Senin, 20 April 2026

Berita Aceh Barat

Permintaan Ikan Ekspor Berkurang, Nelayan di Meulaboh tak Melaut

Sebagian besar nelayan di Meulaboh tidak melaut lagi akibat dampak dari Corona Virus Disease (Covid-19) di wilayah itu.

Penulis: Sadul Bahri | Editor: Taufik Hidayat
Serambinews.com
Puluhan boat nelayan ditambatkan di kawasan TPI Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Sabtu (16/5/2020). 

Laporan Sa'dul Bahri | Aceh Barat

SERAMBINEWS.COM, MEULABOH - Puluhan boat nelayan di kawasan Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat dilaporkan, sebagian besar tidak bisa melaut lagi akibat dampak dari Corona Virus Disease (Covid-19) di wilayah itu.

Hal itu terjadi akibat minimnya permintaan dan penampung ikan ekspor seperti di Sibolga, Medan, sehingga kondisi tersebut mengakibatkan aktifitas nelayan untuk melaut banyak yang dihentikan.

Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), Aceh Barat Erwin Mahdi yang juga pengusaha hasil perikanan dan keluatan kepada Serambi, Sabtu (16/5/2020) mengatakan, keluhan besar yang dihadapi nelayan saat ini adalah salah modal yang di keluarkan tidak sesuai lagi dengan pendapatan atau hasil tangkapan.

Artinya, modal yang dikeluarkan seperti untuk boat 10 GT sebesar Rp 15 juta setiap berangkat melaut, termsuk BBM dan kebutuhan lainnya, namun uang yang kembali hanya Rp 4 juta.

“Permintaan ikan saat ini sudah sangat minim sejak terjadinya penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19), sehingga hasil tangkapan yang banyak ini tidak sesuai lagi dengan permintaan, kami sebagai toke bangku selau nombok,” ujar Erwin.

Disebutkan, kondisi yang sedang dialami oleh nelayan saat ini perlu adanya perhatian serius dari pemerintah bagaimana solusi yang bisa diberikan pemerintah kepada nelayan kian terhimpit ekonominya.

Disebutkan, pihaknya yang selama ini menampung semua pembiayaan untuk sebagian nelayan terhadap untuk kebuhan belanja melaut kini sudah kewalahan, hal itu akibat daya beli sudah kurang termasuk harganya yang tidak sesuai lagi.

Disebutkan, bahwa selama ini banyak ikan yang terbuang akibat kibat tidak ada yang beli. Sementara boat 10 GT ke atas itu harus memiliki modal besar Rp 15 hingga Rp 20 juta setiap kali melaut, sebab mereka berminggu-minggu di laut.

Sebelum terjadinya Covid-19 ini, kesejahteraan nelayan cukup, dengan hasil tanggkapan memliki harga jual yang tinggi serta banyaknya permintaan.

“Dalam kondisi seperti ini kita berharap ada kebijakan dan solusi dari pemerintah terhadap nelayan di Aceh Barat ini,” harapnya.

Sementara Sekjen Panglima Laot Aceh Barat Nanda Fersiansyah meminta pemerintah setempat untuk memberikan perhatian kepada nelayan melalui dana Covid-19. Sehingga nelayan bisa terbantu dalam mengembangkan usaha ekonomi melalui melaut.

“Kita berharap dengan situasi saat ini para nelayan kita harapkan bisa menerima bantuan sosial dan sulusi lainnya, sebab dampak yang dirasakan oleh nelayan juga sudah sangat parah, karena kurang lakunya hasil tangkapan,” ujarnya.

Pihaknya mengaku, cukup banyak nelayan mengeluh masalah pendapatan ekonomi mereka yang kian anjlok saat ini.

Hal itu muncul akibat dampak Covid-19, ikan yang didapatkan ber tonton itu terkadang ada yang harus di buang, sebab tidak ada yang menampungnya, sehingga banyak nelayan yang tidak melaut lagi.(*)

Jalan Protokol Langsa Semakin Padat dan Sulit Dilalui Kendaraan, Pemko Harus Segera Bertindak

Indonesia Masuk Dalam Daftar Tradisi Unik Puasa, Ini 6 Tradisi Ramadhan Paling Unik di Dunia

Kisah Sedih Anak Yatim di Hari Raya Idul Fitri yang Membuat Nabi Muhammad Terenyuh

Nelayan Ini Dapat Ikan Pari Raksasa Seberat 280 Kilogram, Begini Cara Menaklukkannya

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved