Jurnalisme Warga
Masjid Islamic Center Lhokseumawe, Kemegahan dan Aktivitasnya
Meski masih pagi, jalan yang saya tempuh saat itu terasa panas. Walaupun AC kendaraan dalam keadaan on, tapi hawa panas serasa menembus kaca
OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen
Pagi itu, Senin, ada kegiatan yang harus saya ikuti di Kota Lhokseumawe, walau sebenarnya terasa berat untuk meninggalkan rumah di Pante Gajah, Peusangan, dalam situasi ancaman penyebaran wabah corona virus diseases atau yang lebih dikenal dengan nama Covid-19 ini.
Meski masih pagi, jalan yang saya tempuh saat itu terasa panas. Walaupun AC kendaraan dalam keadaan on, tapi hawa panas serasa menembus kaca jendela mobil. Namun, semua itu tak menyurutkan langkah saya menuju Lhokseumawe, kota yang dulunya dijuluki “Petrodolar”.
Di sepanjang jalan tampak lengang. Tak terlihat kendaraan umum yang berkejar-kejaran seperti pada saat aktivitas sekolah dan kantor masih lancar. Waktu tempuh juga menjadi lebih cepat. Biasanya perlu waktu 50 menit dari Matangglumpang Dua ke Lhokseumawe, tapi saat ini hanya 30 menit saja.
Kota Lhokseumawe adalah kota terbesar di wilayah timur Aceh, memiliki luas ± 181,1 km2. Di kota ini dulunya, saat masih menjadi ibu kota Kabupaten Aceh Utara, banyak perusahaan besar, seperti PT Arun NGL Co, PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), PT Asean Aceh Fertilizer (AAF), dan PT Aromatic. Rata-rata perusahaan ini juga mempekerjakan orang asing dari berbagai negara sesuai dengan keahliannya.
Pada masa jayanya, Lhokseumawe adalah jalur pertemuan antara Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, dan Bireuen. Geliat ekonomi juga sangat pesat di sini masa itu.
Pada saat perusahaan-perusahaan tersebut sudah menurun produksinya, bahkan ada yang tutup, seperti PT Kertas Kraft Aceh (KKA), PT Aromatic, dan PT Arun, maka pekerja asing juga kembali ke negaranya. Sedangkan tenaga-tenaga terampil dalam negeri mulai melirik pekerjaan di luar Aceh, bahkan ada yang hijarah ke luar negeri, di antaranya ke Qatar. Nah, pada saat itulah perlahan geliat ekonomi mulai mengalami penurunan. Namun kini, di bawah komando Bapak Suaidi Yahya, Lhokseumawe mulai bangkit lagi.
Di kota ini berdiri dengan megahnya sebuah gedung yang dinamakan Islamic Center. Salah satu fasilitas di dalamnya adalah masjid yang dibangun sejak 2001 dengan asrsitektur bergaya Timur Tengah. Masjid ini diberi nama Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe.
Pembangunan Islamic Center ini ada kaitannya dengan sejarah kejayaan kerajaan Islam pertama di Nusantara, yaitu Samudra Pasai (Samudera Pase). Pada masa jayanya, kerajaan ini banyak dikunjungi tamu dari Timur Tengah. Secara tak langsung, tatanan kehidupan kerajaan juga mengikuti gaya Timur Tengah.
Gagasan utama pembangunan Masjid Islamic Center Lhokseumawe ini berawal dari hasil musyawarah beberapa ulama dan tokoh masyarakat yang di wilayah Aceh Utara (merupakan kabupaten induk sebelum Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Bireuen mekar darinya) saat Aceh Utara dipimpin Bupati Tarmizi A Karim MSc.
Luas lokasi pembangunan masjid yang disediakan ± 16.475 meter persegi dan menghabiskan dana ± Rp150 miliar. Pada saat pembangunan masjid ini juga penuh tantangan, karena Aceh saat itu masih dalam keadaan konflik bersenjata.
Kehadiran Masjid Agung Islamic Center Lhokseuamwe ini membawa suasana berbeda bagi masyarakat sekitarnya, terutama pada saat shalat Idulfitri dan Iduladha yang dulunya dilaksanakan di Lapangan Hiraq, di samping masjid tersebut. Tapi kini shalat Id dilaksanakan di dalam masjid.
Untuk kegiatan shalat lima waktu berjalan selayaknya masjid yang lain. Saya juga pernah shalat Zuhur berjamaah di masjid ini. Lantunan ayat yang dibacakan imam sangat menyentuh di hati, apalagi didukung oleh suasana yang nyaman, diiringi embusan angin yang sepoi-sepoi, makin menambah rasa syukur kita akan nikmat yang Allah berikan. Tanpa terasa air mata saya pun menetes di pipi.
Masjid Agung Islamic Center ini memiliki daya tampung ± 6.000 jamaah untuk lantai satu dan ± 3.000 jamaah di lantai 2. Awalnya direncanakan mampu menampung ± 20.000 jamaah, maka tak heran jika masjid ini merupakan salah satu masjid yang terbesar di Aceh jika dilihat dari daya tampungnya. Di kompleks masjid ini juga tersedia beberapa fasilitas penunjang, di antaranya perpustakaan, mes, atau wisma tamu, madrasah diniah, Taman Pendidikan Alquran (TPA), dan lain-lain.
Kegiatan yang sering dilaksanakan di masjid ini berhubungan dengan keagamaan, seperti dakwah, kajian Islam, seminar, pelatihan, dan lain-lain. Seluruh aktivitas tentunya sesuai dengan tujuan dari pembangunan Islamic Center di Kota Lhokseumawe. Di antaranya mewujudkan masjid yang makmur dan monumental sebagai pusat pembinaan umat dan budaya Islam, menyelenggarakan kegiatan pengembangan sumber daya muslim melalui dakwah, pendidikan, dan pelatihan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/chairul-bariah-kepala-biro-umum-universitas-almuslim_20180419_101750.jpg)