Salam

Petugas Haji dan Jamaah Harus Sama-sama Siap  

Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh, dua hari lalu, mengumumkan 22 nama calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji

Petugas Haji dan Jamaah Harus Sama-sama Siap   
Dok Kemenag Nagan Raya
Calon petugas haji asal Nagan Raya seleksi di kemenag setempat, (4/2/2020). 

Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh, dua hari lalu, mengumumkan 22 nama calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) kelompok terbang (kloter) untuk musim haji tahun 2020 M/1441 H. Pada tahun ini Aceh mendapat 30 kuota petugas haji. Yakni, 22 orang  untuk petugas haji menyertai jamaah (kloter) dan delapan orang untuk petugas haji di Arab Saudi. Formasi petugas haji Arab Saudi diumumkan 4 April mendatang oleh Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag RI.

Ke-22 calon PPIH itu sudah berhasil melewati berbagai tahapan ujian yang diselenggarakan panitia, mulai seleksi administrasi, ujian berbasis Computer Assisted Test (CAT) tahap 1 di tingkat kemenag kabupaten/kota yang total pengikutnya mencapai 327 orang peserta. Kemudian CAT tahap 2, ujian tulis dan wawancara di tingkat Kantor Wilayah Kemenag Aceh. Seluruh tahapan ujian itu digelar secara serentak di seluruh Indonesia.

Para calon petugas haji kloter ini nantinya akan mengikuti pembekalan dan pelatihan di tingkat provinsi yang  direncanakan pada 26 Februari-31 Maret 2020 di Asrama Haji Aceh, di Banda Aceh. Para calon petugas haji yang lulus diminta segera mempersiapkan diri untuk mengikuti pembekalan dan pelatihan. Pembekalan tersebut guna memberikan pemahaman kepada para petugas haji saat melayani jamaah sejak dari Tanah Air hingga ke Tanah Suci.

Tahun ini Kemenag RI bertekad meningkatkan pelayanan terhadap jamaah. Pada tahun 2019, indeks kepuasan jamaah terhadap pelayanan mencapai 85,91. Tahun 2020, Kemenag bertekad mencapai indeks mencapai 86.

Menurut hasil survei 2019, indeks kepuasan tertinggi jamaah terdapat pada pelayanan transportasi bus shalawat, yaitu sebesar 88,05. Kemudian berturut-turut adalah pelayanan ibadah 87,77; pelayanan katering non Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) 87,72; pelayanan petugas 87,66; pelayanan bus antar kota 87,35; pelayanan akomodasi hotel 87,21; pelayanan lain-lain 85,41; pelayanan katering di Armuzna 84,48; pelayanan transportasi bus Armuzna 80,37; dan pelayanan tenda di Armuzna 76,92.

Dalam setiap musim haji, selalu saja muncul keluhan banyak jamaah terhadap petugas haji. Ada yang dianggap terlalu mementingkan diri sendiri sehingga tugas utama sebagai pelayan jamaah cenderung terabaikan. Banyak juga petugas haji yang kurang ramah dan sebagainya.

Dalam beberapa tahun terakhir, tercatat begitu banyak masalah jamaah khususnya di Tanah Suci yang harus mendapat perhatian para petugas haji. Permasalahan yang paling banyak terjadi adalah jamaah tersesat atau hilang dari rombongan, kehilangan uang, permasalahan jamaah yang sakit dan wafat.

Selanjutnya, yang sangat merepotkan petugas dan jamaah adalah permasalahan bus angkutan jamaah ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Persoalan ini muncul karena jamaah saling berebut untuk dapat berangkat bus trip pertama, padahal jumlah bus tidak memadai.

Lalu ada juga kasus-kasus jamaah yang kecelakaan di berbagai tempat. Ada yang mengalami kecelakaan di penginapan, di jalan raya, di masjid, dan lain-lain seperti terhimpit jamaah haji lain pada saat berdesak-desakan ketika melaksanakan thawaf atau melontar jamrah.

Persoalan serius yang tentu paling menyita tenaga dan perhatian petugas haji adalah tentang jamaah lanjut usia yang jumlahnya lumayan banyak. Para jamaah lanjut usia ini hampir setiap saat harus dibantu dan dibimbing dalam segala aktivitas berhaji.

Selain mengingatkan petugas haji, ada catatan penting juga bagi calon jamaah haji yang akan berangkat tahun ini atau tahun-tahun berikutnya. Sebab, walau pelayanan yang disediakan pemerintah sudah memuaskan, namun faktor kesiapan diri sendiri tetap menjadi faktor penting terhadap keberlangsungan dan keselamatan dalam berhaji.

Pada tahun 2019 terdapat 401 orang jamaah haji Indonesia yang meninggal. Angka tersebut melebihi jumlah di tahun 2018 yang hanya sebanyak 385 orang. Hasil amatan para petugas haji, kurangnya menjaga kesehatan dan pola hidup para calon haji membuat tidak siapnya fisik dalam menjalankan rutinitas ibadah haji.

Oleh sebab itu, anjuran menjaga kebugaran jasmani serta persiapan fisik bagi calon jamaah adalah untuk mencegah hambatan fisik selama menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved