Baru Tiba, Warga Usir Pekerja Asal Cina
Warga Desa Langkak, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya, Selasa (31/3/2020) malam, mengusir tujuh pekerja asal Cina, yang baru tiba
* Khawatir Terpapar Virus Corona
SUKA MAKMUE - Warga Desa Langkak, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya, Selasa (31/3/2020) malam, mengusir tujuh pekerja asal Cina, yang baru tiba di gampong tersebut. Akibatnya, warga negara asing (WNA) yang rencananya bekerja pada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 3-4 di kabupaten itu, harus kembali ke Jakarta pada Rabu (1/4/2020) pagi. Hal tersebut dilakukan warga sebagai langkah antisipasi masuknya wabah virus Corona (Covid-19) ke kawasan itu.
Informasi yang diperoleh Serambi, kemarin, menjelaskan, ketujuh pekerja asal Cina itu tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar, pada Selasa (31/3/2020) sore pukul 16.00 WIB. Setelah itu, mereka langsung melakukan perjalanan darat menuju mes pekerja PLTU 3-4 yang berlokasi di Desa Langkak. Pekerja yang terdiri atas Jisheng Li (50), Zhang Wenting (50), Zhad Songmei (50), Sun Weifang (48), Wang Hongyu (46), Jia Gongzuo (45), dan Zhuang Wen Shng (56), tiba di tempat tersebut pada malam harinya sekitar pukul 21.00 WIB.
Mengetahui hal itu, warga Langkak dalam jumlah besar langsung mendatangi mes tersebut. Di sana, warga menyatakan keberatan dan meminta ketujuh tenaga kerja asing (TKA) itu segera meninggalkan Nagan Raya. Mendapat informasi tentang warga menolak kedatangan pekerja asing yang akan bekerja di PLTU 3-4, Tim Gugus Tugas Covid Pemkab Nagan Raya bersama Muspika Kuala Pesisir, turun ke desa tersebut. Setelah melalui proses negosiasi, akhirnya disepakati ketujuh WNA itu harus kembali ke Jakarta.
Karena diusir dari Langkak, pekerja asal Cina tersebut berencana singgah di lokasi PLTU 3-4. Tapi, kedatangan mereka ternyata diadang oleh massa asal Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, yang sudah lebih dulu menunggu di tempat itu. Akhirnya, diputuskan TKA tersebut harus kembali ke Jakarta. Sehingga, pada malam itu juga mereka berangkat kembali ke Banda Aceh melalui jalan darat. Kemudian, pada Rabu (1/4/2020) pagi sekitar pukul 10.00 WIB, rombongan pekerja asing tersebut kembali ke Jakarta melalui Bandara SIM.
Ketua Pemuda Desa Langkak, Faisal, kepada wartawan, mengatakan, penolakan dan pengusiran pekerja asal Cina itu karena warga gampong tersebut khawatir dengan penyebaran virus Corona (Covid-19). Apalagi, menurutnya, kedatangan warga Cina ke desa mereka tak dilaporkan terlebih dulu. “Terlebih lagi, mereka datang dari luar Aceh," katanya.
Kepala Dusun Gelanggang Merak, Desa Suak Puntong, Mukhlis, juga mengatakan, pengadangan tujuh pekerja asal Cina oleh massa dari desanya di pintu masuk PLTU 3-4 dilakukan karena warga khawatir ada di antara mereka yang terpapar virus Corona. “Makanya masyarakat menolak kedatangan mereka ke Nagan Raya,” ungkap Mukhlis.
Terpisah, Ketua DPRK Nagan Raya, Jonniadi, menyayangkan sikap manajemen PLTU 3-4 yang menerima kedatangan tenaga kerja baru di tengah mewabahnya Covid-19. Apalagi, menurutnya, mendatangkan pekerja asal Cina secara diam-diam. “Seharusnya, PLTU 3-4 mendukung usaha pencegahan penyebaran Covid-19 yang dilakukan oleh semua pihak. Tapi, mereka malah menambah pekerja baru asal Cina secara diam-diam,” tandas Jonniadi dengan nada kecewa kepada Serambi, yang kemain ikut turun bersama Tim Gugus Tugas ke lokasi.
Dengan tindakan itu, Jonniadi menilai, PLTU 3-4 tidak mau sama-sama berusaha mencegah Covid-19 yang kini makin meresahkan dan tidak memikirkan dampak dari masuknya TKA baru asal Cina tersebut ke Aceh. Karena itu, ia berharap ke depan kejadian serupa tidak terulang lagi. “Menurut saya, langkah warga mengadang WNA yang masuk ke Nagan Raya secara diam-diam, sudah tepat,” pungkas Jonniadi.
Hingga tadi malam, Serambi belum berhasil memperoleh informasi resmi dari pihak PLTU 3-4 terkait pengusiran dan pengadangan tujuh pekerja asal Cina oleh warga dua desa di Kecamatan Kuala Pesisir. Namun, selama ini proyek pembangunan PLTU milik investor asal Cina itu di bawah tanggung jawab PT MGP dan dua pelaksana PT Cianjin dan PT Fudong. Ketiga perusahaan tersebut berasal dari Cina.
Adi, penghubung di PLTU yang biasa berkomunikasi dengan Pemkab Nagan Raya, beberapa kali dihubungi Serambi ke nomor Hp yang biasa digunakannya, sore kemarin, juga tidak menjawab. Namun, ketika didatangi Tim Gugus Tugas Covid-19 dan Muspika Kuala Pesisir saat diusir warga, ketujuh pekerja asing itu melalui penerjemahnya mengaku bahwa mereka datang sendiri ke Aceh.
Kepala Kantor Imigrasi Meulaboh, Azhar, mengatakan, pihaknya sudah memeriksa dokumen ketujuh tenaga kerja asing (TKA) asal Cina yang diadang warga Nagan Raya. “Dokumen mereka lengkap. TKA asal Cina itu bukan pendatang baru di Indonesia. Mereka sudah setahun bekerja pada salah satu perusahaan di Jakarta," kata Azhar, kepada Serambi, Rabu (1/4/2020).
“Tim kita mendampingi kepulangan pekerja asing tersebut hingga ke Bandara SIM dengan tujuan kembali ke Jakarta. Tadi (kemarin-red) pukul 10.00 WIB, mereka sudah terbang dari Bandara SIM ke Jakarta via Medan,” kata Azhar.
Menurutnya, TKA tersebut bukan pendatang baru dari luar negeri (Cina). Tapi, sudah lama berada di Indonesia dan selama ini bekerja pada salah satu perusahaan di Jakarta. Azhar menambahkan, mereka datang ke Nagan Raya rencananya akan bekerja di PLTU 3-4 yang kini sedang dalam tahap pembangunan. “Kami memaklumi sikap warga yang menolak kedatangan pekerja asing tersebut karena saat ini virus Corona (Covid-19) sedang mewabah di seluruh dunia, termasuk Aceh,” pungkas Azhar.
Terpisah, Kapolres Nagan Raya, AKBP Risno SIK, mengatakan, situasi di kabupaten tersebut saat ini aman dan terkendali. “Semua mereka (TKA-red) sudah berangkat ke Banda Aceh tadi malam (Selasa malam-red) dan selanjutnya kembali ke Jakarta,” kata Risno.