Minggu, 3 Mei 2026

Luar Negeri

Tentara Myanmar Buimihanguskan Rumah Muslim Rohingya di Rakhine

Tentara Myanmar dituduh membumihanguskan rumah Muslim Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh dan sejumlah negara lainnya

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/Handout
Gambar satelit dari Planet Labs yang diambil 16 Mei 2020 dan dirilis oleh Human Rights Watch pada 26 Mei 2020 menunjukkan Desa Let Kar di Negara Bagian Rakhine Myanmar dibumihanguskan oleh tentara Myanmar. 

SERAMBINEWS.COM, RAKHINE – Tentara Myanmar dituduh membumihanguskan rumah Muslim Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh dan sejumlah negara lainnya.

Diperkirakan, 200 rumah dan bangunan lain dihancurkan oleh amukan api di negara yang dilanda konflik itu.

Dalam insiden itu memiliki semua ciri  pembakaran oleh militer terhadap desa-desa, kata sebuah kelompok hak asasi manusia (HRW) Selasa (26/5/2020).

Desa Kar di negara bagian barat laut Rakhine sebagian besar kosong, ketika rumah dan gedung terbakar pada 16 Mei 2020 setelah penduduk Muslim melarikan diri setahun lalu.

Human Rights Watch menggambarkan hal itu berdasarkan gambar-gambar dan foto satelit.

Militer Myanmar telah terlibat dalam perang yang semakin brutal melawan Tentara Arakan (AA), gerilyawan yang memperjuangkan otonomi bagi umat Muslim Rakhine sejak Januari tahun lalu.

Konflik itu telah menewaskan puluhan orang dan memaksa 150.000 orang meninggalkan rumah mereka.

Baik militer dan AA menyangkal bertanggung jawab atas kehancuran Desa Let Kar di Kota Mrauk U, menuduh yang lain melakukan.

Dilansir AFP, Selasa (26/5/2020), HRW tetap memberi peringatan bahwa aksi itu masuk kategori kejahatan perang.

"Pembakaran desa Let Kar bercirikan ala militer Myanmar terlihat jelas di desa-desa Muslim Rohingya dalam beberapa tahun terakhir ini," kata Phil Robertson, Wakil Direktur HRW Asia.

"Investigasi yang kredibel dan tidak memihak sangat diperlukan untuk mencari tahu apa yang terjadi,” ujarnya.

Dia berharap ada hukuman bagi pelaku pembakaran dan memberikan kompensasi kepada warga desa yang dirugikan.

Gambar satelit dari Planet Labs yang diambil pada 16 Mei 2020 dan dirilis oleh Human Rights Watch pada 26 Mei 2020.

Rakhine adalah negara bagian, di mana tindakan keras militer 2017 memaksa sekitar 750.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

Kekerasan itu telah menyebabkan Myanmar menghadapi tuduhan genosida di pengadilan tinggi PBB.

Robertson menambahkan pemerintah harus meminta bantuan PBB dalam penyelidikan dan tidak menyerahkannya kepada militer.

DK PBB Bahas Pembantaian Tentara Myanmar di Rakhine

Dua Bocah Rohingya Meninggal dalam Ledakan Ranjau Darat di Rakhine, Arsu: Tentara Myanmar Diam Saja

Tentara Myanmar Tembak Dua Desa Muslim di Kota Kyauktaw, Lima Orang Terluka

Kyaw Zaw Hla (46)  yang telah tinggal di sebuah kamp dekat desa itu bersama keluarganya sejak melarikan diri, membenarkan rumahnya termasuk di antara yang rata dengan tanah.

"Kami kehilangan segalanya," katanya kepada AFP melalui telepon.

"Kami tidak bisa mencari nafkah dan tidak memiliki akses ke perawatan kesehatan," tambahnya.

Foto-foto yang dikeluarkan oleh angkatan bersenjata menunjukkan pemberontak AA melarikan diri setelah membakar desa, kata jurubicara militer Myanmar, Zaw Min Tuna pada  Jumat (22/5/2020).

Kelompok AA juga membantah melakukan pembakaran.

Daerah yang dilanda konflik berada di bawah penutupan internet dan terlarang bagi wartawan, membuat pelaporan independen menjadi sulit.

Pakar hak asasi manusia, Yanghee Lee bulan lalu memperingatkan militer Myanmar harus diselidiki untuk kemungkinan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan.

Lee menuduh angkatan bersenjata Myanmar melakukan penghilangan paksa, menyiksa dan membunuh puluhan tersangka AA , sebuah tuduhan yang dibantah militer.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved