Breaking News:

Kisah Warga Aceh di Jerman Hindari Corona, Sembunyi di dalam Bunker dan Harus Belanja Online

Negeri Hitler tersebut bahkan telah memberlakukan lockdown di sejumlah provinsi. Seorang warga Aceh yang menetap di Loreley Valley menceritakan

FOTO HANDOVER SERAMBI INDONESIA
Maidar, warga Aceh yang menetap di Jerman 

Virus corona penyebab Covid-19 telah menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Jerman. Negeri Hitler tersebut bahkan telah memberlakukan lockdown di sejumlah provinsi. Seorang warga Aceh yang menetap di Loreley Valley menceritakan kisahnya dari dalam bunker persembunyiannya.

JERMAN termasuk negara yang paling terpukul karena wabah virus Corona. Meski demikian, jumlah korban meninggal dunia di negara ini tidak setinggi di negara Uni Eropa lainnya. Angka terbaru, Jerman telah melaporkan 24.873 kasus penularan virus Corona. 266 Pasien berhasil sembuh, dan 94 orang meninggal dunia.

Rendahnya angka kematian itu salah satunya karena Pemerintah Jerman bergerak cepat mengkarantina penduduk ketika kasus Corona ditemukan.  Seorang warga Aceh, Maidar, mengaku terpaksa tinggal di dalam bunker untuk menghindari paparan virus mematikan itu.

Maidar merupakan ilmuan ahli peradaban global yang bermukim di Loreley Valley. Ia mengaku telah tinggal di dalam bunker sejak 27 Februari 2020 lalu dan keluar sebulan sekali untuk menyerap sinar matahari. “Saya sejak 27 Februari hidup di bunker ruang bawah tanah di belakang bukit villa tua saya,” katanya kepada Anggota DPRA, dr Purnama Setia Budi dan Serambi melalui WhatsApp, Senin (23/3/2020).

Ia pun menceritakan bagaimana kondisi di Jerman. Maidar menjelaskan, Jerman saat ini sudah melakukan lockdown di beberapa provinsi dan rencananya semua negara bagian akan melakukan penutupan total minimal selama sebulan.

Negeri Hitler tersebut mulai siaga virus setelah pembakaran massal ribuan mayat korban Corona di Italia. Jerman lanjutnya, menerapkan kunci residensi total dan warga dilarang ke luar rumah tanpa melapor. “Situasi makin darurat. Kemungkinan sebulan lebih atau diperpanjang setahun tidak boleh kontak sosial. Gimana kampung kita di Aceh?” ujarnya sambil bertanya balik.

Semua negara, lanjut Maidar, sedang mencari cara meredam efek virus Corona. Beberapa negara membuat kebijakan ketat. Maidar sendiri mengaku mulai mengurangi agenda yang berhubungan dengan manusia. “Semua kerja menggunakan sistem teleworking, remote jarak jauh,” tambahnya.

“Saya tidak mau kontak siapun, kami belanja sistem online, semua stok dikirim ke rumah tanpa kontak manusia,” imbuh Maidar.

“Tragedi di Italia, Prancis, juga sebagian Jerman, mulai panik kita semua. Saya tidak tahu apakah Indonesia bisa aman,” sambungnya lagi.

Maidar pun berharap Aceh bisa belajar banyak dari kasus-kasus yang terjadi di sejumlah negara terpapar. Ia menyarankan lalu lintas manusia antara Aceh dan Sumatera Utara (Sumut) dibatasi atau ditutup total selama dua minggu.

“Seharusnya, perbatasan Aceh-Sumut, khususnya transfer manusia jaringan kota-kota besar yang punya interaksi global dan dekat episentrum virus, seperti Medan yang banyak kontak dengan negeri jiran di Asean, sementara dibatasi atau karantina total,” sarannya.

“Perbatasan Aceh harus tutup total minimal dua minggu, atau jarak fisik dan sosial dibatasi intensif. Ikuti saran WHO atau lembaga resmi,” tambah Maidar. Ia berharap semua pihak di Aceh agar kompak. Istirahatkan Aceh minimal selama dua minggu tanpa arus lalu lintas manusia, kecuali barang agar ada fase netral sejenak.(yocerizal)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved