Rabu, 8 April 2026

JURNALISME WARGA

Meniadakan Adat ‘Peumulia Jamee’ untuk Sementara

Bireuen Peumulia jamee (memuliakan tamu) adalah kebiasaan masyarakat Aceh yang dilakoni oleh masyarakat secara turun-temurun

Editor: hasyim
IST
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Peusangan, Bireuen 

CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum  Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen melaporkan dari Matangglumpang Dua,

Bireuen Peumulia jamee (memuliakan tamu) adalah kebiasaan masyarakat Aceh yang dilakoni oleh masyarakat secara turun-temurun dan kini sudah menjadi bagian dari adat Aceh, sehingga muncul jargon peumulia jamee adat geutanyoe. 

Adat yang satu ini sangat unik dan terpuji karena dapat membuat tamu merasa nyaman dan sangat dihargai. Bagi masyarakat Aceh tamu adalah raja yang harus dilayani dengan harapan saat kembali mereka akan mendapatkan kesan yang memuaskan.

Tarian ranup lampuan yang dibawakan oleh penari wanita dengan menyuguhkan sirih kepada para tamu di akhir tarian ini adalah salah satu adat  peumulia jamee di Aceh pada saat menyambut tamu resmi. Berkaitan dengan hal ini ada kesan yang tak terlupakan dalam suatu acara internasional di Kampus Umuslim pada saat disuguhkan sirih kepada para bule, mereka heran ketika melihat tamu di sampingnya meletakkan uang ke cerana (tempat sirih) lalu berkata yang artinya “Donasi ya?” Spontan tamu lokal menjawab ini adat Aceh, si bule pun langsung manggut-manggut, namun tetap heran.

Dalam kehidupan keluarga masyarakat, terutama di pedesaan, memuliakan tamu dari zaman dulu hingga kini masih berlaku, segala upaya dilakukan keluarga untuk menjamu tamu mulai dari menyiapkan menu, tempat tidur, membersihkan rumah baik di luar maupun di dalam.

Ada yang unik bagi keluarga yang menerima tamu dalam praktik  peumulia jamee ini, terutama menu yang disajikan selalu istimewa. Jika biasanya makan ikan biasa, tapi kalau ada tamu selalu diupayakan untuk menyuguhkan menu yang lebih lezat seperti ayam, daging, udang, sayur-sayuran, dan dilengkapi dengan buah sebagai penutup menu.

Pakaian pada saat menerima tamu juga lebih rapi dan bersih, anak-anak di rumah dianjurkan berbicara lemah lembut. Secara menyeluruh ada perubahan dalam keluarga pada saat menerima tamu, keceriaan, dan kebahagiaan terbingkai dalam kenangan yang indah.

Namun, keindahan dan kebahagiaan itu saat ini mendadak tak akan kita temui lagi. Corona Virus Desease (Covid-19)  telah menyerang penghuni Bumi tanpa kenal usia dan kasta. Hampir setiap hari media memberitakan ada kasus orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), bahkan pasien yang positif Covid-19. Semua ini menyebabkan kita selalu harus waspada dan terkadang curiga pada setiap orang yang datang bertamu atau orang yang tidak kita kenal.

Satu minggu lalu di kampung saya, ada warga yang baru pulang merantau dari negeri seberang dan bertamu ke rumah sepupunya. Keharusan untuk melaporkan diri ke aparatur desa tidak dilakukannya, terpaksa aparat desa melaporkannya ke polsek setempat. Akhirnya, sang pemuda itu dinyatakan sebagai ODP karena pada saat itu kondisinya sedang deman, batuk, dan flu. Ia kemudian diwajibkan berdiam diri saja di rumah. Kebetulan di tempat dia tinggal ada beberapa anggota keluarga yang masih leluasa berlalu lalang ke luar rumah. Kepada salah satu di antaranya saya beranikan diri untuk bertanya, bagaimana karantina mandiri yang dijalani oleh ODP tersebut dan mengapa anggota keluarga yang lain tidak di karantina? Menurut pemilik rumah, orang  yang dikarantina khusus ODP saja sesuai arahan petugas medis.

Saya pun bertanya kembali, mengapa tuan rumah tidak bertanya dulu pada tamu yang baru datang, apakah sudah melewati tes kesehatan atau belum? Mengapa ia tidak melapor duluan kepada aparat desa/gampong? Yang sungguh membuat saya tercengang adalah jawaban tuan rumah, seperti ini: Hana meuoh, hana mangat sang ta tanyoeng (Buat apa, tak enak kalau kita tanya).

Dengan perasaan sedikti kesal saya pun berkata, “Peugadoh siat adat peumulia jamee/Hilangkan sejenak adat untuk memuliakan tamu.” Soalnya, kondisi kita sekarang jauh berbeda dengan sebelumnya. Seharusnya ditanyakan dulu pada tamu hal-hal yang berhubungan dengan Covid-19, sudahkan ia melakukan tes kesehatan, misalnya?

Jangan gara-gara “hana meuoh” dan “hana mangat”, masyarakat sekitarnya jadi korban, karena sebagaimana kita ketahui bahwa virus corona dibawa bersama hadirnya pendatang dari luar negeri  ke Indonesia. Asal virus ini adalah dari Wuhan, Cina, dan hampir 200 negara di dunia terjangkit virus ini. Sungguh menyedihkan, maka saat ini sebaiknya tamu tidak perlu kita layani seperti yang diajarkan dalam adat peumulia jamee.

Bukan bermaksud untuk mengabaikan tamu, alangkah baiknya saat ini kita tidak menerima tamu siapa pun dia, menjaga jarak, dan membatasi ruang gerak adalah salah satu cara untuk memutus mata rantai Covid-19, sebagaimana pemerintah telah menetapkan berbagai aturan terkait Covid-19. Ada juga diberlakukan jam malam, tapi masih saja banyak warga yang tidak mematuhinya. Instruksi untuk tidak berkumpul di warung kopi pun tidak semua menerapkannya, lantas apa yang harus dilakukan?

Kita pun dapat berperan dalam memutus mata rantai Covid-19 dengan cara tidak menerima tamu untuk sementara waktu. Atau boleh tetap menerima tamu asalkan tamu tersebut terlebih dahulu harus melalui serangkaian tes kesehatan.

Jadi, karena kondisi “darurat corona” ini mari kita lupakan sejenak adat peumulia jamee, karena ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan, salah satunya adalah menjaga kesehatan, mencuci tangan pada saat memulai dan mengakhiri suatu pekerjaan, atau saat diri merasa kurang nyaman, konsumsi makanan yang bergizi, perbanyak minum yang hangat, juga mengonsumsi vitamin C agar daya tahan tubuh lebih kuat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved