Kamis, 11 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Dilema Matangglumpang Dua

PERTUMBUHAN ekonomi dapat diartikan sebagai gambaran keadaan perekonomian suatu daerah dan yang memegang peran penting di dalamnya

Tayang:
Editor: bakri
IST
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim, Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua 

OLEH CHAIRUL  BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim, Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua

PERTUMBUHAN ekonomi dapat diartikan sebagai gambaran keadaan perekonomian suatu daerah dan yang memegang peran penting di dalamnya adalah penduduk daerah tersebut. Adanya peningkatan ekonomi masyarakat dapat kita lihat dari perkembangannya hari demi hari menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Hal seperti itu pula yang belakangan ini terlihat di salah satu kota yang sangat dikenal dengan sate  dan boh giri (jeruk bali)-nya, bahkan dijuluki kota yang tak pernah tidur, yakni Kota Matangglumpang Dua di Kabupaten Bireuen.

Kehadiran Pesantren Terpadu Almuslim (PTA) Peusangan sejak tahun 2016 di Matangglumpang Dua (disingkat Matang) sangat membantu meningkatkan ekonomi masyarakat di sekitarnya dari segala segi. Mulai dari pedagang kuliner, toko pakaian, buah-buahan, toko kelontong, toko fotokopi, bahkan bisnis di kaki lima pun makin hari semakin bertambah omsetnya.

Toko-toko tersebut ditempati oleh sebagian besar pedagang yang berjejer di sepanjang jalan menuju PTA. Status tokonya adalah sewa. Menurut mereka, tahun ini harga sewa lebih mahal dibandingkan dengan tahun lalu. Kenaikannya hampir 100 persen, tapi karena berharap pendapatan yang diperoleh di kemudian hari lebih banyak dari tahun sebelunnya maka para penyewa toko pun setuju saja dengan tarif baru yang ditetapkan pemilik.

Salah satu toko yang berlimpah rezeki di Matang adalah toko fotokopi karena banyaknya tugas mandiri yang diberikan ustaz dan ustazah kepada para santri. Mereka akhirnya mencari tempat fotokopi di seputaran pesantren. Walaupun sudah ada Business Center di dalam kampus induk Universitas Almuslim yang berdampingan langsung dengah Pesantren Terpadu Almuslim, tapi belum juga mampu memenuhi kebutuhan para santri yang berjumlah ± 500 orang.

Hampir setiap jam istirahat para santri menyelesaikan tugasnya di Business Center  yang melayani fotokopi, jasa print, laminating, penjilidan, dan lain-lain. Jika sesekali kebutuhan tidak dapat dipenuhi dengan cepat di pusat bisnis tersebut, maka para santri ditemani oleh ustazah atau ustaz dapat bertransaksi pada toko yang ada di luar pagar pesantren. Hal ini tentu dapat menambah pendapatan pemilik toko mulai dari permintaan alat tulis kantor (ATK) sampai dengan aksesori sehari-hari, terutama untuk santriwati.

Pedagang kuliner, baik yang ada toko maupun yang kaki lima, turut merasakan banjir rezeki ini. Betapa tidak, satu orang santri pada saat membelanjakan uangnya tidak kurang dari Rp 10.000, mulai dari kue hingga minuman. Harga terendah yang dijual berkisar antara  Rp 3.000 sampai dengan Rp 5.000. Bagi para santri harga ini sudah biasa walaupun mulanya terasa mahal, bahkan banyak yang jajan lebih dari targetnya. Namun, para ustaz dan ustazah selalu mengarahkan santri untuk hidup hemat, tidak konsumtif.

Saat kunjungan orang tua, khususnya pada hari libur santri/santriwati, yaitu hari Jumat, maka jalan menuju pesantren dan Kampus Universitas Almuslim dipadati oleh berbagai jenis kendaraan. Mulai dari yang mewah sampai yang biasa. Semuanya berjejer rapi di halaman kampus induk, bahkan terkadang kami yang dosen pun tidak kebagian tempat untuk parkir.

Ada pemandangan yang unik pada setiap Jumat. Yakni, saat satu keluarga menjenguk seorang santri/santriwati, tapi menggunakan dua bahkan sampai lima kendaraan. Mereka kemudian makan bersama dengan menggelar tikar di bawah pohon rindang, bercengkerama, dan melepas rindu terhadap anak-anaknya. Terkadang juga pihak keluarga mengajak anaknya jalan-jalan di seputaran Kota Bireuen atau bahkan ke laut. Sungguh membahagiakan melihat tawa lepas dan keceriaan para santri saat bersama orang tuanya.

Kehadiran para orang tua santri tentu berdampak pula pada peningkatan daya beli, baik itu pedagang pakaian, kelontong, kuliner, maupun pelaku usaha lainnya. Semua kebagian rezeki. Ada anak yang butuh pakaian dalam (underware), sepatu, buku, hingga pakaian sehari-hari. Lalu orang tua membawa anaknya untuk membeli kebutuhan si anak, bahkan terkadang lebih dari yang direncanakan.

Secara teori, napas penyambung kehidupan keluarga setiap pedagang tergantung pada konsumennya, bahkan dipengaruhi juga oleh tanggal muda dan tanggal tua. Bila di awal bulan, maka banyaklah yang membeli, tetapi begitu di akhir bulan kebanyakan mereka hanya bertanya-tanya saja. Namun, pihak penjual tetap sabar menghadapi kondisi yang seperti ini.

Sejauh yang saya amati, peredaran uang di Kabupaten Bireuen mampu mendongkrak perekonomian masyarakat, terutama yang berdekatan langsung dengan kedua lembaga pendidikan di Matang. Di sini aneka jajanan tersedia dengan kekhasan masing-masing dari tangan-tangan terampil pembuatnya. Ada yang menyajikan kue siap makan, ada pula yang harus menunggu sesuai dengan pesanan.

Saat saya tanyai beberapa pedagang es krim, siomai, piscok (pisang goremg cokelat), dan burger, rerata mereka menyatakan bahwa penghasilannya lebih besar dari biasanya sebelum adanya Pesantren Terpadu Almuslim di kawasan ini. Nilai jajanan anak-anak santri tidak terbatas, tetapi tetap sesuai dengan aturan, biasanya para santri jajan pada saat jam istirahat siang ataupun sore.

Hidupnya kembali perekonomian di Matang tentu tidak terlepas dari kebijakan para pemimpin, baik itu camat maupun Pemerintah Kabupaten Bireuen. Namun, ada keluhan dari pengguna jalan, terutama orang tua santri. Mereka harus berpikir keras untuk mencari jalan keluar melalui jalan yang sudah tersedia atau malah harus melanggarnya. Ini dilema Matangglumpang Dua.

Hal ini disebabkan ketidaktertiban para pedagang yang berjualan melebihi batas dari lapaknya sehingga pengendara harus ekstrahati-hati jika tidak ingin kendaraan kita tergores. Kunci utamanya adalah kesabaran baik pedagang maupun pengendara roda dua dan roda empat yang melintas di jalan ini.

Apa yang dialami oleh para orang tua atau wali santri sebenarnya sudah saya rasakan beberapa puluh tahun lalu. Jujur saja, terkadang malu untuk melanggar rambu lalu lintas yang tidak membenarkan pengemudi ke luar melalui pintu masuk. Namun, tak ada pilihan, kemacetan pun terkadang sulit dihindari karena padatnya arus masuk dan ke luar di jalur yang sama. Ditambah lagi dengan kondisi jalan yang mulai terlihat sempit karena menjamurnya pedagang di kedua sisi jalan. Sekali lagi, inilah dilema Matangglumpang Dua, situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan.

Kondisi ini tentu menjadi hal yang dirasakan kurang nyaman bahkan kendala berlanjut, apalagi jika ada tamu yang berkunjung ke Matang.

Pemerintah kecamatan maupun kabupaten sudah beberapa kali melakukan penertiban, tetapi hanya satu hari, keesokan harinya kembali seperti biasa. Untuk itu, perlu adanya kesadaran dari para pedagang maupun pengguna jalan agar dilema Matangglumpang Dua ini cepat teratasi, tidak berlarut-larut.

Fasilitas jalan yang memadai dan nyaman adalah salah satu faktor penting sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi suatu daerah seperti di Matangglumpang Dua. Untuk itu, perlu solusi mencari jalan keluar sehingga persoalan tersebut dapat diatasi dengan tepat dan permanen.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved