Breaking News:

Mesin Pemotong Padi Minim  

Sejumlah lahan pertanian di Aceh Tamiang dan Langsa terancam tidak bisa dipanen karena minimnya mesin pemotong padi (combine harvester)

SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Areal tanaman padi di Kabupaten Abdya MT Gadu 2019 seluas 10.289 ha, sebagian memasuki panen raya. Penanganan pasca panen menggunakan mesin pemotong padi (combine harvester). Seperti kegiatan panen raya dalam temu lapang dipusatkan di Desa Pisang, Kecamatan Setia, Selasa (10/12/2019) lalu. Tingkat produksi sementara mencapai 7,8 ton GKP (gabah kering panen) per ha. 

KUALASIMPANG - Sejumlah lahan pertanian di Aceh Tamiang dan Langsa terancam tidak bisa dipanen karena minimnya mesin pemotong padi (combine harvester). Hal ini menyebabkan tanaman padi yang sudah memasuki usia panen dibiarkan petani menguning.

"Tadi saya sudah melihat lansung ke sawah, salah satunya di Gampong Buketmetuah, Langsa Timur. Sangat miris kita melihat petani tidak bisa memetik hasil panennya," kata Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Asrizal Asnawi, Minggu (8/3/2020).

Sebelum meninjau areal sawah itu, dirinya terlebih dahulu menerima laporan dari masyarakat tentang terbatasnya kemampuan petani saat memanen padi. Kondisi ini dialami sebagian petani di wilayah Langsa dan di Kecamatan Manyakpayed, Aceh Tamiang.

Dalam laporan tersebut, petani menjelaskan bahwa situasi ini disebabkan oleh ketiadaan combine harvester. Politisi PAN ini pun menanggapi serius laporan ini karena menurutnya pemerintah melalui dinas terkait sudah menyalurkan bantuan combine harvester ke kelompok tani. "Ada disalurkan menggunakan APBK, APBA dan APBN. Kenapa hari ini combine harvester tidak ada, patut dipertanyakan," sambungnya.

Masih menurut laporan warga, Asrizal mengungkapkan combine harvester di Aceh Tamiang dan Langsa saat ini berada di luar daerah. Dia pun meminta Polda Aceh mengusut masalah ini karena dinilai telah merugikan petani.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan (Distanbunak) Aceh Tamiang, Yunus meminta permasalahan minimnya mesin pemotong padi itu tidak dipolitisir. "Sekarang ini memang musim panen serentak, karena kemarin menanamnya juga serentak. Jadi kebutuhan mesin pemotong padi juga meningkat," kata Yunus, Minggu (8/3/2020).

Yunus sangat tidak setuju kelangkaan combine harvester ini dikaitkan dengan tuduhan campur tangan oknum nakal. Menurutnya, stok combine harvester di Aceh Tamiang memang sedikit dan umumnya dikelola oleh kelompok tani. Selama ini kata dia, petani Aceh Tamiang bekerja sama dengan petani di Sumatera Utara dalam penggunaan combine harvester. "Jadi yang digunakan selama ini mesin dari Medan, ada kerja sama, sepertinya menggunakan kontrak. Sebaliknya juga begitu, ada mesin yang digunakan di Sumatera Utara," kata dia.

Persoalan muncul ketika musim panen padi di Sumut dan Aceh Tamiang serentak. Stok mesin pemotong padi yang sejak awal memang minim menyebabkan sebagian areal 'telantar'. "Janganlah sampai dibilang ada kecurangan, kasihan petani kita. Kondisi hari ini bisa dibilang kita tidak memiliki mesin. Kami sangat berharap dana aspirasi dewan dicurahkan untuk pengadaan mesin ini," lanjut Yunus. (mad)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved