Kamis, 23 April 2026

Citizen Reporter

Cara Taiwan Cegah Virus Corona 

Dengan pencegahan nasional yang terintegrasi ini, di Taiwan hanya 50 orang yang dikonfirmasi positif dan hanya satu orang yang meninggal.

Editor: Mursal Ismail
For serambinews.com
Dr FAROK AFERO 

Dengan pencegahan nasional yang terintegrasi ini, di Taiwan hanya 50 orang yang dikonfirmasi positif dan hanya satu orang yang meninggal.

Dr. FAROK AFERO, ASN pada Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh dan Peneliti Tamu di NTOU Taiwan, melaporkan dari Taiwan

AKHIR 2019 saya mendapat undangan sebagai peneliti tamu untuk penelitian kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam manajemen perikanan budi daya dari National Taiwan Ocean University (NTOU).

Undangan sebagai peneliti tamu saya terima dan mendapatkan izin dari Pemerintah Aceh untuk terlibat dalam penelitian selama empat tahun.

Namun, rencana kunjungan ke Taiwan yang direncanakan di awal Januari saya tunda. 

Pasalnya, virus Corona atau Covid-19 yang bermula dari Wuhan, Cina, dan menyebar ke berbagai negara, termasuk Taiwan.

Untuk memastikan bahwa keadaan di sana aman, saya berkomunikasi dengan profesor.

Pidie Jaya Siaga Darurat Corona, Warga Diimbau Perbanyak Zikir, Doa, Yasinan, Tahajud dan Dhuha 

Informasi yang saya dapatkan bahwa Taiwan sudah bisa menangani penyebaran virus Covid-19 dengan cepat. Akhirnya saya pun berangkat.

Penerbangan ke luar negeri selama kejadian penyebaran virus Covid-19 menurun drastis.

Ketika transit di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2, biasanya terminal AirAsia sangat penuh dengan penumpang ke segala arah, tapi pascasebaran virus Covid-19 justru menjadi sepi.

Penerbangan ke Taipei juga mengalami hal yang sama, penumpang hanya 30% dari jumlah tempat duduk dan tren ‘ghost flight’ atau pesawat tanpa penumpang sudah menjadi masalah besar bagi industri penerbangan.

Karena okupasi seat (kursi) setiap penerbangan minim, Airport Taoyuan Taiwan juga mengalami penurunan penumpang, airport sepi, dan pemeriksaan di imigrasi sangat cepat.

Selama Masa Isolasi 14 Hari, Sebaiknya Tunda Periksa Kehamilan dan Pap Smear

Setelah melewati imigrasi, pemeriksaan yang ketat dilakukan oleh petugas kesehatan yang memonitor suhu pengunjung serta meminta alamat detail dan nomor kontrak yang bisa dihubungi di Taiwan.

Penumpang juga harus mengisi formulir kunjungan 14 hari terakhir dan seluruh penumpang yang transit di Cina, Hong Kong, Macau, Iran, dan Korea Selatan harus dikarantina selama 14 hari.

Perjalanan dari bandara ke pusat Kota Taipei Main Station juga kosong dan sesampai di Taipei Main Station pemandangan lengang dan sepi. 

Bahkan penjual di kios-kios terminal sangat pasif dan tidak terdengar panggilan promosi barang-barang yang mereka jual.

Semua orang memakai masker dan minim komunikasi.

RSUD Teuku Peukan Abdya Belum Miliki Ruang Isolasi Pasien Suspect Corona

Kampus juga menerapkan aturan yang sangat ketat dalam mencegah penyebaran virus ini.

Seluruh mahasiswa yang masuk ke semua gedung dicek suhunya setiap saat, dari pagi sampai malam.

Untuk menandai bahwa mahasiswa sudah dicek suhu, setelah pemeriksaan ditempel stiker kecil di baju dan warna stiker berbeda tiap hari dan antarwaktu.

Penggunaan piring makanan tidak diperbolehkan, restoran memberikan kotak, sumpit sekali pakai, dan tiap orang diberi satu sendok pengambil makanan.

Bisa dibayangkan berapa sendok yang harus disediakan untuk ribuan penghuni kampus.

Pascasebaran virus Covid-19 di Wuhan, Cina, Taiwan pun mulai memantau penumpang yang tiba dari Wuhan.

Petugas kesehatan langsung naik ke pesawat untuk mengukur suhu tubuh penumpang.

Petugas juga memantau orang yang telah melakukan perjalanan dari Wuhan sejak merebaknya virus Covid-19.

Apabila ada masyarakat yang menunjukaan gejala semirip terinfeksi virus corona maka diperintahkan agar melakukan karantina di rumah selama 14 hari untuk dinilai apakah perlu tindakan medis di rumah sakit.

Setelah penyebaran virus semakin mengganas, Taiwan menjadi negara pertama yang melarang penerbangan dari Wuhan.

Pemerintah juga melarang ekspor masker dan memastikan masyarakat mampu membeli dengan harga terjangkau, mendistribusikan 6,5 juta masker ke seluruh sekolah dasar dan menengah, distribusi 84.000 liter sanitizer dan 25.000 unit pengukur suhu badan.

Salah satu kelebihan Taiwan dalam menangulangi Covid-19 adalah penggunaan infrastruktur kesehatan yang terintegrasi, yaitu analisis data besar atau Big Data, termasuk di dalamnya data sejak wabah SARS tahun 2003.

Pengunjung melaporkan riwayat kesehatan dengan kode QR yang selanjutnya digunakan pemerintah untuk mengklasifikasi risiko infeksi penumpang berdasarkan asal negara kunjungan dan riwayat perjalanan selama 14 hari.

Mereka yang telah melakukan perjalanan ke daerah berisiko tinggi dikarantina di rumah dan dilacak melalui ponsel mereka untuk memastikan bahwa mereka tinggal di rumah selama masa karantina.

Penumpang yang sebelumnya negatif dari virus Covid-19 harus mendapatkan pengujian ulang untuk melacak kemungkinan timbulnya kasus baru.

Sistem asuransi kesehatan Taiwan yang mencakup 99% populasi menjadikan Taiwan bisa cepat menangulangi Covid-19.

Asuransi kesehatan memungkinkan semua orang tidak takut untuk pergi ke rumah sakit.

Jika masyarakat merasakan gejala Covid-19, bisa langsung menuju rumah sakit untuk mendapatkan tes gratis, bila harus diisolasi selama 14 hari pemerintah menanggung kebutuhan makanan dan perawatan medisnya.

Pemerintah Taiwan juga menyiarkan pengumuman layanan publik per jam tentang virus corona, termasuk bagaimana hal itu menyebar dan bagaimana orang harus mencegah infeksi sehingga warga bisa meningkatkan pola hidup sehat dan menjaga kebersihan.

Setiap orang harus bertanggung jawab untuk kesehatan dirinya sendiri dengan menjaga pola makanan, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan melaporkan diri apabila merasakan gejala Covid-19.

Pemerintah Taiwan berhasil menangani virus Covid-19 karena memiliki mekanisme pencegahan penyakit nasional yang komprehensif.

Cara itu meliputi sistem pemantauan penyakit secara digital, tindakan karantina yang ketat, penanggulangan yang luas berbasis masyarakat. 

Kemudian kesiapan medis serta sumber daya yang cukup.

Dengan pencegahan nasional yang terintegrasi ini, di Taiwan hanya 50 orang yang dikonfirmasi positif dan hanya satu orang yang meninggal.

Indonesia atau minimal Aceh patut belajar dari cara Taiwan mencegah penyebaran virus yang bikin geger seantero dunia ini. (farokafero@gmail.com) 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved