negara di Asia.
Bahkan, tambahnya, baru-baru ini Aceh satu-satunya provinsi yang sigap merespon krisis kesehatan masyarakat di Wuhan, Cina, akibat virus corona.
“Ada ratusan TKI dan nelayan yang telah kita tangani dan selalu berkoordinasi dengan Kemenlu dan KBRI,” ungkap Juru Bicara Pemerintah Aceh itu.
Dalam kesempatan itu, SAG kembali menekankan bahwa dalam penanganan warga Aceh di luar negeri, Pemerintah Aceh tidak pilih kasih.
Jika ada yang mengatakan Pemerintah Aceh lebih responsif kepada 13 mahasiswa Aceh di Wuhan dibandingan nasib nelayan yang ditangkap di Thailand, SAG membantahnya.
“Kedua kasus ini sangat berbeda. Kasus nelayan di Thailand maupun di negara lain membutuhkan kecermatan dalam penanganannya. Sedangkan mahasiswa, kita berlomba-lomba dengan kecepatan penyebaran virus corona, sebelum virus mematikan itu menginfeksi mereka. Menyamakan kedua insiden itu, sangat tidak relevan,” pungkas SAG. (*)