Breaking News:

Opini

Aquaculture Solusi Krisis Pangan  

Sudah lebih dari 5 bulan Covid-19 muncul dan menginfeksi lebih dari 4 juta orang di seluruh dunia, tidak hanya menyebabkan

Aquaculture Solusi Krisis Pangan   
IST
Dedi Fazriansyah Putra, Akademisi Perikanan Budidaya FKP Unsyiah, Anggota MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) Unsyiah

Oleh Dedi Fazriansyah Putra, Akademisi Perikanan Budidaya FKP Unsyiah, Anggota MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) Unsyiah

Sudah lebih dari 5 bulan Covid-19 muncul dan menginfeksi lebih dari 4 juta orang di seluruh dunia, tidak hanya menyebabkan ratusan ribu korban jiwa yang tewas namun juga memukul sektor makro dan mikro ekonomi. Berbagai kebijakan telah dilakukan beberapa negara untuk menghambat penyebaran virus corona seperti karantina wilayah (lockdown).

Sedangkan Pemerintah Indonesia telah menerapkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Aturan pembatasan tersebut tidak pelak memicu dampak lain bagi seluruh dunia seperti terputusnya rantai distribusi pangan, penimbunan barang akibat `panic buying' yaitu (pembelian karena panik atau "penimbunan berdasarkan rasa takut) yang menyebabkan naiknya harga barang sehingga memicu ancaman `krisis pangan'.

Jauh-jauh hari Badan Organisasi Pangan Dunia (Food Agriculture Organization/FAO) juga telah memprediksi bahwa pandemi Covid-19 akan berdampak terhadap krisis pangan dunia. Dikutip dari berbagai sumber, beberapa negara pengekspor bahan pangan seperti Vietnam, India, Thailand juga sudah mengurangi kegiatan ekspor barangnya ke Indonesia sebagai langkah antisipatif menjaga ketersediaan pangan dalam negeri mereka.

Dari permasalahan di atas sudah saatnya kita waspada dan melakukan antisipasi menjaga ketahanan pangan mulai dari keluarga. Mengubah pola kehidupan kita dari hidup konsumtif yang hanya berorientasi kepada membeli barang menuju ke pola hidup produktif, yaitu orientasi menghasilkan suatu produk atau barang.

Tercukupinya kebutuhan pangan rumah tangga adalah indikator ketahanan pangan suatu negara. Menurut Undang-Undang Pangan No.7 Tahun 1996, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Konsep-konsep kemandirian pangan rumah tangga seperti pertanian urban (urban farming) merupakan pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam kondisi pandemi saat ini. Konsep ini tidak hanya melakukan kegiatan bertanam sayuran, namun secara umum juga melibatkan kegiatan perikanan (aquaculture), peternakan dan sebagainya.

Salah satu kegiatan dari family farming yang merupakan implementasi dari program kemandirian pangan di tingkat rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan protein hewani adalah family aquaculture. Family aquaculture merupakan kegiatan budidaya ikan dalam wadah terkontrol yang dilakukan pada lahan rumah tangga (keluarga) atau pekarangan yang terbatas. Beberapa manfaat akuakultur keluarga adalah 1) untuk memenuhi kebutuhan gizi/protein hewani rumah tangga, 2) produksi surplus dapat dijual sehingga menambah pendapatan sampingan, 3) mengurangi stress tekanan baik tekanan kerja maupun semasa isolasi di rumah, 4) mengurangi polusi udara (model akuaponik).

Adapun beberapa metode atau teknik akuakultur keluarga dikutip dari berbagai penelitian dijelaskan sebagai berikut.

a. Budidaya ikan di kolam terpal. Budidaya ini dapat menjadi pilihan bagi setiap rumah tangga. Lahan yang diperlukan juga tidak perlu terlalu luas dan wadahnya tidak perlu dari beton maupun tanah, sehingga menghemat uang. Kebutuhan air juga tidak terlalu besar sehingga tidak membebani tagihan air bulanan.

Wadah yang digunakan adalah terpal ataupun baliho spanduk yang masih bagus yang ukurannya sesuai dengan luas lahan yang dimiliki. Dinding kolam dapat dibuat dari kayu, bambu ataupun besi tergantung kemampuan dana. Jenis-jenis ikan yang dibudidayakan adalah ikan konsumsi air tawar seperti lele, ikan nila, ikan gabus, ikan mas, dan lain-lain.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan kolam terpal ini adalah pengecekan terpal terlebih dahulu dengan diisi air untuk mendeteksi adanya kebocoran. Saluran pembuangan juga bagus dibuat untuk mengurangi energi menguras air. Persiapan pakan alami dengan pemupukan juga sebaiknya dilakukan karena wadah terpal tidak memiliki unsur nutrient alami sebagaimana kolam tanah. Pemberian pakan ikan tergantung dari jenis ikan, ukuran dan kebutuhan ikan dengan frekuensi 2-3 kali sehari.

Para pembudidaya ikan sebaiknya memperhatikan ikan setiap harinya karena akan ada ikan yang mengalami pertumbuhan pesat dan pertumbuhan lambat, keduanya harus disortir dan dipisahkan. Hal tersebut terjadi kemungkinan karena adanya persaingan makanan antara ikan dan dipisahkan untuk menghindari kanibalisme dan ketimpangan ukuran. Saat panen, penentuan panen sebagian atau panen total ditentukan berdasarkan bobot ikan maupun kebutuhan pasar akan jenis ikan yang dibudidayakan.

Penerapan teknologi bioflok juga menarik bagi pembudidaya ikan yang haus akan inovasi. Bioflok adalah gumpalan-gumpalan kecil yang tersusun dari sekelompok mikroorganisme (bakteri) hidup yang melayang-layang di dalam air. Bioflok ini memiliki beberapa keuntungan, di antaranya adalah mendaur ulang kotoran/sisa pakan menjadi pakan bernutrisi tinggi, tidak perlu (sedikit) ganti air sehingga hemat biaya, menstabilkan pH dan lebih ramah lingkungan. Adapun kekurangan dari teknologi ini adalah membutuhkan komponen aerasi yang cukup banyak untuk suplai oksigen dan kebutuhan listrik yang tinggi karena aerasi yang harus selalu hidup.           

b. Teknologi akuaponik (integrasi budidaya ikan dan sayuran). Selain memproduksi single produk ikan, family aquaculture juga dapat mengintegrasikan teknik budidaya ikan dan tanaman. Umumnya tanaman yang diintegrasikan adalah jenis sayur-sayuran seperti bayam, kangkung, dan lainnya. Sistem akuaponik terdiri dari bagian hidroponik, dimana tanaman tumbuh dan bagian akuakultur dimana ikan dipelihara. Hubungannya adalah simbiosis atau saling menguntungkan. Sisa kotoran ikan dan sisa pakan yang berakumulasi berlebihan dapat bersifat racun bagi ikan. Namun dalam teknologi ini sisa pakan tersebut dialirkan ke tumbuhan sehingga menjadi nutrisi. Di sisi lain, tumbuhan juga berfungsi sebagai filter air sehingga air yang tersaring dapat kembali digunakan untuk budidaya ikan.   

c. Budikdamber (budidaya ikan dalam ember). Teknik budiddamber ini adalah turunan dari teknologi akuaponik. Prinsipnya adalah memelihara ikan sekaligus tanaman dalam ember. Ember yang digunakan biasanya berukuran 80-100 liter. Ukuran wadah ember ini dapat digunakan untuk menebar 80-100 ekor benih ikan lele. Sedangkan wadah media tanam (pot) yang digunakan biasanya gelas minuman plastik yang diikat dengan kawat di mulut ember.

Jenis tanaman yang digunakan bisa kangkung, pakcoy dengan media tanam arang ataupun batu apung. Yang harus diperhatikan dalam sistem ini adalah sebagian pot/gelas plastik harus terendam dengan air sehingga tanaman mendapatkan nutrisi dari media air budidaya ikan tersebut. Pemanenan sayuran maupun ikan dapat dilakukan sekitar 2-4 bulan dari waktu tebar.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi Covid-19 dapat mengubah orientasi kehidupan masyarakat dunia. Perubahan trend dan orientasi turut berperan penting terhadap strategi pemenuhan kebutuhan pokok manusia itu sendiri. Pola konsumtif sudah saatnya ditinggalkan menjadi produktif dalam memenuhi kebutuhan pangan manusia.

Kesadaran akan kemandirian pangan di level keluarga harus menjadi pertimbangan penting untuk mewujudkan kemandirian pangan suatu negara.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved