Larangan Mudik di Malaysia, Matnoe Nekat Berjalan Kaki Hingga 428 Km
Kebijakan lockdown, sekaligus larangan mudik, yang diterapkan Malaysia membuat Matnoe Poksu Din nekat berjalan kaki hingga ratusan kilometer
Unggahan Matnoe itu kemudian dibagikan istrinya, Sara Anisa, dan beberapa temannya. Unggahan ini mendapat banyak respons positif dari netizen, hingga menarik perhatian sejumlah media online dan media cetak di Malaysia, hingga Singapura.
Setelah tiga hari berjalan, Matnoe Poksu Din tiba di rumahnya pada 28 April pukul 11 malam. Berikut postingannya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:
"Alhamdulillah. Pukul 11 malam tadi selamat sampai rumah... terima kasih kepada yang mendoakan, memberi bantuan.. terutama terima kasih kepada s / u susah dato ' pa saudara Ahmad Nazree Ramli atas donasi yang diberikan. Dia banyak membantu perjalanan saya..."
Setelah itu, akun Facebook Matnoe Poksu Din dipenuhi dengan foto-foto kebahagiannya dengan sang anak dan istrinya. Postingan-postingannya memperlihatkan dia sedang berbahagia, karena pada tanggal 1 Mei kemarin, dia merayakan ulang tahun pernikahannya.
Matnoe pun memenuhi imbauan Pemerintah Malaysia untuk melakukan karantina mandiri di rumahnya.
Sebelumnya, seorang pria lain di Malaysia juga berjalan kaki dari Kota Kinabalu ke Kota Marudu sejauh 120 kilometer selama tiga hari. Dilansir dari Straits Times, Kamis (9/4), pria bernama Alixson Mangundok (34) memilih berjalan kaki dari Kota Kinabalu ke Marudu, agar tidak membuat khawatir orang-orang di dalam bus, karena dia baru saja kembali dari Jepang pada tanggal 25 Maret 2020.
"Setelah mencapai Bandara Internasional Kinabalu, saya di-screening. Pejabat kesehatan mengatakan saya baik-baik saja dan tidak menunjukkan gejala. Saya kemudian diminta pergi ke Rumah Sakit Queen Elizabeth untuk screening lebih lanjut," kata Alixson.
Setelah memberikan sampelnya di rumah sakit itu, dokter memberitahu Alixson agar menjalani karantina mandiri di rumah dan tidak diharuskan memeriksakan diri ke pusat karantina, sambil menunggu hasil tes. Karena statusnya yang belum jelas, ia memutuskan untuk berjalan kaki ke rumahnya di Marudu demi menghindari risiko penularan bagi banyak orang jika ternyata ia terinfeksi.
Begitulah di antara kisah anak manusia di saat wabah melanda. Ada yang memilih berjalan kaki ratusan kilometer demi bertemu anak istri, ada pula yang karena tak ingin membuat orang lain khawatir.(tribunjateng/nal)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/matnoe-dan-sepatu-yang-rusak.jpg)