Minggu, 12 April 2026

Berita Sabang

Antisipasi Masalah Stunting, Akper Ibnu Sina dan PPNI Sabang Gelar Seminar Kesehatan

Tingginya angka stunting di Aceh, mendorong Akper Ibnu Sina Kota Sabang bergerak meningkatkan perannya mengatasi persoalan gizi kronis tersebut....

Penulis: Jalimin | Editor: Jalimin
For Serambinews.com
Aper Ibnu Sina dan PPNI Kota Sabang menggelar seminar dengan tema Stunting dan Dampak Psikis pada Anak. 

Antisipasi Masalah Stunting, Akper Ibnu Sina dan PPNI Sabang Gelar Seminar Kesehatan   

Laporan Jalimin | Sabang 

SERAMBINEWS.COM, SABANG - Tingginya angka stunting di Aceh, mendorong Akper Ibnu Sina Kota Sabang bergerak meningkatkan perannya mengatasi persoalan gizi kronis tersebut.

Bersama Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Sabang, akademi keperawatan tersebut gelar seminar sehari dengan topik, stunting dan dampak psikis pada anak.

Seminar dihadiri seratusan peserta dari Sabang, serta kabupaten kota lainnya. Hadir sebagai pembicaranya, Mrs Anne Trollvik dari Inland Norway University of Applied Sciences Norwegia dan Dr rer med Marthoenis MSc MPH dari FKep Unsyiah Banda Aceh.

Direktur Akper Ibnu Sina Kota Sabang, Aida Khairunisa SST MSi menyebutkan, saat ini, masalah stunting menjadi prioritas nasional harus menjadi perhatian semua pihak.

“Semua ikut mengatasinya sesuai dengan tupoksinya masing-masing, saat ini Aceh menduduki peringkat tiga nasional untuk angka stunting balita, di bawah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi Barat (Sulbar),” sebut Aida, didampingi DPD PPNI Kota Sabang, Ns Ibnu Masthur SKep.

Cegah Karhutla, Polsek Trumon Sebar Selebaran Imbauan Ini ke Rumah-rumah

2 Rumah di Dusun Gergung Takengon Terbakar di Siang Bolong, Saat Penghuni Nonton Pacuan Kuda

Diduga Lecehkan Empat Anak Bawah Umur, Kakek Ini Diamankan Personel Polres Pidie

Menurut Aida, berdasarkan data yang diperoleh pihaknya, prevalensi stunting pada bayi di bawah dua tahun di Aceh cukup tinggi.

“Sebanyak 37,9 persen, sedangkan prevalensi rata-rata nasional sebesar 30,8 persen. Masalah inilah yang mengetuk hati kami untuk ikut serta mencari solusi, apalagi ada pemateri dari Norwegia yang berbagi informasi tentang penanganan stunting di negaranya,” ujar Aida.

Sementara itu, dalam paparannya Marthoenis mengemukakan stunting merupakan anak yang lebih pendek dibanding anak-anak lain seusianya.

“Kata lain tinggi badan anak berada di bawah standar, penyebab stunting itu pengasuhan yang kurang baik, terbatasnya ANC dan PNC, kurangnya akses keluarga dengan makanan bergizi serta kurangnya akses air bersih dan sanitasi,” jelasnya.

1.000 Polisi Jadi Pendukung Bayangkara FC, Ini Jumlah Personel Pengamanan Selama Bertanding

Stunting, kata Marthoenis memiliki efek jangka panjang yakni kurangnya kognitif kepampuan berpikir dan gangguan fisik anak, terganggunya produktivitas anak serta kesehatan yang buruk pada anak.

Berbagai intervensi mengurangi stunting di Indonesia terus di tingkatkan seperti perlakuan terhadap ibu hamil dalam memberikan makanan tambahan, zat besi,  asam folat, program menyusui dan ASI eklusif

Mrs Anne Trollvik menjelaskan bahwa dari hasil studi di Negara Norwegia juga terdapat kasus stunting, namun prevalesnsinya tidak banyak.

Penyebabnya pun agak berbeda dengan yang terjadi di Indonesia, penyebab utama adalah masalah asupan nutrisi pada masalah kehamilan dan juga pada masa pertumbuhan pada anak, sedangkan di Norwegia penyebab utamanya perlakuaan yang salah terhadap anak (kekerasan pada anak).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved