Serambi Award 2020

Budidaya Jagung di Sentra Sawit

Dengan kondisi iklim dan ketersediaan lahan di Kota Subulussalam, maka jagung cukup berpeluang dikembangkan.

Editor: IKL
for Serambinews.com
Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur menyerahkan sertifikat Serambi Award 2020 kepada Wali Kota Subulussalam, Affan Alfian Bintang. 

Setiap hectare membutuhkan 300 kilogram pupuk tiga jenis, yakni SP36, urea, dan KCL. Namun kebanyakan petani kadang tidak mampu membeli pupuk, hanya memenuhi setengah dari kebutuhan.

Jika dikalkulasikan, rata-rata biaya produksi satu hectare tanaman jagung hanya Rp 5 juta. Sementara harga jagung kering berkisar Rp 3.000-3.500 per kilogram.

Jika saja hasil panen mencapai 7 ton per hektare dengan harga jual Rp 3.000 per kilogram, maka petani mampu menghasilkan Rp 21 juta dalam tiga bulan.

Nah, setelah dipotong biaya perawatan atau modal hingga produksi, maka petani ratarata menghasilkan Rp 5 juta per bulan.

”Sementara kalaupetani mengandalkan kelapa sawit paling mampu menghasilkan 3 ton panen per bulan, sehingga dengan harga yang sering anjlok, maka nilai yang diterima petani tidak lebih 1,5 juta per bulan. Makanya kami menilai jagung ini lebih potensial asal dikelola secara baik,” ujar Abdul Hamid.

Abdul Hamid yang akrab disapaJoka ini mengaku punya lahan pertanian jagung di Desa Suka Makmur, Kecamatan Simpang Kiri, sejak belasan tahun silam. Lahan yang terbentang luas itu juga menjadi ajang tempat praktik para pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian (SMK-P) atau dari perguruan tinggi bidang pertanian. Karenanya, Joka mendukung Pemko Subulussalam mengembangkan tanaman jagung.

Menurut Joka, dengan memfokuskan pertanian jagung, menjadi peluang peningkatan ekonomi masyarakat Kota Sada Kata. Jika saja setiap kepala keluarga (KK) di Subulussalam memiliki satu hektare tanaman jagung, maka pendapatan rata-rata Rp 5 juta per bulan.

Joka menyarankan agar Pemko Subulussalam menerbitkan aturan berupa instruksi pengembangan tanaman palawija, khususnya jagung. Bila perlu, kata Joka, setiap desa terdapat regulasi pengembangan tanaman palawija, sehingga Kota Subulussalam suatu saat kelak bisa menjadi penyuplai jagung untuk kebutuhan nasional.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved