Luar Negeri
Turki Bakar Dolar AS, Topang Lira dari Kejatuhan
Bank Sentral Turki membakar cadangan mata uang asing, terutama dolar AS untuk menopang mata uang Lira dari penurunan lebih tajam lagi.
SERAMBINEWS.COM, ANKARA – Bank Sentral Turki membakar cadangan mata uang asing, terutama dolar AS untuk menopang mata uang Lira dari penurunan lebih tajam lagi.
“Turki kemungkinan akan kehabisan cadangan dolar AS pada Juli 2020 mendatag,” kata para ekonom kepada Arab News, Sabtu (2/5/2020).
Presiden Recep Tayyip Erdogan juga menghadapi tantangan ekonomi ganda dari pandemi virus Corona.
Terutama meningkatnya biaya penguncian dan pembatasan pergerakan untuk mencegah penyebaran virus, dan COVID-19 akan mencegah ledakan turis pada musim panas ini.
Lira Turki telah turun 14 persen sejak Januari 2020, dan sekitar 36 persen dalam dua tahun terakhir ini.
Sebagai tanggapan, Bank Sentral Turki memasok 32 miliar dolar AS atau sekitar Rp 476 triliun dalam bentuk cadangan devisa ke bank-bank negara untuk mendukung Lira.
• Turki Pulangkan Puluhan Ribu Warga dari Berbagai Negara, Agar Mereka Bisa Ramadhan Bersama Keluarga
• Turki Catat 2.706 Kematian Corona
• Tak Sanggup Tangani Covid-19, Menteri Dalam Negeri Turki Ajukan Pengunduran Diri
Tetapi, cadangan mata uang kertas bank sentral turun menjadi 25,9 miliar dolar AS pada pertengahan April dari sekitar 40 miliar dolar AS pada awal tahun ini.
Seorang pedagang valuta asing memperkirakan cadangan bank sentral jatuh ke negatif minggu lalu, sebesar 2 miliar dolar AS.
"Tidak ada negara yang bisa menahan kerugian cadangan seperti itu untuk waktu yang lama," kata pedagang.
Analis di TD Securities memperkirakan Turki dapat kehabisan cadangan mata uang asing pada awal Juli jika tekanan pada mata uangnya terus meningkat.
Gubernur Bank Sentral, Murat Uysal telah mengakui pandemi COVID-19 telah menyebabkan kondisi luar biasa di keuangan perbankan.
Tetapi Wolfango Piccoli, seorang analis risiko politik di Teneo Intelligence di London, mengatakan kebijakan bank itu tidak berkelanjutan, karena tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengelola penurunan mata uang.
"Bahkan jika itu berhasil mendapatkan jalur swap dari Fed AS, itu hanya menunggu waktu, tetapi tidak akan memperbaiki masalah keuangan yang sedang berlangsung," katanya kepada Arab News.
"Dan swap ini berjumlah yang sangat terbatas, dan tidak mungkin memberikan ruang bernapas yang signifikan untuk mata uang tersebut."
Piccoli mengatakan kebijakan moneter dan fiskal Turki tidak memiliki kredibilitas di pasar dunia, dan upaya bank sentral untuk mempertahankan Lira membuat kredibilitansya semakin buruk.
Turki juga menghadapi jatuhnya industri pariwisata.
Laporan inflasi tahunan terbaru bank sentral memproyeksikan bahwa hilangnya pendapatan pariwisata juga bersamaan hilangnya lapangan kerja dan saldo neraca berjalan.
Kehilangan pendapatan pariwisata untuk sisa tiga kuartal tahun ini dapat mencapai 25 miliar dolar AS.
Para ahli juga mencatat bahwa sekitar dua pertiga dari pendapatan pariwisata ini dikumpulkan pada musim panas, yang juga akan hilang karena efek berkelanjutan dari pandemi virus Corona.
1 Lira Turki sekitar Rp 2.121 atau 0,14 dolar AS.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/petir-di-turki.jpg)