False Negative atau Positive Itu Hal Lumrah dalam Tes Swab

Menutur Dr Mahlil Ruby, hasil swab yang tak konsisten (tidak taat asas) itu merupakan hal yang lumrah dalam pemeriksaan

Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Amirullah
Istimewa
Dr. dr. Mahlil Ruby, M.Kes 

Laporan Yarmen Dinamika l Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM., BANDA ACEH - Seorang dokter yang juga doktor asal Aceh yang kini bekerja di lembaga donor Amerika, USAID Jakarta, Dr. dr. Mahlil Ruby, M.Kes, tertarik mengomentari hasil swab pasien I (38), warga Banda Aceh yang hasilnya tidak konsisten.

Pertama, tanggal 26 Mei 2020 hasil swab real time polymerase chain reaction (RT PCR) pria yang berprofesi kontraktor ini negatif corona.

Selang sehari positif dan dua hari kemudian negatif lagi, padahal belum mengonsumsi obat apa pun.

Menutur Dr Mahlil Ruby, hasil swab yang tak konsisten (tidak taat asas) itu merupakan hal yang lumrah dalam pemeriksaan spesimen lendir tenggorokan pasien corona atau mereka yang berstatus orang dalam pemantauan maupun orang tanpa gejala (OTG).

"Itu namanya false negative dan false positive," kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dan juga alumnus Universitas Indonesia ini kepada Serambinews.com, Minggu (31/5/2020) siang.

Mahlil yang menjabat Technical Lead di USAID Jalin ini menerangkan bahwa kondisi false negative dan false positive ini bisa terjadi karena kesalahan pengambilan spesimen atau swab.

Dipecat dan Dituntut Pasal Pembunuhan, Polisi Terlibat Tewasnya George Floyd Juga Dicerai Istrinya

Hasil Swab Warga Peusangan Negatif, Ini Penjelasannya

OTG asal Banda Aceh yang Positif Corona Dites Swab 2 Kali, 26 Mei Hasilnya Negatif, Esoknya Positif

"False negative terjadi karena yang di-swab tidak persis di tenggorokan pasien, tapi masih di bagian mulut," kata Mahlil menyebutkan salah satu penyebab hasil swab yang negatif.

Penyebab lainnya adalah perlakuan pengiriman kapas swab ke lab yang tidak baik atau pemeriksaan yang salah prosedur.

Selain itu, kata Mahlil Ruby, bisa saja karena kesalahan teknisi yang mengambil spesimen swab, karena keterampilan setiap orang memang beda-beda.

Dalam hal terjadinya false positive, menurut Mahlil, bisa saja karena kesalahan dalam membaca atau reagensia dan sampelnya tercemar.

"Sebenarnya, setiap uji lab ada yang disebut validasi. Diambil beberapa sampel lab dan diuji lagi. Jika hasilnya terjadi false hanya 5 persen maka hal itu dianggap cukup valid," kata dokter yang spesialisasinya di bidang pembiayaan kesehatan ini.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr Hanif mengatakan, perbedaan hasil swab terhadap pasien I memang tergolong unik.

Coba Kabur Akibat Kelaparan saat Corona, Suami Istri Ditembak Mati Atas Perintah Kim Jong Un

Berbahaya! Jangan Simpan Hand Sanitizer di Mobil dalam Waktu Lama, Begini Penjelasannya

Pada 26 Mei, hasil swab-nya negatif. Lalu diperiksa lagi tanggal 27 Mei, hasilnya positif. Tanggal 28 Mei, hasil swab yang positif itu dipublikasi Serambinews.com.

Kemudian, tanggal 29 Mei 2020 setiba di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh langsung dilakukan pengambilan spesimen lendir dari tenggorokan I, sebelum ia mengonsumsi obat apa pun.

Seperti biasa, spesimen itu diperiksa di tempat yang sama, yakni Laboratorium Balitbangkes Aceh di Gampong Bada, Aceh Besar.

"Nah, kali ini hasilnya kembali negatif. Tapi pasien belum kita izinkan untuk meninggalkan RSUZA karena masih harus diperiksa sekali lagi swab tenggorokannya," kata Hanif.

Apabila pemeriksaan berikutnya menunjukkan hasil yang konsisten, yakni tetap negatif, barulah pasien I dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang.

Dokter Hanif mengaku hasil tes pasien I selalu berubah-ubah.

Fakta, Penyebab Utama Sahrul Gunawan dan Una Maulina Gagal Menikah Diungkap, Singgung Soal Takdir

Sahrul Gunawan Batal Nikahi Gadis Aceh, Una Maulina Ungkap Alasan Hubungannya Kandas

Fenomena seperti itu bukan hal langka dalam kasus Covid-19. Sebelum ini setidaknya ada satu pasien di Aceh yang hasil swab-nya juga tak konsisten, yakni As (46) asal Manggeng, Aceh Barat Daya.

Berdasarkan rapid test, perempuan ini dinyatakan positif corona. Setelah diswab di RSUZA, hasilnya negatif. Lalu ia diizinkan pulang.

Menjelang pulang spesimen lendir tenggorokannya diambil lagi. Hasil pemeriksaan swab-nya yang kedua ternyata positif. Ia dijemput dan dirawat lagi di RSUZA. Selang seminggu barulah hasilnya negatif.

Menurut Hanif, pasien I awalnya bukan ODP, juga bukan PDP. Dia justru orang tanpa gejala (OTG) Covid-19.

Ia ketahuan positif corona justru karena melakukan pemeriksaan swab mandiri saat hendak bepergian ke Jakarta.

"Karena mau ke luar daerah, lalu ia jalani pemeriksaan RT PCR. Dan ternyata hasilnya ia positif Covid-19," ungkap Hanif, Kamis (28/5/2020) lalu.

Hanif menduga, karena I adalah OTG jadi belum begitu banyak virus atau kuman di tenggorokannya. Saat pengambilan spesimen melalui swab bisa jadi virusnya sekali didapat, tapi lain waktu tidak. Itulah sebab mengapa saat diperiksa di lab hasilnya kadang negatif, kadang positif.

Makin Diminati, Jepang, Inggris dan Taiwan Setuju Penggunaan Remdesivir untuk Pasien Corona

Sebagaimana diberitakan terdahulu, sang kontraktor yang baru pulang dari Jakarta dan Medan, Sumatera Utara ini sudah dua kali menjalani pemeriksaan swab RT PCR di Laboratorium Balitbangkes Aceh.

Hasilnya sekali negatif, sekali positif corona. Hasil terbaru negatif lagi.

Kepada petugas, I mengaku sebelumnya ada melakukan perjalanan ke Medan, kawasan yang dinyatakan sebagai zona merah penyebaran corona di Sumatra.

Ia bahkan sempat melawat ke Sigli, Pidie, kemudian mengantar istrinya ke Susoh, Aceh Barat Daya. Kemudian menuju Tapaktuan dan jalan darat ke Medan. Dari Medan baru kembali ke Banda Aceh.

Karena hendak ke Jakarta lagi, lalu dia lakukan pemeriksaan swab mandiri. Dari sinilah akhirnya ketahuan bahwa ia positif Covid-19.  (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved