Jurnalisme Warga

Dilema Matangglumpang Dua

PERTUMBUHAN ekonomi dapat diartikan sebagai gambaran keadaan perekonomian suatu daerah dan yang memegang peran penting di dalamnya

Dilema Matangglumpang Dua
IST
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim, Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua

OLEH CHAIRUL  BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim, Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua

PERTUMBUHAN ekonomi dapat diartikan sebagai gambaran keadaan perekonomian suatu daerah dan yang memegang peran penting di dalamnya adalah penduduk daerah tersebut. Adanya peningkatan ekonomi masyarakat dapat kita lihat dari perkembangannya hari demi hari menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Hal seperti itu pula yang belakangan ini terlihat di salah satu kota yang sangat dikenal dengan sate  dan boh giri (jeruk bali)-nya, bahkan dijuluki kota yang tak pernah tidur, yakni Kota Matangglumpang Dua di Kabupaten Bireuen.

Kehadiran Pesantren Terpadu Almuslim (PTA) Peusangan sejak tahun 2016 di Matangglumpang Dua (disingkat Matang) sangat membantu meningkatkan ekonomi masyarakat di sekitarnya dari segala segi. Mulai dari pedagang kuliner, toko pakaian, buah-buahan, toko kelontong, toko fotokopi, bahkan bisnis di kaki lima pun makin hari semakin bertambah omsetnya.

Toko-toko tersebut ditempati oleh sebagian besar pedagang yang berjejer di sepanjang jalan menuju PTA. Status tokonya adalah sewa. Menurut mereka, tahun ini harga sewa lebih mahal dibandingkan dengan tahun lalu. Kenaikannya hampir 100 persen, tapi karena berharap pendapatan yang diperoleh di kemudian hari lebih banyak dari tahun sebelunnya maka para penyewa toko pun setuju saja dengan tarif baru yang ditetapkan pemilik.

Salah satu toko yang berlimpah rezeki di Matang adalah toko fotokopi karena banyaknya tugas mandiri yang diberikan ustaz dan ustazah kepada para santri. Mereka akhirnya mencari tempat fotokopi di seputaran pesantren. Walaupun sudah ada Business Center di dalam kampus induk Universitas Almuslim yang berdampingan langsung dengah Pesantren Terpadu Almuslim, tapi belum juga mampu memenuhi kebutuhan para santri yang berjumlah ± 500 orang.

Hampir setiap jam istirahat para santri menyelesaikan tugasnya di Business Center  yang melayani fotokopi, jasa print, laminating, penjilidan, dan lain-lain. Jika sesekali kebutuhan tidak dapat dipenuhi dengan cepat di pusat bisnis tersebut, maka para santri ditemani oleh ustazah atau ustaz dapat bertransaksi pada toko yang ada di luar pagar pesantren. Hal ini tentu dapat menambah pendapatan pemilik toko mulai dari permintaan alat tulis kantor (ATK) sampai dengan aksesori sehari-hari, terutama untuk santriwati.

Pedagang kuliner, baik yang ada toko maupun yang kaki lima, turut merasakan banjir rezeki ini. Betapa tidak, satu orang santri pada saat membelanjakan uangnya tidak kurang dari Rp 10.000, mulai dari kue hingga minuman. Harga terendah yang dijual berkisar antara  Rp 3.000 sampai dengan Rp 5.000. Bagi para santri harga ini sudah biasa walaupun mulanya terasa mahal, bahkan banyak yang jajan lebih dari targetnya. Namun, para ustaz dan ustazah selalu mengarahkan santri untuk hidup hemat, tidak konsumtif.

Saat kunjungan orang tua, khususnya pada hari libur santri/santriwati, yaitu hari Jumat, maka jalan menuju pesantren dan Kampus Universitas Almuslim dipadati oleh berbagai jenis kendaraan. Mulai dari yang mewah sampai yang biasa. Semuanya berjejer rapi di halaman kampus induk, bahkan terkadang kami yang dosen pun tidak kebagian tempat untuk parkir.

Ada pemandangan yang unik pada setiap Jumat. Yakni, saat satu keluarga menjenguk seorang santri/santriwati, tapi menggunakan dua bahkan sampai lima kendaraan. Mereka kemudian makan bersama dengan menggelar tikar di bawah pohon rindang, bercengkerama, dan melepas rindu terhadap anak-anaknya. Terkadang juga pihak keluarga mengajak anaknya jalan-jalan di seputaran Kota Bireuen atau bahkan ke laut. Sungguh membahagiakan melihat tawa lepas dan keceriaan para santri saat bersama orang tuanya.

Kehadiran para orang tua santri tentu berdampak pula pada peningkatan daya beli, baik itu pedagang pakaian, kelontong, kuliner, maupun pelaku usaha lainnya. Semua kebagian rezeki. Ada anak yang butuh pakaian dalam (underware), sepatu, buku, hingga pakaian sehari-hari. Lalu orang tua membawa anaknya untuk membeli kebutuhan si anak, bahkan terkadang lebih dari yang direncanakan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved