Kamis, 28 Mei 2026

Citizen Reporter

Terjebak Covid-19 di Apartemen Amerika Serikat

Bagi saya sendiri, pilihan hanya satu, yakni tinggal di apartemen, sebab kalau saya pulang ke Aceh secara finansial dan keimigrasian akan sangat sulit

Tayang:
Editor: Mursal Ismail
For serambinews.com
SHIRRA ULFA IRHAM 

Bagi saya sendiri, pilihan hanya satu, yakni tinggal di apartemen, sebab kalau saya pulang ke Aceh (Indonesia) secara finansial dan keimigrasian akan sangat sulit.

SHIRRA ULFA IRHAM, Mahasiswi Teknik Kimia Industri Texas Tech University, Lubbock, melaporkan dari Texas, Houston, Amerika Serikat

SAYA sudah empat tahun bermukim di Texas, Amerika Serikat (AS).

Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang tinggal menanti wisuda saja tentu ada rasa khawatir, sedih campur takut.

Takut mengecewakan orang tua. Sedih, karena sendirian di rantau.

Begitulah perasaan saya sekarang ini.

Semuanya campur aduk di tengah pandemi Covid-19 yang telah memaksa pemerintah dan rakyat di berbagai negara meniadakan berbagai aktivitas di ruang publik.

Soal Pembakaran Jembatan, Pemkab Pidie Surati Pemerintah Aceh

44,160 Ton Kopi Gayo Terancam Tidak Dibeli Buyer, Ini Permintaan DPRK Bener Meriah Kepada Pemerintah

Tahun ini Terjadi Empat Kali Supermoon, Lihat Tanggalnya

Di tengah prahara virus corona ini saya terima kabar dari keluarga di Banda Aceh.

Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja dan tidak ada seorang pun keluarga yang saya kenal terpapar virus ini.

Aktivitas belajar-mengajar di kampus-kampus seluruh AS kini praktis sudah tidak ada lagi yang berlangsung secara klasikal (tatap muka).

Tetapi semuanya berlangsung secara daring (online).

Texas Tech University, tempat saya kuliah, sebetulnya sudah terbiasa dengan metoda kuliah online karena memang dalam beberapa tahun terakhir beberapa mata kuliah dilayani secara daring atau e-learning.

Karena pembelajaran berlangsung daring, mahasiswa diberi kebebasan untuk tetap tinggal di kampus ataupun pulang ke kampung, tentu saja dengan tetap menjaga protokol pencegahan Covid-19.

Bagi saya sendiri, pilihan hanya satu, yakni tinggal di apartemen, sebab kalau saya pulang ke Aceh (Indonesia) secara finansial dan keimigrasian akan sangat sulit.

Namun, tinggal sendiri di apartemen juga suatu tantangan tersendiri, sepi dan nyaris menakutkan.

Itulah yang saya rasakan sekarang.

Sebelum musibah penyebaran virus ini terjadi, suasana di Kota Lubbock, Texas, Houston, tempat saya tinggal, senantiasa ramai.

Baik itu di apartemen, ruang kuliah, laboratorium, kantin, hingga taman-taman kampus saat jam istirahat penuh mahasiswa.

Terkadang kami bikin acara ngumpul-ngumpul, makan bareng, jalan-jalan, dan aneka aktivitas menyenangkan lainnya.

Kini sungguh sangat berbeda, suasana sedemikian sepi.

Tidak banyak orang yang berlalu lalang, serasa seperti di musim dingin.

Kampus berubah layaknya gedung-gedung hantu, menakutkan.

Untuk makan sehari-hari, saya suka masak sendiri di apartemen.

Sebelum dilanda wabah Covid-19, ketersediaan makanan sangat beragam dan sangat cukup.

Namun, selama pandemi Covid-19 ini ketersediaan makanan sangat-sangat terbatas, terutama untuk kebutuhan karbohidrat dan protein.

Sering kali stok makanan di supermarket habis sehingga harus menunggu lama agar dapat tersedia lagi.

Saat ini terjadi panic buying di mana-mana.

Saya kira sama persis dengan penduduk di negara lain sehingga stok bahan makanan dan lain-lain begitu cepat hilang di rak-rak belanja.

Untuk membeli kebutuhan sehari-hari memang tidak dibatasi, tapi kini justru terbatas ruang gerak karena harus mengikuti protokol social distancing.

Selain itu, tempat tinggal yang sedikit jauh dari market.

Banyak teman saya juga mengeluhkan hal yang sama.

Dua minggu lalu, masih ramai teman-teman yang tinggal di apartemen.

Kami sering pergi belanja jalan kaki sehingga jarak yang jauh tak begitu terasa.

Namun sekarang, hanya tinggal beberapa mahasiswa internasional saja yang tidak semuanya saya kenal.

Sebagian besar mahasiswa asal Amerika, seperti di kita, banyak yang pulang ke kampung halamannya masing-masing.

Kini hanya ada rekan dari India yang saya kenal. Ke mana-mana kami sering jalan kaki.

Sebabnya, transportasi publik telah dihentikan untuk sementara waktu.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dalam dua bulan ke depan, secara akademik maupun finansial.

Beberapa kali saya telepon orang tua di Aceh, mereka mengatakan bahwa mata uang dolar mengalami kenaikan yang signifikan di Indonesia saat ini, yakni di atas Rp 16.000/dolar.

Sedangkan saya harus makan dan bayar cicilan uang kuliah semester, dan uang tersebut harus datang dari Indonesia. Rupiah dikonversi ke dolar.

Saya khawatir kalau prahara corona ini berlarut-larut, impian saya untuk meraih gelar sarjana dalam waktu dekat bisa buyar.

Ini merupakan semester terakhir bagi saya.

Orang tua di Aceh sering menghibur supaya saya kuat dan sabar.

Saya terus berjuang agar dapat membanggakan keluarga sehingga perjuangan mereka di kampung tidak sia-sia.

Saya harus membuktikannnya.

Tak putus saya berdoa, semuanya saya serahkan kepada Allah Swt.

Wisuda kami awalnya direncanakan pada Mei 2020, tapi kini digeser ke bulan Agustus.

Semoga akhir musim panas mendatang (Agustus 2020) menjadi bulan yang menggembirakan bagi kami yang kini berada di Amerika Serikat dan Covid-19 berakhir, sehingga wisuda sarjana saya dapat terlaksana dengan baik.

Insyaallah. (shirra.irham@gmail.com) 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved