Opini

Assalamu’alaikum, Bro!

ISLAM merupakan agama yang sempurna (kamil) dan menyeluruh (syamil) (Qs. Al-Maidah: 3). Keberadaannya bukan sekadar mengatur persoalan rutinitas

Assalamu’alaikum, Bro!
IST
ADNAN Dosen Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh

ISLAM merupakan agama yang sempurna (kamil) dan menyeluruh (syamil) (Qs. Al-Maidah: 3). Keberadaannya bukan sekadar mengatur persoalan rutinitas hubungan vertikal/ transendental kepada Allah swt semata (`ibadah madhah), semisal shalat, puasa, zakat, haji dan umrah (Qs. Thaha: 132 dan Al-Baqarah: 183 dan 196). Tapi, Islam juga hadir untuk mengatur hubungan horizontal/ sosial sesama manusia dan alam semesta (muamalah, ghairu mahdhah) (Qs. Ali Imran: 103). Hal ini terlihat dari responsif dan akomodatif Islam dalam mengatur seluruh lini kehidupan, baik agama (Qs. Al-Kafirun: 1-6), politik (Qs. Al- Maidah: 51), pendidikan (Qs. Al-`Alaq: 1-5), kesehatan (Qs. Al-An’am: 145), maupun sosial budaya (Qs. Al-Hujurat: 13). Selain itu, Islam juga ikut berkontribusi dalam mengatur aktivitas harian manusia yang dianggap remeh-temeh di era modern ini, semisal adab masuk dan keluar kamar mandi, adab makan dan minum, adab tidur hingga cara menyapa. Sebagai makhluk sosial (zoon politicon), menyapa merupakan bentuk kepedulian, kepekaan, penghargaan dan penghormatan kepada sesama agar semakin erat dan akrab. Aktualisasi menyapa akan lahir sikap guyub, bersatu, damai, toleran, peka dan peduli, serta empati kepada sesama. Maka Islam hadir mengatur cara menyapa dengan lafal salam yang sempurna; assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Lafal salam ini merupakan sebuah kalimat yang sarat dengan nilai, refleksi, pesan moral, dan filosofi jika dikaji secara mendalam (holistik). Konklusi ini menunjukkan bahwa lafal salam tidak boleh diganti dengan kalimat apapun, semisal halo, selamat pagi, selamat siang, selamat malam, dan salam pancasila. Sebab, lafal salam itu bukan hanya sekadar sapaan semata, tapi juga mengandung doa, harapan, saling jaminan keselamatan, dan berpahala disisi Allah swt bila diucapkan dengan benar. Artinya, lafal salam itu bukan untuk menafikan keberadaan pancasila.  Memberi salam akan mendidik seseorang untuk berperilaku damai, toleran, peka dan peduli, saling mendoakan, simpati dan empati, dan menjaga keselamatan dan hak-hak orang lain dari berbagai perilaku destruktif dan amoral, semisal korupsi, kriminalitas, dan bullying Tapi sebaliknya, berfungsi untuk mengokohkan dan membumikan nilai-nilai pancasila yang termaktub dalam sila pertama; Ketuhanan yang Maha Esa. Maka setiap orang, tanpa kecuali pejabat publik, tidak boleh alergi dengan salam keagamaan, baik di ruang formal maupun informal. Dalam Alquran ucapan salam itu disebut dengan istilah tahiyyah (penghormatan). Sebagaimana firman Allah Swt: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu” (Qs. An-Nisa’: 86). Hal ini menunjukkan bahwa diperintahkan bagi setiap orang untuk saling memberi salam sebagai wujud penghormatan terhadap sesama. Bahkan, ucapan salam merupakan sebuah kalimat ucapan selamat bagi penduduk surga (Qs. Yasin: 58). Sebab itu, salam bukanlah sekadar sapaan tanpa aturan, tapi diatur dalam syariat yang harus dibumikan. 

Memaknai salam 

Lebih lanjut, setiap orang dianjurkan untuk memaknai salam dalam kehidupan. Sehingga ucapan salam dapat menjadi instrumen dalam menebarkan kedamaian. Di antara makna yang terkandung di dalam ucapan salam yakni: pertama, mengharap keselamatan (as-salam). Salam bermakna as-salamah yakni keselamatan dan kedamaian. Ucapan salam ini diharapkan setiap orang memperoleh keselamatan dan kedamaian, serta sekaligus menjadi juru selamat dan juru damai dalam kehidupan. Munculnya radikalisme, ekstremisme, dan intoleran disebabkan ketidakmampuan seseorang dalam mengaktualisasikan pesan moral salam dalam kehidupan. Artinya, salam hanya sekadar sapaan dan pemanis bibir (lip service) semata, tanpa diiringi pemaknaan dan refleksi pesan moral yang terkandung di dalamnya. Kedua, mengharap kasih sayang Allah Swt (rahmah). Ucapan salam juga mengandung harapan untuk memperoleh kasih sayang Allah Swt di dunia dan akhirat kepada orang yang menerimanya. Tentu setiap orang ingin memperoleh kasih sayang (rahmah) dari Maha Pengasih (Ar-Rahman) dan Maha penyayang (Ar-Rahim). Maka sungguh beruntung orang-orang yang mengucapkan salam tatkala berjumpa dan berpisah, dimana setiap perjumpaan dan perpisahan selalu diiringi dengan doa kebaikan untuk memperoleh kasih sayang Allah Swt. Rahmah ini juga dapat dimaknai bahwa seseorang harus menebarkan kedamaian, kasih sayang, toleran, peka dan peduli, serta simpati dan empati kepada sesama. Ketiga, mengharap keberkahan (barakah). Berkah bermakna tumbuh, berkembang dan mendatangkan kebaikan. Ucapan salam mengandung harapan agar seseorang bukan hanya sekadar memperoleh nikmat dan karunia Allah Swt, semisal kesehatan, profesi, keluarga, popularitas dan status sosial. Tapi, juga diiringi keberkahan pada setiap nikmat dan karunia yang dilimpahkan Allah Swt, sehingga setiap nikmat dan karunia digunakan berorientasi akhirat. Di samping itu, ucapan salam juga dapat dimaknai agar setiap orang menjadi aktor dan penebar manfaat bagi sesama, bukan menjadi provokator dalam kehidupan umat beragama. Lebih lanjut, profetik berpesan: “Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam, yakni: jika engkau bertemu dengannya, ucapkan salam kepadanya. Jika ia memanggilmu, penuhi panggilannya. Jika ia meminta nasihat kepadamu, berikan nasihat kepadanya. Jika ia bersin lalu memuji Allah, doakanlah. Jika ia sakit, jenguklah, dan jika ia meninggal, iringkanlah jenazahnya” (HR. Bukhari-Muslim). Ini petunjuk bahwa memberi salam bukan hanya anjuran, tapi juga hak kepada sesama muslim. Sebab itu, sudah sepantasnya salam dibumikan kapanpun dan dimanapun sebagai instrumen untuk menebarkan kasih sayang, keselamatan dan kedamaian, serta menjamin keselamatan kepada sesama. Maka memberi salam juga bukan hanya telah menebarkan kedamaian dan memberikan hak sesama muslim. Tapi, memberi salam juga bermakna menjamin keselamatan bagi orang lain, meliputi keselamatan jiwa dan raga. Maka salam akan mendidik seseorang untuk berperilaku damai, toleran, peka dan peduli, saling mendoakan, simpati dan empati, dan menjaga keselamatan dan hakhak orang lain dari berbagai perilaku destruktif dan amoral, semisal korupsi, kriminalitas, dan bullying. Maka penting salam dimaknai dan dibumikan di era modern ini agar menjadi umat terbaik (khairu ummah). Salam harus membudaya di kalangan remaja dan mudamudi, dimana setiap mereka berjumpa selalu menyapa; assalamu’alaikum. Sebab itu, moderasi beragama (washatiyah) yang sedang dipopulerkan pemerintah untuk mencegah munculnya kelompok ekstrem kanan (takfiri) dan ekstrem kiri (liberal, komunis) sangat relevan dengan lafal salam ini. Artinya, moderasi beragama dapat dikembangkan melalui aplikasi dan pemaknaan salam dalam kehidupan. Sebab, ucapan salam memiliki pesan moral untuk menebarkan keselamatan, kedamaian, saling menjamin keamanan bagi sesama dan menjadi umat tengahan. Bangsa Indonesia memiliki modal sosial (social of capital) untuk merajut moderasi beragama itu disebabkan penduduknya mayoritas muslim. Hal ini terwujud apabila umat Islam di Indonesia mampu mengaplikasikan dan memaknai salam dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga!

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved