Breaking News:

Salam

Sikap yang Tepat Menolak 7 WNA  

Warga Desa Langkak, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya, awal pekan ini mengusir tujuh pekerja asal Cina

Disnakertrans Nagan Raya
Kadisnakertrans Nagan Raya, Rahmatullah didampingi Dandim 0116 Letkol Inf Guruh Tjahyono ketika mendatangi PLTU 3-4 mempertanyakan kedatangan 7 TKA Cina di Nagan Raya, Rabu (1/4/2020). 

Warga Desa Langkak, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya, awal pekan ini mengusir tujuh pekerja asal Cina, yang baru tiba di gampong tersebut. Ketujuh warga negara asing (WNA) yang rencananya bekerja pada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 3‑4 di kabupaten itu, harus kembali ke Jakarta pada  Rabu (1/4/2020) pagi. Tidak ada sangkut paut dengan keimigrasian, tapi warga bersikap demikian sebagai langkah antisipasi masuknya wabah virus Corona (Covid‑19) ke kawasan itu.

Sebagaimana diberitakan Serambinews.com dan Harian Serambi Indonesia, ketujuh pekerja asal Cina itu tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar, pada Selasa (31/3/2020) sore. Setelah itu, mereka langsung melakukan perjalanan darat dan tiba  di mes pekerja PLTU 3‑4 kawasan Desa Langkak  sekitar pukul 21.00 WIB.

Warga desa dalam jumlah besar mendatangi mes tersebut meminta ketujuh tenaga kerja asing (TKA) itu segera meninggalkan Nagan Raya. Mendapat informasi tentang warga menolak kedatangan pekerja asing yang akan bekerja di PLTU 3‑4, Tim Gugus Tugas Covid Pemkab Nagan Raya bersama Muspika Kuala. Setelah melalui proses, akhirnya disepakati ketujuh WNA itu harus kembali ke Jakarta  melalui Bandara SIM pada Rabu (1/4) pagi.

Aparat desa setempat mengatakan, penolakan dan pengusiran pekerja asal Cina itu karena warga gampong tersebut khawatir terkait penyebaran virus Corona. Apalagi, kedatangan WN Cina ke desa mereka tak dilaporkan lebih dulu. Diketahui pula, ketujuh WNA itu selama ini berdomisili di Jakarta, satu daerah yang di Indonesia yang paling parah serangan Covid‑19.

Ketua DPRK Nagan Raya, Jonniadi, menyayangkan sikap manajemen PLTU 3‑4 yang menerima kedatangan ‑‑secara diam‑diam‑‑ tenaga kerja baru di tengah mewabahnya virus Corona. "Seharusnya, PLTU 3‑4 mendukung usaha pencegahan penyebaran Covid‑19 yang sedang dilakukan semua pihak."

Pejabat Kantor Imigrasi di Meulaboh mengaku sudah memeriksa dokumen ketujuh WNA itu. Semuanya lengkap dan tak ada yang salah. Ketujuh WNA itu, menurut pihak Imigrasi, bukan baru datang dari Tiongkok, tapi mereka sudah setahun bekerja di Jakarta.

Ya, persoalan bagi masyarakat, saat ini bukan soal sah atau tidak sah mereka datang ke Aceh, tapi yang ditakutkan sekarang adalah virus Corona. Jangankan mereka datang dari Cina melalui Jakarta, warga Aceh sendiri yang tinggal di luar Aceh saat ini sangat diimbau supaya tidak pulang ke Aceh. Bahkan, untuk lebaran Idul Fitri nanti, diminta tidak ada yang mudik.

Persoalan utama Pemerintah di Aceh saat ini adalah bagaimana mencegah masuknya orang‑orang dari luar Aceh, terutama dari Malaysia, Pulau Jawa, dan Medan. Mereka yang sudah telanjur masuk ke Aceh, saat dicari dan diminta mengisolir diri selama dua pekan. Beberapa kabupaten malah menyediakan lokasi khusus untuk mengarantina warganya yang baru pulang dari perantauan atau perjalanan ke luar Aceh. Isolasi mandiri dinilai tidak efektif, karena banyak warga yang tidak disiplin dan keluarganya juga kurang jujur.

Saking ingin benar‑benar mencegah sebaran virus menakutkan itu, hampir setiap desa di Aceh kini sudah memagari kampung agar tak gampang dimasuki warga dari luar desa. Jadi, bukan hanya warga asing, tapi warga satu kawasan tak gampang memasuki kawasan lain tanpa alasan yang jelas. Di setiap mulut jalan masuk desa sudah ada penjaga dan palang penghalang selama 24 jam.

Kita tak ingin menyalahkan siapa‑siapa atas masuknya tujuh WNA asal Cina hingga tembus ke desa pedalaman Aceh di Kabupaten Nagan Raya. Yang ingin kita ingatkan bahwa Presiden, Wakil Presiden, para Menteri, Wali Nanggro, Gubernur, Pangdam, Kapolda, Kajati, Wali Kota, Bupati, dan para ulama sudah berminggu‑minggu secara berulang‑ulang mengimbau warga untuk tidak keluar rumah dan warga yang berada di luar Aceh dianjurkan tak pulang untuk sementara ini guna mencegah sebaran virus Corona di daerah tercinta ini. Memang tidak ada hukuman bagi mereka yang mengabaikannya, namun harus diingat bahwa anjuran itu adalah demi keselamatan kita semua. Makanya, mohon dipatuhi supaya kita semua bisa cepat hidup normal kembali. Bisa beribadah secara normal, bersilaturahmi, bersekolah, bekerja mencari nafkah, dan lain‑lain. Aamiin.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved