Jurnalisme Warga

Pelestarian Hewan Langka Tuntong Laut di Tamiang

Tuntong laut (Batagur borneoensis) merupakan salah satu kura-kura air payau yang telah ditetapkan berstatus terancam punah oleh

Pelestarian Hewan Langka Tuntong Laut di Tamiang
IST
ILHAM ZULFAHMI, Dosen Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Kuala Simpang, Aceh Tamiang

OLEH ILHAM ZULFAHMI, Dosen Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Kuala Simpang, Aceh Tamiang

Tuntong laut (Batagur borneoensis)  merupakan salah satu kura-kura air payau yang telah ditetapkan berstatus terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dan diawasi secara ketat untuk diperdagangkan (Appendix II CITES). Hewan ini memiliki habitat berupa sungai besar di sekitar ekosistem mangrove. Secara ekologis, tuntong laut memiliki peran penting membantu penyebaran biji tumbuhan bakau. Distribusi alamiahnya hanya terbatas di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia, tuntong laut hanya dapat dijumpai di Pulau Kalimantan dan Sumatra. Lebih detail, keberadaan hewan ini di Pulau Sumatra hanya dapat dijumpai di Kabupaten Aceh Tamiang, tepatnya di Kecamatan Seruway.

Saat ini populasi tuntong laut telah menurun secara signifikan. Hasil penelitian mengungkapkan, populasi tuntong laut dewasa pada tahun 2012 hanya 141 ekor (Setyoko dkk, 2019). Penurunan populasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya: 1) Rusaknya habitat mangrove. Ekosistem mangrove merupakan habitat alami tuntong laut. Apabila habitatnya rusak maka kelestarian tuntong laut langsung terancam. Menurut masyarakat, ancaman hilangnya hutan mangrove berasal dari penebangan liar untuk kepentingan industri kayu arang, perkebunan, dan perikanan. Laman mongabay.co.id melaporkan bahwa dalam rentang tahun 2013 hingga 2017, luas hutan mangrove di pesisir timur Aceh berkurang hingga 3.910,15 hektare.

2) Kurangnya pemahaman masyarakat dalam menjaga kelestarian tuntong laut. Walaupun sosialisasi tentang konservasi tuntong laut terus digalakkan pemerintah, tapi masih tetap ditemukan masyarakat yang mengonsumsi dan memperjualbelikan telurnya.

Ketika saya wawancarai, sebagian warga mengaku tak tahu adanya larangan tentang itu. Sebagian warga lainnya malah mengungkapkan mereka terpaksa melakukan hal itu karena tidak memiliki mata pencaharian lain serta minimnya hasil tangkapan ikan atau udang, imbas masih tingginya penggunaan pukat trawl dan deforestasi lahan mangove di kawasan mereka.

3) Masih minimnya langkah nyata yang dilakukan pemerintah dalam rangka konservasi tuntong laut. Saat ini Aceh Tamiang memang sudah memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang mengakomodasi adanya kawasan konservasi di wilayahnya. Bahkan secara kebijakan, upaya pelestarian tuntong laut terlihat dengan dikeluarkannya Peraturan Bupati Aceh Tamiang Nomor 2 Rahun 2014 tentang Perlindungan dan Pelestarian Tuntong Laut dan Keputusan Bupati Aceh Tamiang Nomor  63 Tahun 2014 tentang Penetapan Spesies Tuntong Laut sebagai Satwa yang Dilindungi di Kabupaten Aceh Tamiang.

Namun, implementasi dari RTRW, peraturan bupati, dan keputusan bupati tersebut masih jauh panggang dari api. Berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar, anggaran yang disediakan pemerintah daerah untuk konservasi tuntong laut ini masih cukup minim, ditambah lagi dengan kondisi infrastruktur yang belum memadai untuk menjangkau kawasan konservasi tuntong laut. Pembangunan rumah penangkaran/penetasan tukik tuntong laut juga belum dapat dioperasikan secara maksimal di kawasan tersebut.

4) Lemahnya pengawasan dari pihak terkait dalam menjaga kelestarian kawasan konservasi tuntong laut. Walaupun kawasan konservasi tuntong laut sudah ditetapkan pemerintah, tapi aktivitas penebangan mangrove di kawasan tersebut masih saja terjadi. Di samping itu, tidak adanya tindakan penegakan hukum terhadap oknum kelompok nelayan yang menggunakan alat tangkap trawl di kawasan itu menyebabkan aktivitas penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap tak ramah lingkungan tersebut semakin merajalela. Akibatnya, nelayan-nelayan yang tak menggunakan alat tangkap tersebut menjadi kesulitan mendapatkan hasil tangkapan dan terpaksa banting setir mencari pekerjaan lain. Di antaranya menjadi penebang mangrove dan penjual telur tuntong laut.

(5) Minimnya penelitian, pengabdian, dan inovasi perguruan tinggi tentang konservasi tuntong laut. Saat ini perguruan tinggi berstatus universitas di Aceh mencapai 14. Akan tetapi, penelitian, pengabdian, dan inovasi terkait tuntong masih sangat minim dilaporkan. Publikasi terkait kondisi terkini tuntong masih sulit diperoleh, sehingga pengambilan kebijakan korservasi cenderung tidak berbasis kepada data yang valid. Di samping itu, upaya pelatihan maupun pemberdayaan kelompok nelayan dalam rangka melakukan penangkaran tuntong laut yang baik dan benar juga cukup jarang dilakukan. Aktivitas penangkaran dilakukan secara ala kadar dan coba-coba.

Solusi

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved