Jurnalisme Warga
Seulanga dan Jeumpa Penghuni Baru Makam Kehormatan Belanda
BELUM lama ini saya bersama seorang teman mengunjungi sebuah tempat yang sangat berpengaruh dalam jejak langkah wisata ziarah
OLEH CUT PUTRI ALYANUR, PNS asal Aceh di Jakarta, melaporkan dari Ancol, Jakarta
BELUM lama ini saya bersama seorang teman mengunjungi sebuah tempat yang sangat berpengaruh dalam jejak langkah wisata ziarah kami. Tempat itu adalah sebuah makam kehormatan Belanda yang dikelola oleh sebuah yayasan dan berada di wilayah Jakarta.
Kami datang ke makam ini dengan membawa sebatang bibit pohon kenanga (seulanga) dan cempaka (jeumpa). Penjaga makam dengan sukacita menerima pemberian kami sehingga jadilah kedua bunga khas Aceh itu menjadi penghuni baru di Makam Kehormatan Belanda tersebut.
Di pintu masuk rumah yayasan ini tertulis: Mereka layak beristirahat dengan tenang. Begitulah arti sederhana dari tulisan berbahasa Belanda itu: Opdat zij met eere morgen rusten.
Rumah yayasan yang dibangun oleh Pemerintah Belanda di Indonesia ini bernama Oorlog Graven Stichting yang berarti Makam Kehormatan Belanda. Biasa disingkat OGS.
Selama ini OGS telah menjembatani pertemuan historis antara keluarga korban perang masa Jepang (1942-1945) dengan para korban pada masa itu yang terbunuh dan tewas akibat perang sehingga menimbulkan sedih, perih, dan luka di hati para keluarga dan bangsa.
Ada tujuh Makam Kehormatan Belanda di Pulau Jawa. Konsentrasi pengelolaan lokasinya berpusat di Jakarta, yaitu di Menteng Pulo dan Ancol. Di Bandung (Pandu), di Cimahi (Leuwigajah ), di Semarang (Kali Banteng dan Candi ), dan di Surabaya (Kembang Kuning). Di Aceh juga ada, yakni Makam Kerchoff di kawasan Sukaramai (Blower) Banda Aceh.
Semua lokasi makam dikelola dan dirawat dengan baik sekali oleh OGS, untuk menghormati semua korban perang masa Jepang (1942-1945), terutama korban dari Ambon, Aceh, Manado, Padang, Cepu, Banjarmasin, Kalimantan Barat, Kendari, dan Bojonegoro.
Makam Kehormatan Belanda yang berlokasi di Ancol adalah tujuan kami sebagai peziarah umum yang mulanya hanya ingin mengetahui secuil cerita sejarah yang kami dengar tentang makam kehormatan ini. Untuk menuju ke Makam Kehormatan Belanda, kami mulai dengan mengunjungi tempat wisata Taman Impian Jaya Ancol (TIJA ). Ancol ternyata memberi tempat yang sangat layak untuk para pejuang dan korban perang masa Jepang yang difasilitasi oleh Pemerintah Belanda di Indonesia.
Ada 2.000 makam berbaris rapi di sini, bercat putih dalam lambang dan tanda nisan yang dapat dikenali bila datanya lengkap dan tertulis di buku registrasi pengelola makam dari OGS.
Berdasarkan catatan resmi di buku registrasi OGS, F Hadi Susilo, pemandu yang mendampingi kami menyampaikan kondisi wilayah yang dikawalnya itu setiap hari sejak pagi hingga sore.
Makam Kehormatan Belanda seluas 3 ha ini berada sekitar 50 cm di atas permukaan laut Ancol, sehingga apabila musim pasang para petugas bekerja keras memompa air banjir untuk dialirkan ke saluran lainnya yang lebih rendah agar makam tak tergenang.
Hadi juga menyampaikan, untuk mengenal makam para penghuni, ada tanda nisan khusus bagi makam yang beragama Kristen/Katolik. Yakni dengan tanda salip, lalu untuk penganut Buddha ada tanda ○ di nisannya, sedangkan penganut agama Islam tanda nisannya mirip kubah masjid.
Di setiap makam yang bercat putih itu ada pula data tentang prediksi tahun kelahiran yang ditandai dengan lambang * (bintang) dan tahun kematian dengan lambang + (tambah), serta lokasi eksekusinya. Meski lokasi makam ini adalah lokasi makam korban kejamnya perang, tetapi lokasi ini menurut kami, para peziarah, bukan seperti lokasi korban pembantaian.
Suasananya, benar seperti namanya “Makam Penghormatan“. Di sini terdapat 1.456 makam dengan identitas pria dan 18 makam terindentifikasi sebagai makam wanita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/cut-putri-alyanur-pns-asal-aceh-di-jakarta-melaporkan-dari-ancol-jakarta.jpg)