Luar Negeri

Bumi Semakin Panas, Orang Akan Mati Tanpa AC, Apa Iya? Ini Penjelasannya

Diperkirakan, hanya dalam 50 tahun lagi atau tahun 2070, sebanyak 2 miliar hingga 3,5 miliar penduduk Bumi, sebagian besar berstatus orang miskin

AFP/dpa/File /Hauke-Christian Dittrich
Para ilmuwan telah mempermasalahkan penelitian misterius pemerintah AS tentang sinar matahari dapat mengurangi kelangsungan hidup virus Corona. 

SERAMBINEWS,COM, KENSINGTON –  Suhu Bumi tampaknya terus meningkat dari tahun ke tahun-tahun akibat warming global atau pemanasan global.

Diperkirakan, hanya dalam 50 tahun lagi atau tahun 2070,  sebanyak 2 miliar hingga 3,5 miliar penduduk Bumi, sebagian besar berstatus orang miskin, tidak akan mampu membeli AC.

Mereka akan hidup dalam iklim yang secara historis terlalu panas untuk tubuh manusia, sebuah studi baru melaporkan pada Senin (4/5/2020).

Dilaporkan, dengan setiap kenaikan suhu 1,8 derajat Fahreinheit atau 1 derajat Celcius setiap tahun, maka sekitar satu miliar orang akan berakhir tragis, karena tidak mampu membeli alat pendingin atau AC.

Menurut ahli ekologi, Marten Scheffer dari Universitas Wageningen di Belanda, banyak orang yang akan bergantung dari seberapa banyak emisi karbon dioksida untuk mengurangi suhu Bumi dan seberapa cepat populasi dunia tumbuh.

Hrithik Roshan Bagi Selfie Berjemur di Matahari Pagi

Satelit NASA Ini Nyaris Menyentuh Matahari, Pecahkan Rekor

Donald Trump Klaim Sinar Mahatari Dapat Mematikan Virus Corona, Begini Tanggapan Ilmuwan

Dilansir AFP, Selasa (5/5/2020), di bawah skenario terburuk atas meningkatnya populasi dan polusi karbon , sebaliknya karbon dioksida terus berkurang, maka sekitar 3,5 miliar orang tinggal di daerah sangat panas.  

“Itu sepertiga dari proyeksi jumlah penduduk Bumi pada 2070,” lapor studi dalam jurnal Senin, oleh Prosiding National Academy of Sciences

Bahkan, tanpa skenariopun, dalam 50 tahun mendatang, beberapa miliar orang akan tinggal di tempat yang terlalu panas tanpa AC, kata studi tersebut.

“Ini jumlah yang besar dalam waktu yang singkat. Itulah sebabnya kami khawatir, '' kata ilmuwan iklim, Natalie Mahowald dari Cornell University, yang bukan bagian dari penelitian.

Dia dan ilmuwan luar lainnya mengatakan studi baru ini masuk akal dan harus ada perubahan iklim buatan manusia dari penelitian sebelumnya.

Halaman
12
Editor: M Nur Pakar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved